LAPORAN ANGKA KEJADIAN HAIs (HEALTHCARE ASSOCIATED INFECTIONS) BULAN APRIL-JUNI 2017

Kategori : Artikel Kamis, 16 November 2017

LAPORAN KEJADIAN INFEKSI
RUMAH SAKIT JIWA ACEH - BULAN APRIL-JUNI 2017

A. Distribusi Kejadian HAIs
Berikut ini distribusi kejadian HAIs di Rumah Sakit Jiwa Aceh Bulan April-Juni Tahun 2017:
Tabel 1. Laporan Kejadian HAIs di Rumah Sakit Jiwa Aceh bulan April-Juni Tahun 2017

 

 

Berdasarkan data pada gambar diatas dapat diketahui bahwa kejadian HAIs yang sering terjadi pada bulan April-Juni 2017 di Rumah Sakit Jiwa Aceh adalah Tinea  dan  Kutu.

 

Tabel 2. Kejadian HAIs di RS Jiwa Aceh bulan April-Juni Tahun 2017 berdasarkan ruangan

 

 

B. Kejadian HAIs (Healthcare Associated Infection)

 

1. Tinea

Berikut ini laporan angka kejadian Tinea di Rumah Sakit Jiwa Aceh bulan April-Juni 2017

 

Tabel 3. Laporan Angka Kejadian Tinea di Rumah Sakit Jiwa Aceh bulan April-Juni 2017

 

Berdasarkan data pada gambar diatas dapat diketahui bahwa angka kejadian Tinea pada bulan April-Juni 2017 bersifat fluktuatif, yaitu mengalami kenaikan dan penurunan pada periode tertentu. Angka kejadian infeksi Tinea tertinggi ada bulan April sebesar 4,6 %  dan angka kejadian infeksi Tinea terendah pada bulan Mei sebesar 1,8 %.

 

2. Kutu

Berikut ini laporan angka kejadian Kutu di Rumah Sakit Jiwa Aceh periode bulan April-Juni 2017

 

Tabel 4. Laporan angka kejadian Kutu di Rumah Sakit Jiwa Aceh April-Juni 2017

 

Berdasarkan data pada gambar diatas dapat diketahui bahwa angka kejadian Kutu pada bulan April-Juni 2017 bersifat fluktuatif, yaitu mengalami kenaikan dan penurunan pada periode tertentu. Angka kejadian infeksi Kutu tertinggi ada bulan April sebesar 4,3 % dan angka kejadian infeksi Kutu terendah pada bulan Mei sebesar 1,8 %.

 

3. Skabies

Berikut ini laporan angka kejadian Skabies di Rumah Sakit Jiwa Aceh bulan April-Juni 2017

 

Tabel 5. Laporan kejadian Skabies di Rumah Sakit Jiwa Aceh bulan April-Juni 2017

 

 

Berdasarkan data pada gambar diatas dapat diketahui bahwa angka kejadian Skabies pada bulan April-Juni 2017 bersifat fluktuatif, yaitu mengalami kenaikan dan penurunan pada periode tertentu. Angka kejadian infeksi Skabies tertinggi ada bulan Mei sebesar 1,5 % dan angka kejadian infeksi Skabies terendah pada bulan April sebesar 0,6 %.

 

4. Phlebitis

Berikut ini laporan angka kejadian Phlebitis di Rumah Sakit Jiwa Aceh bulan April-Juni 2017

 

Tabel 6. Laporan kejadian Phlebitis di Rumah Sakit Jiwa Aceh bulan April-Juni 2017

 

 

Berdasarkan data pada gambar diatas dapat diketahui bahwa angka kejadian Phlebitis pada bulan April-Juni 2017 mengalami peningkatan. Angka kejadian Phlebitis tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu sebesar 100‰. Angka tersebut diatas diatas standar angka phlebitis yakni ≤ 5 ‰.

 

5. ISK

Berikut ini laporan kejadian ISK di Rumah Sakit Jiwa Aceh periode bulan April-Juni 2017

 

Tabel 7. Laporan kejadian ISK di Rumah Sakit Jiwa Aceh bulan April-Juni 2017

 

Berdasarkan data pada gambar diatas dapat diketahui bahwa angka kejadian ISK pada bulan April-Juni 2017 adalah 0 ‰ atau tidak ada kejadian infeksi ISK yang terjadi setelah pemasangan kateter urin.

 

 

C. Analisa
1. Angka kejadian Tinea : Jumlah kasus yang disurvey 945 pasien, rata-rata angka kejadian Tinea 3,1 % (29 pasien yang terinfeksi)


2. Angka kejadian Kutu : Jumlah kasus yang disurvey 945 pasien, rata-rata angka kejadian Kutu 3,0 % (28 pasien yang terinfeksi)


3. Angka kejadian skabies : Jumlah kasus yang disurvey 945 pasien, rata-rata angka kejadian Skabies 3,1 % (9 pasien yang terinfeksi)


4. Angka kejadian phlebitis : Jumlah pasien yang dipasang infus 35 pasien, yang mengalami phlebitis 4 pasien, jumlah hari pemasangan infus 106 hari, rata-rata angka kejadian Phlebitis 38 ‰.


5. Angka kejadian ISK : Jumlah pasien yang dipasang kateter urin 3 pasien, angka kejadian ISK 0 ‰ atau tidak ada pasien terinfeksi ISK setelah pemasangan kateter urin.

D. Evaluasi


1. Angka kejadian phlebitis di RS Jiwa Aceh di bulan April 22‰, Mei 25‰ dan Juni 100‰. Munculnya peningkatan angka kejadian phlebitis dapat disebabkan oleh :
   a. Pasien dengan gangguan jiwa sering melepas paksa sendiri infusnya tanpa sepengetahuan petugas           sehingga tidak adanya prosedur aseptik yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi dilokasi                   pemasangan infus
   b. SPO pemasangan infus tidak berjalan dengan baik
   c. Kurangnya kepatuhan cuci tangan petugas ketika pemasangan infus


2. Belum terdapat persamaan persepsi para petugas bale Melur dalam pengisian form surveilance. Masih ada sebagian form yang tidak terisi jumlah hari pemasangan infus tiap pasien. Padahal form tersebut harus dicatat tiap harinya sesuai dengan kondisi atau masalah infeksi yang ada pada pasien saat dirawat di bale Melur


3. Masih kurangnya fasiitas cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir


4. Kurangnya pemakaian APD yang memadai bagi petugas saat melakukan prosedur aseptik.

 

E. Upaya Tindak Lanjut


1. Mengumpulkan formulir surveilance di setiap ruang rawat inap tiap bulan
2. Berkoordinasi dengan kepala ruangan rawat inap saat terjadi infeksi nosokomial dan infeksi yang              berpotensi menjadi KLB
3. Melakukan penyuluhan bagi petugas di setiap ruangan mengenai cuci tangan dan APD
4. Pengawasan dalam hal menjaga kesterilan melakukan tindakan pemasangan infus.
5. Melakukan sosialisasi dan pelatihan pemasangan infus di ruang bale Melur
F. Rekomendasi


1. Mohon kepada pihak manajemen RS untuk mengadakan fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air di      bale melur


2. Mohon kepada pihak manajemen RS untuk dapat menyediakan bed pasien di bale melur yang dilengkapi dengan fasilitas restrain, karena ketika dipasang infus pada pasien, pasien mengamuk dan mencabut infus paksa.

 

 

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32