Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Indeks Berita

FDA: Perempuan Bisa Minta Pil Aborsi dari Dokter Lewat Telemedisin

Rabu, 14 April 2021 Pejabat Badan Urusan Pangan dan Obat-Obatan Amerika (Food and Drug Administration/FDA), Selasa (13/4), mengatakan pada masa perebakan pandemi virus corona ini, perempuan yang memerlukan pil aborsi tidak lagi diharuskan untuk bertemu langsung dengan dokter di klinik atau kantornya. Langkah ini merupakan perubahan signifikan dalam pertarungan hukum yang masih berlangsung terkait obat aborsi.  FDA mengumumkan perubahan kebijakan itu dalam surat yang ditujukan kepada American College of Obstetricians and Gynecologists, satu dari sejumlah kelompok medis yang mengajukan gugatan hukum terhadap pembatasan yang diberlakukan pada era pemerintahan Trump itu.  Penjabat FDA Dr. Janet Woodcock mengatakan FDA telah mengkaji beberapa penelitian baru-baru ini, “yang tampaknya tidak menunjukkan peningkatan kekhawatiran atas keamanan yang serius” ketika perempuan minum pil aborsi tanpa terlebih dahulu mendatangi fasilitas kesehatan dan mebahas risiko obat itu, termasuk potensi pendarahan dalam. Perubahan itu memuluskan jalan bagi perempuan yang ingin mendapatkan resep pil aborsi – yang dikenal sebagai mifepristone – lewat telemedisin atau layanan konsultasi kesehatan jarak jauh dan kemudian menerima obat itu lewat pos.  Namun, mereka yang menentang aborsi telah mendorong aturan hukum di sejumlah negara bagian yang dipimpin oleh gubernur dari Partai Republik, supaya tidak mempermudah akses untuk mendapatkan pil aborsi.  Obat aborsi telah tersedia di Amerika sejak 2000 ketika FDA menyetujui penggunaan mifepristone. Sekitar 40 persen dari seluruh kasus aborsi di Amerika kini dilakukan lewat obat-obatan, dibanding lewat operasi. Opsi itu menjadi semakin penting ketika pandemi virus corona merebak. FDA tahun lalu mencabut aturan yang mengharuskan mereka yang membutuhkan semua jenis obat untuk menemui langsung dokter, termasuk untuk obat-obatan yang dikontrol ketat seperti methadone. Namun, FDA dan badan kesehatan yang memayunginya menilai aturan itu tetap diperlukan untuk memastikan agar obat-obatan itu digunakan dengan aman. Aturan itu mewajibkan pasien untuk mengambil pil mifepristone di rumah sakit, klinik atau kantor medis, dan menandatangani formulir yang berisi informasi tentang potensi risiko obat-obatan itu.  Kelompok dokter kandungan dan ginekolog menuntut agar aturan itu diubah. Hal ini memicu sejumlah putusan pengadilan yang saling bertolak belakang. Yang terbaru, Mahkamah Agung pada Januari lalu berpihak pada pemerintah Trump dengan memberlakukan kembali aturan sejak lama tentang cara mendapatkan obat-obatan itu secara langsung.  Dalam pernyataan pada Selasa (13/4), kelompok dokter kandungan itu mengatakan persyaratan yang ditetapkan FDA agar pasien bertemu langsung dengan dokter menunjukkan “kesewenang-wenangan badan itu dan tidak akan menambah keamanan atas obat-obatan yang sudah aman.” Namun, mereka yang menentang aborsi mengatakan langkah itu akan membahayakan kesehatan perempuan. “Dengan langkah ini, pemerintah Biden telah menunjukkan bahwa mereka lebih memprioritaskan aborsi dibanding keselamatan perempuan,” ujar Jeanne Mancini, presiden kelompok anti-aborsi March for Life.  “Aborsi yang dilakukan secara kimiawi tetap membutuhkan lebih banyak pengawasan medis, bukannya berkurang.”  Kebijakan FDA hanya berlaku saat kondisi darurat kesehatan akibat pandemi virus corona. Kelompok dokter kandungan, ginekolog dan beberapa organisasi medis lainnya mendorong agar aborsi lewat obat-obatan tetap dapat dilakukan secara permanen lewat resep yang diperoleh lewat pertemuan virtual atau online, sementara obat-obatannya dikirim melalui pos. [em/lt]

Aplikasi HealthyWage Memungkinkan Bertaruh Soal Penurunan Berat Badan

Jumat, 09 April 2021 Sementara banyak negara perlahan-lahan keluar dari kehidupan dalam karantina, banyak orang yang kini mencari cara menghilangkan berat badan yang naik selama lockdown. Meskipun banyak orang beranggapan bertaruh merupakan kegiatan berisiko, sebuah perusahaan Amerika yang menyediakan layanan untuk bertaruh mengenai pengurangan berat badan bagi diri sendiri, ternyata mampu memberi motivasi bagi sebagian orang.  Miranda Broomfield, warga Greenwood, Indiana, yang berusia 36 tahun, selama bertahun-tahun mengurusi suami dan anak-anaknya. Tahun 2018, ia memutuskan sudah waktunya untuk mengurus dirinya sendiri. Secara tak sengaja ia melihat perusahaan online "HealthyWage", di mana seseorang dapat bertaruh mengenai berat badan yang dapat dikuranginya. Ia menetapkan taruhan antara 50 dan 1.200 dolar setiap bulan, dan awalnya memberi waktu 18 bulan untuk mengurangi bobot tubuhnya. Broomfield berhasil melakukan perombakan total dalam gaya hidupnya, termasuk menerapkan diet rendah karbohidrat, tinggi lemak dan sedikit atau sama sekali tanpa gula, sangat mirip pola yang disebut diet Atkins. Tetapi begitu masa 18 bulan selesai, ia menyatakan belum siap mental untuk berhenti menggunakan HealthyWage. “Saya suka memiliki tanggung jawab dan belum siap untuk melepaskan tanggung jawab itu, karena saya tahu ada target yang perlu saya penuhi. Saya tidak ingin melakukannya terlalu cepat, dalam beberapa pekan terakhir berusaha melakukan sesuatu yang ekstrem untuk menurunkan berat badan,” jelas Miranda Broomfield. Ia melanjutkannya hingga enam bulan lagi dan akhirnya mencapai target tiga hari sebelum berulang tahun pada Mei 2020. Sekarang ini ia terus berupaya mempertahankan berat badannya karena telah begitu lama waktu yang ia curahkan untuk mengubah gaya hidup. Ini bukan sekadar gaya hidup, ujarnya. Ia ingin membuktikan diri bahwa ia mampu menurunkan berat badan, demi ia sendiri dan keluarganya. Dan meskipun bertaruh mengenai penurunan berat badan mungkin terdengar kontroversial bagi sebagian orang, Broomfield membela program yang disebutnya bukan berjudi, tetapi membuat orang bertanggung jawab dalam upaya menurunkan berat badannya sendiri. David Roddenberry, salah seorang pendiri HealthyWage, mengatakan, aplikasi dan situs internet perusahaan itu menawarkan bonus sosial dan finansial untuk diet dan olahraga yang harus dilakukan seseorang agar tetap sehat. “Kami tidak berusaha menjadi satu-satunya solusi penurunan berat badan Anda, kami melengkapi hal lain. Jadi kami tidak memberi Anda rencana diet yang komprehensif. Atau kami tidak mengirim makanan ke rumah. Kami adalah motivasi yang membuat Anda bertahan melakukan diet,” kata David  Roddenberry. Roddenberry, lulusan S-2 bidang Kebijakan Kesehatan, meluncurkan HealthyWage pada tahun 2009 bersama dengan koleganya, Jimmy Fleming. Mereka membaca sebuah artikel Desember 2018 di Journal of the American Medical Association (JAMA), yang menyimpulkan bahwa insentif finansial memiliki efek “signifikan” bagi penurunan berat badan. Pada era pandemi, Roddenberry mengatakan pada Mei 2020, perusahaan itu mencatat kenaikan tingkat keberhasilan tahunan, rata-rata 25-30 persen, mirip dengan ketika orang bergabung dengan program tersebut pada bulan Januari untuk menetapkan resolusi Tahun Baru mereka. Dan selama 12 bulan belakangan, Roddenberry mengatakan perusahaan itu telah membayar sekitar 17 juta dolar untuk orang-orang yang memenuhi target penurunan berat badan mereka. Namun tidak semua orang yakin bahwa bertaruh pada diri sendiri merupakan sasaran yang dapat bertahan pada jangka panjang. Ini dikemukakan sejumlah pelatih pribadi di Elite Gym di Western Springs, Illinois, mengenai program kompensasi untuk diet itu. Meghan Kennihan kurang sependapat dengan program itu, sedangkan rekannya, Tom McGregor mengemukakan ia setuju dengan apapun yang memotivasi orang untuk menurunkan berat badan. Ada juga sebagian kalangan yang khawatir mengenai beralihnya kecanduan baru, yakni dari makanan ke judi. Pakar psikoterapi Kelley Kitley, yang membantu pasien mengatasi gangguan makan dan penyalahgunaan obat, mengatakan, meskipun program itu merupakan awal yang baik untuk menurunkan berat badan, akar masalah berat badan itu tetap perlu diatasi. HealthyWage telah diterjemahkan ke sembilan bahasa, dan berhasil di banyak negara yang mayoritas penduduknya berbahasa Inggris, kata Roddenberry. Ia mengakui bahwa masalah perbedaan budaya dalam penurunan berat badan dan judi dapat membuat sejumlah negara mewaspadai program tersebut. [uh/ab]

Dokter Mata Nepal Targetkan 500.000 Operasi Katarak dalam 5 Tahun

Kamis, 08 April 2021 Seorang dokter mata Nepal yang sering dijuluki "Dewa Penglihatan", berambisi memberantas katarak. Melalui yayasannya, ia menargetkan akan melakukan 500.000 operasi katarak dalam waktu kurang dari lima tahun di berbagai belahan dunia. 

India Capai Rekor Jumlah Kasus Harian COVID-19

Senin, 05 April 2021 Kementerian Kesehatan India, Senin (5/4) menyatakan telah mencatat 103.558 kasus baru virus corona, jumlah penambahan kasus harian tertinggi tahun ini di negara di Asia Selatan itu. Mumbai, ibu kota keuangan India dan ibu kota negara bagian Maharashtra, kini berada di bawah lockdown yang ketat. Sekitar separuh dari kasus baru virus corona di India tercatat di Maharashtra. Nawab Malik, seorang menteri di pemerintah negara bagian tersebut, mengatakan kepada para wartawan, jam malam mulai pukul 8 malam hingga 7 pagi mulai diberlakukan hari Senin (5/4). Pusat-pusat perbelanjaan, bioskop, bar, restoran dan tempat-tempat ibadah ditutup mulai Senin malam. Lockdown total akan berlaku juga pada akhir pekan. Saumya Gupta, warga New Delhi mengatakan, masalah besarnya adalah orang-orang tidak bersikap serius dan mengira wabah ini akan berlalu seperti tahun lalu. Orang-orang kembali berkumpul, mengikuti berbagai perayaan termasuk pesta pernikahan, jelasnya. Hanya dua negara yang memiliki kasus terkonfirmasi lebih banyak daripada India yang sekarang mencatat lebih dari 12,5 juta kasus, sebut Johns Hopkins Coronavirus Resource Center. Amerika Serikat memiliki 30,7 juta kasus, sedangkan Brazil mendekati 13 juta kasus. Jutaan orang di seluruh dunia kini di bawah restriksi baru selama akhir pekan Paskah, karena infeksi telah melonjak meskipun program vaksinasi terus berlangsung. AS pekan lalu menyatakan sebagai negara pertama yang telah memvaksinasi penuh 100 juta orang. Pengumuman ini muncul lebih dari sepekan setelah pemerintahan Presiden Joe Biden mencapai targetnya memberikan 100 juta suntikan. Namun kasus COVID-19 masih meningkat di beberapa wilayah di AS. Dibandingkan dengan AS, negara-negara Eropa masih berjuang keras untuk mempercepat program vaksinasi. Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan baru 10 persen populasi Eropa yang telah menerima satu dosis vaksin, dan hanya empat persen yang telah menerima dua dosis. Satu alasan atas kelambatan di antara negara-negara Eropa adalah tingkat kepercayaan mereka pada vaksin AstraZeneca. Ada berbagai laporan mengenai penggumpalan darah pada beberapa orang yang menerima vaksin itu, tetapi produsennya menolak pernyataan tersebut dan mendapati tidak ada bukti yang mengaitkan vaksin dengan penggumpalan darah. Kanada, Perancis, Jerman dan Belanda mengizinkan penggunaan vaksin itu hanya untuk orang-orang yang berusia lanjut. Sementara itu, fasilitas Emergent BioSolutions di Baltimore, Maryland, di mana vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson diproduksi di AS, mengumumkan pada Minggu malam bahwa perusahaan itu telah menerima modifikasi terhadap kontraknya dengan Departemen Kesehatan AS yang bernilai 23 juta dolar. Emergent mengemukakan dalam sebuah pernyataan, 23 juta dolar akan digunakan untuk membeli peralatan manufaktur biologi khusus untuk vaksin COVID-19 Johnson & Johnson. Baru-baru ini terungkap bahwa pegawai Emergent secara tidak sengaja menggunakan bahan-bahan dari Johnson & Johnson dan AstraZeneca sewaktu memproduksi sejumlah besar vaksin. Kekeliruan itu ditemukan sebelum vaksin itu dikirimkan. Vaksin AstraZeneca belum mendapat persetujuan penggunaan di AS, tetapi AS telah mencapai kesepakatan untuk mengirim jutaan dosis vaksin tersebut ke Kanada dan Meksiko. [uh/ab]

JHU: 125,5 Juta Infeksi Virus Corona Global

Jumat, 26 Maret 2021 Pusat Data Virus Corona Johns Hopkins University (JHU) Jumat pagi (26/3) melaporkan terdapat lebih dari 125,5 juta infeksi COVID-19 global.

AstraZeneca Lansir Revisi Info Mengenai Vaksin COVID-19

Kamis, 25 Maret 2021 Drama yang tengah berlangsung terkait vaksin COVID-19 yang dikembangkan bersama oleh AstraZeneca dan University of Oxford mengalami perkembangan baru Rabu malam, sewaktu perusahaan farmasi itu merilis informasi yang telah diperbarui mengenai keampuhan vaksinnya. Informasi baru, yang didasarkan pada uji klinis tahap akhirnya yang melibatkan lebih dari 30 ribu partisipan di AS, menunjukkan vaksin dua dosisnya itu 76 persen efektif dalam mencegah gejala virus corona. Data terbaru itu merevisi pernyataan yang dikeluarkan perusahaan farmasi raksasa Inggris-Swedia itu Senin lalu bahwa vaksinnya 79 persen efektif melawan virus corona. Klaim tersebut kemudian diragukan hanya beberapa jam setelah sebuah badan pengawas penting pemerintah AS, Data and Safety Monitoring Board, menyatakan AstraZeneca “mungkin memasukkan informasi usang” dari uji klinis tahap akhir, “yang mungkin telah memberi gambaran tidak lengkap mengenai data keampuhannya.” Pernyataan dari dewan pakar independen itu merupakan kemunduran terbaru bagi vaksin Oxford-AstraZeneca, yang peluncurannya secara internasional telah menghadapi masalah. Beberapa negara Eropa telah berhenti menggunakan vaksin Oxford-AstraZeneca baru-baru ini karena ada laporan mengenai kaitan vaksin itu dengan penggumpalan darah pada penerimanya. Afrika Selatan berhenti menggunakan vaksin itu karena khawatir mengenai keampuhannya dalam menghadapi varian lokal virus corona. Negara itu menjual sedikitnya satu juta dosis vaksin Oxford-AstraZeneca persediaannya ke Uni Afrika. Namun Badan Pengawas Obat Eropa telah menyatakan bahwa vaksin itu aman dan sama sekali tidak menimbulkan risiko penggumpalan. Badan kesehatan federal Kanada hari Rabu mengumumkan mereka memperbarui label pada ampul vaksin Oxford-AstraZeneca dengan informasi mengenai “laporan sangat jarang mengenai penggumpalan darah” tetapi terus berpegang pada keamanan dan efektivitas vaksin terhadap COVID-19. Organisasi Kesehatan Dunia kemudian merekomendasikan penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca dalam menghadapi berbagai varian virus corona, dan menyatakan menganggap manfaat vaksin itu melebihi risikonya. Vaksin Oxford-AstraZeneca telah menjadi pilihan utama bagi negara-negara berkembang karena harganya murah dan penyimpanannya mudah. Perkembangan terbaru dalam drama vaksin Oxford-AstraZeneca itu muncul sementara AS dan Brazil mencapai tonggak baru dalam pandemi yang telah berlangsung setahun ini. Menurut Johns Hopkins University’s Coronavirus Resource Center, AS kini mencatat lebih dari 30 juta kasus, yang terbanyak di dunia, sedangkan Brazil telah mencatat lebih dari 300 ribu kematian akibat virus corona. Secara global, lebih dari 124,6 juta orang telah terinfeksi virus ini, termasuk lebih dari 2,7 juta yang meninggal karenanya. [uh/ab]

Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia Terganggu Pandemi

Kamis, 25 Maret 2021 Target pemerintah untuk memberantas penyakit Tuberkolosis (TB) pada 2030 terancam tidak tercapai, karena pandemi COVID-19 menghambat layanan esensial untuk pasien TB.

Pandemi COVID-19 Sebabkan Kemunduran Pada Upaya Perangi TB

Rabu, 24 Maret 2021 Menjelang Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia pada 24 Maret, para dokter memperingatkan kemajuan dalam perang global melawan penyakit tersebut, mengalami kemunduran lebih dari satu dekade akibat pandemi virus corona. Kajian lembaga Stop TB Partnership, menunjukkan di sembilan negara dengan prevalensi TB yang tinggi - termasuk Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, Pakistan, Filipina, Afrika Selatan, Tajikistan dan Ukraina - diagnosis dan pengobatan rata-rata turun 23 persen. Stop TB Partnership adalah organisasi nirlaba yang disponsori oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa. Direktur Eksekutif lembaga itu, Dr. Lucica Ditiu, mengatakan perang melawan TB telah mundur 12 tahun. “Ini berdampak pada semua upaya, serta anggaran kita, seluruh upaya setiap orang. Pada dasarnya kita kembali ke titik awal saat itu,” kata Ditiu kepada VOA. Hari TB Sedunia pada 24 Maret menandai hari ketika ilmuwan Jerman Robert Koch pada tahun 1882 mengumumkan penemuan bakteri penyebab tuberkulosis. Bakteri itu masih menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia akibat penyakit yang mudah menular itu. Ada satu vaksin untuk melawan TB, tetapi tingkat efektifitasnya pada orang dewasa terbatas. Tuberkulosis membunuh 1,4 juta orang di seluruh dunia pada 2019. Laporan dari Stop TB Partnership mengatakan pada 2020, 'COVID-19 secara global melampaui TB sebagai penyebab kematian paling utama dari penyakit menular, tetapi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, kematian akibat TB tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan COVID-19. Dengan bertambahnya jumlah orang yang divaksinasi COVID-19, jumlah kematian COVID-19 menurun sementara TB akan terus membunuh sekitar 4.000 orang setiap hari.' Seperti COVID-19, tuberkulosis adalah penyakit paru-paru, meskipun disebabkan oleh bakteri, bukan virus. “Banyak orang yang menangani TB - dokter, perawat, petugas kesehatan, penyedia - dialihkan dari TB pada COVID,” kata Ditiu. Bangsal rumah sakit yang digunakan untuk pasien TB dengan cepat diubah menjadi unit darurat COVID-19. Ketika negara-negara memberlakukan penutupan wilayah untuk melawan pandemi, diagnosis dan pengobatan TB sangat terimbas. Sementara itu, Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa mengatakan jumlah kematian mingguan akibat pandemi COVID-19 telah meningkat untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan jumlah kasus global juga telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dan menegaskan kembali seruannya kepada negara-negara maju untuk berbuat lebih banyak guna membantu ketersediaan vaksin di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah melalui program yang didukung PBB yang dikenal sebagai COVAX. Komentar tersebut disampaikan dalam pertemuan lima pemimpin organisasi-organisasi PBB dan internasional terkemuka di dunia, yang diselenggarakan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Ngozi Okonjo-Iweala, pimpinan WTO yang baru, menyerukan peningkatan produksi vaksin melalui upaya berbagi teknologi dan pengetahuan. [my/lt]

Survei SMRC: 46 Persen Warga Mau Divaksin

Rabu, 24 Maret 2021 Survei Nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan hanya 46 persen warga yang menyatakan akan menjalani vaksinasi COVID-19.

Penelitian Vaksin Nusantara Dihentikan Sementara

Selasa, 23 Maret 2021 Riset vaksin COVID-19 Nusantara yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dihentikan untuk sementara waktu. Ada apa?

Vaksin Oxford-AstraZeneca Hadapi Kemunduran Baru

Selasa, 23 Maret 2021 Hanya beberapa jam setelah AstraZeneca menyatakan uji coba tahap akhir vaksin COVID-19 produksinya membuktikan “100 persen keampuhannya terhadap penyakit yang parah atau kritis dan rawat inap,” sebuah badan pengawas penting pemerintah AS menyatakan keprihatinan mengenai informasi yang dilansir perusahaan farmasi tersebut. Dewan Pemantau Data dan Keselamatan (DSMB) mengeluarkan pernyataan Selasa pagi bahwa perusahaan farmasi raksasa Inggris-Swedia itu “mungkin telah memasukkan informasi ketinggalan zaman” dari uji klinis tahap akhir, “yang mungkin telah memberi gambaran tidak lengkap mengenai data keampuhannya.” AstraZeneca, Senin (23/3) menyatakan bahwa analisisnya mengenai keamanan dan keampuhan vaksinnya, yang dikembangkan bersama dengan Universitas Oxford Inggris, didasarkan pada lebih dari 30 ribu partisipan dalam uji coba di AS. Para peneliti di Oxford juga menyatakan vaksin itu 79 persen efektif mencegah munculnya gejala virus corona. DSMB mendesak AstraZeneca agar bekerja sama dengannya untuk meninjau kembali data dan “memastikan data kemanjuran terbaru dan paling akurat disampaikan kepada publik secepat mungkin.” Pernyataan dari dewan pakar independen itu merupakan kemunduran terbaru bagi vaksin Oxford-AstraZeneca, yang bermasalah dalam peluncurannya di seluruh dunia. Beberapa negara Eropa baru-baru ini telah menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca karena beberapa laporan mengenai penggumpalan darah pada penerimanya. Afrika Selatan menghentikan penggunaan vaksin itu karena khawatir mengenai kemanjurannya dalam melawan varian lokal virus tersebut. Negara itu menjual sedikitnya satu juta dosis vaksin COVID AstraZeneca miliknya ke Uni Afrika. Tetapi Badan Pengawas Obat Eropa menyatakan vaksin itu aman dan tidak menimbulkan risiko penggumpalan darah sama sekali. Organisasi Kesehatan Dunia selanjutnya merekomendasikan penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca melawan berbagai varian virus corona, dan menyatakan bahwa manfaatnya melebihi risikonya. Vaksin Oxford-AstraZeneca sebelumnya menjadi pilihan utama bagi negara-negara berkembang, karena harganya murah dan persyaratan untuk penyimpanannya yang sederhana. Presiden Korea Selatan Moon Jae-in diimunisasi dengan vaksin itu hari Selasa. Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel hari Selasa (23/3) mengatakan pemerintahnya memperpanjang masa lockdown di negara itu hingga 18 April, dengan alasan kasus infeksi baru yang terus meningkat. Pembatasan yang dilanjutkan itu mencakup lockdown total antara 1-5 April selama liburan Paskah mendatang, dengan permintaan agar seluruh warga Jerman tinggal di rumah selama periode itu. Merkel dan ke-16 gubernur negara bagian di Jerman baru-baru ini menyusun rencana untuk secara bertahap mencabut pembatasan virus corona pada 28 Maret. Tetapi Jerman menghadapi lonjakan kasus infeksi baru karena munculnya varian B.1.1.7 yang lebih mudah menular, selain lambatnya laju vaksinasi, dengan 9 persen populasi saja yang telah menerima sedikitnya satu kali suntikan vaksin. “Kita pada dasarnya menghadapi pandemi baru,” kata Merkel kepada wartawan di Berlin hari Selasa. Varian B.1.1.7 pertama kali dideteksi di Inggris dan varian ini mudah menular dan lebih mematikan, kata Dr. Anthony Fauci dalam konferensi pers di Gedung Putih hari Jumat lalu. [uh/ab]

AstraZeneca Tegaskan Vaksinnya Tak Mengandung Babi 

Senin, 22 Maret 2021 AstraZeneca, Minggu (21/3), menegaskan vaksin COVID-19 miliknya tidak mengandung bahan turunan babi. Penegasan itu diberikan untuk membantah pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengatakan vaksin tersebut melanggar hukum Islam.  MUI, Jumat (19/3), dalam situs webnya mengatakan bahwa vaksin AstraZeneca "haram" karena proses pembuatannya menggunakan "tripsin dari pankreas babi.”  Namun, sebagaimana dilansir dari Reuters, Minggu (21/3), MUI tetap menyetujui penggunaan vaksin AstraZeneca karena dalam situasi darurat pandemi.  "Pada semua tahap proses produksi, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan atau bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” kata Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri, dalam sebuah pernyataan. MUI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak segera memberikan komentar terkait hal tersebut.  BPOM pada Jumat (19/3) menyetujui penggunaan AstraZeneca setelah mengkaji bahwa sejumlah vaksin itu menyebabkan penggumpalan darah pada sejumlah penerima vaksin di Eropa.  Pemerintah sedang bergulat dengan virus corona dengan 1.455.788 kasus dan 39.447 kematian pada Sabtu (20/3). [ah/au/ft]

Taiwan Bersikeras Tolak Gunakan Vaksin China

Senin, 22 Maret 2021 Para pekerja kesehatan Taiwan menerima suntikan pertama vaksin AstraZeneca, Senin (22/3), hari pertama program vaksinasi massal COVID-19 yang kabarnya tidak akan menggunakan pasokan dari China meski distribusi vaksin tidak merata secara global. Taiwan memiliki 117.000 dosis vaksin AstraZeneca, yang didistribusikan ke para petugas kesehatan di 57 rumah sakit. Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang memulai program vaksinasi itu dengan menerima suntikan pertamanya di National Taiwan University Hospital di ibu kota, Taipei. “Setelah 30 menit istirahat, tidak ada tanda-tanda ketidaknyamanan, '' ujarnya. Waktu istirahat itu dibutuhkan untuk memantau kemungkinan munculnya reaksi yang tidak diinginkan. Minggu lalu, belasan negara menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca setelah beberapa puluh orang di antara jutaan yang menerima vaksin itu mengalami penggumpalan darah. Badan Pengawas Obat Uni Eropa menyimpulkan, setelah melakukan evaluasi, mereka tidak dapat mengesampingkan hubungan sebab-akibat itu tetapi manfaat menggunakan vaksin tersebut lebih besar daripada kemungkinan risikonya. Taiwan telah menandatangani kontrak untuk mendapatkan 10 juta dosis vaksin AstraZeneca, 5,05 juta dosis vaksin Moderna, dan 4,76 juta dosis vaksin melalui COVAX. Saat ini, Taiwan telah mencatat 1.006 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, sebagian besar dari pengunjung yang datang dari luar negeri. Taiwan telah menjadi salah satu tempat paling sukses di dunia dalam usaha menanggulangi pandemi, karena langkah-langkah pengawasan kesehatan masyarakat dan kontrol perbatasannya yang ketat. Pulau ini berencana menggunakan pasokan awal sepenuhnya untuk menyuntik 117.000 orang. Pihak berwenang mengatakan, dosis pertama memiliki tingkat keefektifan 71 persen sedangkan dosis kedua yang diberikan delapan minggu kemudian, akan meningkatkan keefektifan itu menjadi 81 persen. Taiwan belum mengumumkan kapan akan melangsungkan vaksinasi untuk masyarakat umum. Negara-negara di berbagai penjuru dunia saat ini sedang berebut mendapatkan vaksin. Vaksin-vaksin yang ada kabarnya telah didistribusikan secara tidak merata dengan negara-negara kaya yang membeli sebagian besar dosis tersebut. China berusaha mengatasi keadaan itu dengan menawarkan ratusan juta dosis vaksinnya sendiri ke negara-negara berkembang, tetapi Taiwan menahan diri untuk tidak membelinya. Undang-undang Taiwan melarang impor vaksin buatan China untuk kebutuhan manusia. Menteri kesehatan pulau itu mengatakan, Februari lalu, tidak ada pertimbangan untuk mengubah undang-undang itu dan tidak ada ahli yang membuat rekomendasi khusus untuk vaksin buatan China. [ab/uh]

EMA Kembali Setujui Vaksin AstraZeneca

Jumat, 19 Maret 2021 Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) telah menyetujui dilanjutkannya penggunaan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca dalam upaya mengatasi pandemi virus corona. Persetujuan yang dikeluarkan regulator obat Eropa itu muncul setelah beberapa negara Eropa, di antaranya Perancis, Jerman, Italia dan Spanyol, menghentikan penggunaan vaksin itu menyusul laporan pembekuan darah pada beberapa penerimanya. EMA, Kamis (18/3) mengemukakan dalam suatu pernyataan bahwa “manfaat vaksin dalam memerangi ancaman COVID-19 yang masih luas (di mana penyakit itu sendiri menyebabkan masalah pembekuan darah dan bisa berakibat fatal) terus melebihi risiko efek sampingnya.” EMA menambahkan, “Hubungan kausal dengan vaksin itu tidak terbukti tetapi mungkin saja dan ini memerlukan analisis lebih jauh.” Sementara itu Gedung Putih, Kamis (19/3) mengumumkan tentang pengiriman jutaan dosis vaksin AstraZeneca persediaannya ke Meksiko dan Kanada. Vaksin ini belum disetujui penggunaannya oleh regulator AS, tetapi telah disetujui oleh Meksiko dan Kanada. “Kami memiliki 7 juta dosis AstraZeneca yang siap dibagi, kami sedang menuntaskan perencanaan untuk mengirim 2,5 juta dosis di antaranya ke Meksiko dan 1,5 juta dosis ke Kanada,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki. Pengumuman ini muncul sementara pemerintahan presiden Joe Biden menginginkan bantuan Meksiko dalam mengatasi gelombang migran yang berupaya masuk ke AS. Psaki mengatakan vaksin itu akan merupakan pinjaman bagi kedua negara tetangga AS ini, dengan Amerika pada akhirnya akan menerima pengganti vaksin tersebut dari negara-negara yang berbatasan ini. Lockdown di Paris, Kasus Meningkat di India Mulai Jumat, beberapa daerah di Perancis, termasuk Paris, akan berada di bawah perintah lockdown baru untuk membendung peningkatan kasus virus corona. Perancis mencatat 40 ribu kasus baru pada hari Rabu (17/3). PM Jean Castex, Kamis (18/3) mengatakan wabah di Perancis “memburuk,” seraya menambahkan, “Tanggung jawab kita sekarang ini adalah mencegahnya menjadi tak terkendali.” Hari Jumat (19/3), Menteri Kesehatan India melaporkan kenaikan kasus virus corona untuk sembilan hari berturut-turut, dengan 40 ribu kasus baru dalam periode 24 jam sebelumnya. India telah memiliki 11,5 juta kasus COVID-19. Hanya dua negara yang memiliki kasus infeksi lebih banyak daripada India. Masing-masing adalah AS dengan 29,6 juta kasus dan Brasil dengan 11,7 juta, sebut Johns Hopkins Coronavirus Resource Center. Hopkins melaporkan ada 121,7 juta kasus virus corona di seluruh dunia. [uh/ab]

Indonesia Tunda Penggunaan Vaksin COVID-19 AstraZeneca

Selasa, 16 Maret 2021 Mengikuti langkah sejumlah negara di Eropa yang menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca, Indonesia hari Senin (15/3) mengambil langkah serupa. Benarkah vaksin ini memicu pembekuan darah?

Jerman Alami Gelombang Wabah ke-3 COVID-19

Jumat, 12 Maret 2021 Para pejabat kesehatan Jerman, Jumat (12/3) memperingatkan negara itu menghadapi gelombang ketiga infeksi virus corona, dan virus yang disebut sebagai varian Inggris mungkin menjadi penyebabnya. Pada konferensi pers di Berlin, Lothar Wieler Presiden Robert Koch Institute for Infectious Diseases mengatakan kepada wartawan bahwa varian COVID-B117, yang awalnya diidentifikasi di Inggris, menyebar dengan cepat di negara itu, dan mungkin menggerakkan lonjakan terbaru, dengan kasus baru pada hari Jumat merupakan yang tertinggi di Jerman dalam satu bulan ini. Wieler mengatakan vaksinasi dapat membantu virus itu terkendali tetapi masyarakat harus tetap mempraktikkan social distancing dan langkah-langkah lainnya. Ia mengatakan, “virus tidak akan menghilang lagi, tetapi kita telah memiliki tingkat imunitas dasar di tengah masyarakat, kita dapat mengontrol virus.” Pada konferensi pers yang sama, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan negara itu harus bersiap untuk “menghadapi beberapa pekan mendatang yang sangat menantang.” Spahn menyatakan penyesalan karena beberapa negara tetangga telah menghentikan penggunaan vaksin virus corona AstraZeneca menyusul laporan penggumpalan darah pada sejumlah penerima vaksin itu, meskipun masih kurang bukti bahwa vaksin itu penyebabnya. Spahn mengatakan meskipun Jerman menerima laporan mengenai kemungkinan efek samping akibat itu vaksin itu “dengan sangat, sangat serius,” Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) dan badan pengawas vaksin Jerman sendiri telah menyatakan mereka tidak memiliki bukti mengenai peningkatan penggumpalan darah yang berbahaya, yang ada kaitannya dengan vaksin. Denmark, Kamis (11/3) mengumumkan tentang penghentian sementara penggunaan vaksin AstraZeneca setelah ada laporan mengenai penggumpalan darah pada beberapa orang. Austria melakukan hal yang sama sebelumnya pekan ini. Setelah menyelidiki kasus-kasus di Austria, EMA mengeluarkan pernyataan hari Rabu yang menyebutkan tidak menemukan indikasi bahwa vaksin itu penyebab kondisi tersebut. EMA menyatakan “manfaat vaksin terus melampaui risikonya dan vaksin dapat terus diberikan” sementara evaluasi yang lebih cermat terhadap kasus-kasus penggumpalan darah berlanjut. [uh/ab]

Indonesia, Uni Eropa, dan WHO Sepakat Perkuat Kerjasama Penanganan Pandemi COVID-19

Jumat, 12 Maret 2021 Uni Eropa dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendukung upaya Indonesia dalam menangani pandemi COVID-19.

‘Quad’ Luncurkan Mekanisme Keuangan untuk Vaksin Kawasan Asia Tenggara

Jumat, 12 Maret 2021 Presiden AS Joe Biden dan perdana menteri Jepang, India dan Australia hari Jumat (12/3) dijadwalkan bertemu secara virtual dalam pertemuan puncak Dialog Keamanan Segi Empat, "Quad"rilateral Security Dialogue, di mana mereka akan membahas strategi untuk menghadapi pengaruh China yang kian besar di kawasan Indo-Pasifik, termasuk tawaran untuk menandingi diplomasi vaksin Beijing yang ambisius. Kelompok yang disebut "Quad" itu akan meluncurkan mekanisme keuangan untuk meningkatkan produksi hingga satu miliar dosis vaksin pada 2022 untuk mengatasi kekurangan vaksin di kawasan Indo-Pasifik, terutama di negara-negara Asia Tenggara, kata seorang pejabat pemerintah Biden dalam pengarahan kepada wartawan hari Kamis (11/3). Kelompok ini telah menyusun “wahana pembiayaan yang kompleks” untuk meningkatkan kapasitas produksi vaksin secara dramatis, kata pejabat itu. Seorang pejabat pemerintah lainnya mengatakan International Development Finance Corporation AS bekerja bersama dengan perusahaan-perusahaan di India serta pemerintah Jepang dan Australia untuk meningkatkan produksi vaksin yang telah disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Pemerintah AS tidak menyatakan apakah mekanisme vaksin "Quad" ini akan terpisah atau menjadi bagian dari COVAX, mekanisme global untuk mendistribusikan 2 miliar dosis vaksin ke 94 negara miskin pada akhir tahun ini, sebagian dengan menggunakan vaksin yang dikembangkan AstraZeneca/Oxford University dan diproduksi oleh Serum Institute of India. COVAX dipimpin bersama oleh Gavi, the Vaccine Alliance, suatu kemitraan kesehatan global antara pemerintah dan swasta yang didanai oleh Bill & Melinda Gates Foundation. Gavi telah menjadi pemain dominan dan pendanaan dan pendistribusian berbagai vaksin sejak didirikannya pada tahun 2000, tetapi tidak jelas apakah Gavi akan dilibatkan dalam mekanisme vaksin "Quad". Biden telah ditekan untuk menanggapi diplomasi vaksin Beijing sementara ia berupaya untuk memvaksinasi seluruh rakyat Amerika lebih dulu, dengan memastikan cadangan vaksin AS berlebih, untuk mempersiapkan vaksin melawan berbagai varian baru dan untuk memvaksinasi anak-anak. Sekarang ini tidak ada cukup data untuk menentukan mana di antara tiga vaksin yang telah diizinkan untuk penggunaan darurat di AS yang aman dan efektif untuk anak-anak. Presiden China Xi Jinping memproklamasikan Mei lalu bahwa vaksin buatan China akan menjadi “barang publik di seluruh dunia.” Sejak itu, Beijing telah menjanjikan sekitar setengah miliar dosis vaksinnya untuk lebih dari 45 negara, menurut perhitungan per negara oleh Associated Press. Setelah China awalnya gagal menangani wabah, sebagian melihat diplomasi vaksin Beijing sebagai taktik menyelamatkan muka dan sebagai cara untuk meluaskan pengaruhnya. [uh/ab]

PBB: Tak Ada Efek yang Merusak Kesehatan dari Bencana Nuklir di Jepang

Rabu, 10 Maret 2021 Sepuluh tahun setelah bencana nuklir Fukushima, Jepang, pada 2011, PBB menyatakan bahwa bencana itu tidak membahayakan kesehatan penduduk di sana. Peneliti PBB merilis pernyataan itu dalam laporan yang diterbitkan Selasa (9/3). Sejak laporan terakhir pada 2013, "tidak ada efek merugikan bagi kesehatan penduduk Fukushima yang terdokumentasi yang secara langsung bisa dikaitkan dengan paparan radiasi akibat kecelakaan itu," kata Gillian Hirth, ketua Komisi Ilmiah PBB untuk Efek Radiasi Atom (UNSCEAR). Dalam pernyataan, PBB mengatakan, laporan terbaru itu memperkuat penelitian pada 2013 mengenai efek radiasi dari kecelakaan itu. UNSCEAR mengatakan, kasus kanker tiroid yang terdeteksi lebih tinggi di kalangan anak-anak yang terpapar radiasi itu kemungkinan karena diagnosis yang lebih baik. Pengawas nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional, juga mengatakan tidak ada bukti bahwa bencana itu berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Gempa berkekuatan 9,0 dan tsunami memicu bencana nuklir Fukushima, yang melepas radiasi dalam jumlah besar ke udara, tanah dan air di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir itu, yang terletak 220 kilometer sebelah timur laut Tokyo. Sekitar 100.000 orang harus mengungsi dan 19.000 tewas akibat gempa dan tsunami itu.[ka/lt]

Vaksin Baru Pfizer-BioNTech Netralkan COVID-19 Varian Brazil

Selasa, 09 Maret 2021 Vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech menetralkan varian virus corona yang menyebar dengan cepat yang ditemukan baru-baru ini di Brazil, demikian hasil penelitian di laboratorium. Para ilmuwan dari Pfizer dan University of Texas mengambil darah dari orang-orang yang mendapat vaksin Pfizer dan mencampurnya dengan versi virus yang telah direkayasa yang disebut P.1 itu. Para peneliti mendapati vaksin itu kurang lebih sama efektif dalam melawan varian Brazil, sebagaimana halnya terhadap versi virus lainnya yang tidak semenular itu tahun itu.  Hasil kajian itu diterbitkan hari Senin di New England Journal of Medicine. Dalam perkembangan lain terkait vaksin, pengelola dana abadi Rusia RDIF telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan farmasi berbasis di Swiss Adienne untuk memproduksi secara massal vaksin virus corona Sputnik V yang dikembangkan Rusia untuk pada akhirnya digunakan di Eropa. Vaksin ini akan diproduksi di fasilitas Adienne di Milan, Italia, berdasarkan kesepakatan yang dicapai hari Selasa. Uni Eropa telah memperingatkan negara-negara anggotanya agar tidak membeli vaksin COVID-19 Rusia, karena Uni Eropa belum menuntaskan peninjauannya terhadap Sputnik V. Tetapi regulator obat-obatan Uni Eropa, European Medicines Agency, semakin mendapat kecaman yang kian besar karena lambannya proses persetujuan bagi kandidat vaksin COVID-19, yang mendorong beberapa negara untuk secara sepihak menyetujui Sputnik V. Suatu penelitian yang telah mendapat penelaahan sejawat yang diterbitkan di jurnal kedokteran The Lancet bulan lalu menunjukkan vaksin dua dosis Sputnik V hampir 92 persen efektif menghilangkan gejala COVID-19. Dengan semakin banyaknya vaksin virus corona yang tersedia bagi masyarakat umum, industri penerbangan AS mendesak pemerintahan presiden Joe Biden untuk menyusun standar baru bagi dokumen perjalanan untuk para pelancong guna membuktikan bahwa mereka telah dites untuk, atau divaksinasi COVID-19. Dalam sepucuk surat yang dikirim hari Senin kepada Jeffrey Zients, ketua tim tanggap COVID-19 Presiden Joe Biden, lebih dari 30 maskapai penerbangan, organisasi pengusaha dan serikat pekerja yang meminta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) untuk mengambil posisi memimpin dalam mengembangkan standar baru yang mereka harapkan pada akhirnya mengarah pada dimulainya kembali perjalanan global. Banyak negara dan organisasi sedang berupaya mengembangkan apa yang disebut “paspor vaksin” bagi pelancong untuk membuktikan mereka telah mendapat vaksinasi COVID-19. Tetapi Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan dokumen semacam itu tidak dapat digunakan untuk perjalanan internasional karena vaksin virus corona tidak tersedia dengan mudah secara global. [uh/ab]