Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Indeks Berita

Terapi Efektif untuk Penderita “Sickle Cell Anemia”

Selasa, 19 Maret 2019 Jutaan orang menderita “sickle cell anemia” – atau kondisi dimana seseorang tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen yang cukup ke seluruh tubuh Sebagian besar berada di kawasan Afrika, termasuk sekitar 100 ribu warga Amerika keturunan Afrika.

Kisah Mereka yang Tak Dikalahkan Gagal Ginjal 

Kamis, 14 Maret 2019 Hari Kamis minggu kedua bulan Maret, yang tahun ini jatuh pada tanggal 14, diperingati sebagai Hari Ginjal Sedunia. Sejumlah pasien yang mengalami gagal ginjal, berbagi kisahnya dengan VOA berikut ini.

Sejumlah Ibu Kanada: ‘Ganja Bikin Saya Jadi Orang Tua yang Lebih Baik’

Kamis, 14 Maret 2019 Merokok ganja membuat saya jadi “ibu yang lebih baik,” kata Karine Cyr.

Indonesia-Amerika Kerjasama Lawan Penyakit Tuberkulosis

Rabu, 13 Maret 2019 Merayakan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Amerika Serikat, hari Minggu lalu (10/3) dilakukan peluncuran awal peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2019 di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah.

Operasi Sedot Lemak, Pembesaran Payudara Meningkat di AS 

Selasa, 12 Maret 2019 Angka pembedahan atau prosedur kosmetik invasif minimal meningkat di Amerika Serikat. Tapi trennya berganti menjadi teknik-teknik bebas pembedahan, seperti penggunaan Botox, menurut data yang dirilis Senin (11/3).  Pada 2018, ada sekitar 17, 7 juta prosedur kosmetik dilakukan di AS pada 2018, menurut data Asosiasi Dokter Bedah Plastik AS (ASPS), seperti dilansir kantor berita AFP. Tren jangka panjang menunjukkan angka bedah kosmetik menurun. Pada 2018, angka operasi kosmetik di AS turun 5 persen, dibandingkan 2000. Ada sekitar 1,8 juta tahun lalu, lebih sedikit 100 ribu dibandingkan pada pergantian abad. Prosedur kosmetik pada hidung, dagu, telinga, kelopak mata dan dahi sudah tidak populer. Sedot lemak juga sudah berkurang kepopulerannya, tapi masih banyak dilakukan (sekitar 258 ribu operasi pada 2018). Prosedur itu juga mulai naik daun lagi dalam beberapa tahun terakhir dengan kenaikan tahunan 5 persen setiap tahun dalam dua tahun terakhir. Operasi pembesaran payudara masih operasi plastik paling populer. Setidaknya ada 300 ribu operasi pembesaran payudara setiap tahunnya dan tahun lalu naik sekitar 4 persen. Tapi total ada hampir sepuluh kali lebih banyak tindakan minimal invasif dibandingkan operasi pembedahan, yaitu 15,9 juta pada tahun lalu, atau naik dua persen dari tahun sebelumnya. Prosedur yang paling umum adalah injeksi Botulinum toxin untuk menyembunyikan keriput. Prosedur ini tercatat ada 7,4 juta pada 2018. Yang juga populer adalah mengisi jaringan lunak, untuk menebalkan bibir, dengan suntikan hyaluronic acid. Tercatat ada 2,68 juta prosedur tersebut. Angka-angka tersebut dilaporkan oleh 8.000 dokter tersertifikasi dan anggota ASPS. Data tidak termasuk komplikasi atau insiden dari intervensi tersebut. [ft]  

Cegah Kanker Serviks, 28 Artis Perempuan Jadi Model Pameran Foto

Minggu, 10 Maret 2019 Kasus kanker serviks terus terjadi di Indonesia. Padahal jenis kanker ini dapat dicegah lewat vaksinasi. Berbagai upaya edukasi pun digelar untuk menyadarkan masyarakat, salah satunya dengan pameran foto para selebriti.

Teknologi Bantu Atasi Stigma Celah Bibir di Indonesia

Jumat, 08 Maret 2019 Saat mengetahui anak yang dikandung punya celah bibir, Nurbaiti (27) tidak bisa menghindari rasa sedih.

SoaPen, Bisnis Rintisan Perempuan Ajarkan Cuci Tangan Lebih Baik

Kamis, 07 Maret 2019 Cuci tangan, hal mudah dan sepele, namun rata-rata orang tidak melakukannya dengan benar sehingga bisa berujung pada sakit atau kematian. Perempuan muda asal India merintis produk sabun yang bisa meningkatkan kualitas mencuci tangan, dan kini berada di AS untuk mengembangkan wirausaha sosial mereka.

Remaja Ohio Yang Kritisi Sikap Anti-Vaksin Ibunya, Jadi Bintang di Senat

Rabu, 06 Maret 2019 Seorang remaja Ohio yang menentang sikap anti-vaksin ibunya dan menerima beberapa suntikan untuk mencegah terjangkit penyakit berbahaya, menjadi bintang utama dalam sidang dengar pendapat di Senat hari Selasa (5/3). Ethan Lindenberger yang berusia 18 tahun mengatakan ia melakukan penelitian sendiri dan menyimpulkan bahwa ibunya salah karena yakin bahwa vaksin adalah hal yang tidak aman dan dapat menyebabkan autisme. Lindenberger mengatakan “cinta, kasih sayang dan perhatian ibunya sangat nyata,” tetapi menambahkan bahwa sekolahnya di Norwalk, Ohio, melihatnya sebagai “ancaman kesehatan” karena potensi bahaya bahwa ia dapat jatuh sakit karena penyakit menular. Lindenberger memberi kesaksian bahwa penelitiannya sendiri meyakinkan dirinya bahwa vaksin merupakan sesuatu yang aman, tetapi masih gagal meyakinkan ibunya. Tanpa persetujuan ibunya, Lindenberger datang ke klinik untuk mendapat vaksin kekebalan terhadap hepatitis, influenza, tetanus, HPV, polio, campak, gondong dan rubella. Ia mengatakan ibunya masih menggunakan apa yang disebutnya sebagai “sumber-sumber tidak sah yang menanamkan rasa takut pada publik.” Lindenberger pertama kali menjadi berita utama di media akhir tahun lalu ketika ia memasang pesan di media sosial, yang menyatakan “kedua orang tua saya mengira vaksin adalah semacam skema pemerintah… Tuhan tahu betapa saya masih hidup,” dan menanyakan panduan untuk melindungi dirinya. Ia mengatakan ribuan anak lain memasang pesan serupa dan betapa ia ingin anak-anak ini mengetahui bahwa mereka tidak selalu perlu mendapatkan ijin orang tua supaya dapat divaksinasi. Dengar pendapat Senat hari Selasa dilakukan, sebagian untuk menanggapi meluasnya wabah campak. Saat ini ada 200 kasus campak yang diketahui terjadi di 11 negara bagian, dimana daerah-daerah di Pasifik Barat Laut menjadi wilayah yang paling parah terkena penyakit ini. [em]

Terapis Nebraska Gunakan Kelinci untuk Tenangkan Pasien

Senin, 04 Maret 2019 Chelsea Lambert langsung melihat perbedaannya. Lambert yang merupakan seorang ahli terapi kesehatan mental di Methodist Fremont Health, memberikan salah satu kelincinya kepada seorang pasien perempuan yang sedang gelisah.  “Ketika kami memberinya kelinci, ia langsung menjadi lega dan tenang - hanya dengan membiarkan kelinci itu bersandar di dadanya dan dia mengelusnya,” kata Lambert. Kini, perempuan asal Arlington itu memiliki empat kelinci terapi bersertifikat, yang dibawanya ke terapi kelompok beberapa kali sebulan, Fremont Tribune melaporkan. Dia juga bekerja dengan 17 fotografer, membawa kelinci-kelincinya ke pemotretan untuk foto Paskah. Dia juga membawa kelinci-kelinci itu ke pesta ulang tahun dan berencana untuk membawa beberapa ke panti jompo. Dan perempuan itu – yang selama bertahun-tahun bekerja sebagai pengawas pertujukan kelinci di Washington County Fair – menjual kelinci kepada orang-orang yang ingin menjadikan kelinci sebagai hewan peliharaan atau kepada anggota 4-H (komunitas anak muda). Lambert mengatakan bahwa ia tidak akan menjualnya untuk dimakan. Lambert memiliki kelemahan jika berhadapan dengan hewan kecil berbulu itu. “Kebanyakan kelinci sangatlah manis,” katanya. “Sangat menyenangkan melihat mereka, karena mereka adalah hewan yang selalu penasaran. Setelah mereka mengenal anda dan mengerti bahwa anda bukanlah ancaman, mereka akan datang dan memberi anda ciuman atau pelukan.” Kecintaan Lambert pada kelinci sudah ada sejak ia kecil. Dia tumbuh dengan kelinci dan ketika berusia enam tahun, ia mendapatkan kelinci pertamanya. Dia dan ketiga saudaranya akan mengadakan pertujukan kelinci di 4-H dan setelah beberapa saat, ibu mereka Betty Johnson, menjadi pengawas pertunjukan kelinci di Washington County Fair. Keluarga mereka tinggal di pedesaan Arlington. “Saat saya bertumbuh dewasa, kami memiliki sekitar 30 sampai 80 kelinci dan kami memiliki gudang dengan dua kamar yang disebut Gudang Kelinci,” katanya. Anak-anak tetangga kadang datang dan membantu mengurusi kelinci itu. Beberapa juga membeli kelinci untuk ditampilkan dalam 4-H. Sekitar 10 tahun lalu, Lambert mulai mengambil alih pertunjukan kelinci di pameran itu, dengan bantuan ibunya. Kini Lambert dan suaminya Ted, memiliki tiga orang anak yaitu Charlie (13), Zadyn (10) dan Zayla (6). Mereka memelihara kelinci jenis Dwarf Hotot – kelinci putih kecil yang terlihat seperti memakai eyeliner. Karena itu, kelinci mereka diberi nama L’Oreal, Maybelline dan Kat Von D. “Kami mencoba untuk tetap memakai nama merk make up,” katanya. Mereka juga memiliki kelinci jenis mini rex yang memiliki bulu lembut, dan kelinci jenis mini lop yang memiliki telinga menggantung. Tahun lalu, Lambert mendapatkan telepon dari seorng fotografer yang bertanya apakah dia menyewakan kelinci-kelincinya untuk pemotretan Paskah. Jadi kini dia bekerja dengan 10 fotografer. “Kami melakukan sesi pemotretan dengan anak-anak kecil, jadi tugas saya adalah mengatur gaya bagi kelinci dan mencoba membuat anak-anak tersenyum – yang tidaklah sulit ketika anda memiliki kelinci,” katanya. Dia membawa sekitar enam kelinci ke sesi pemotretan sehingga ia bisa memberikan beberapa kelinci waktu istirahat ketika yang lainnya sedang dipotret. Seseorang di salah satu sesi pemotretan bertanya apakah Lambert juga akan menyewakan kelincinya untuk pesta ulang tahun. Di pesta itu, para kelinci akan mengenakan kostum kecil seperti kostum putri atau lobster. Anak-anak akan duduk di tempat bermain di luar ruangan dan memegang serta mengelus kelinci. Lambert memiliki aturan terkait kelinci-kelincinya dan membawa setidaknya dua pembantu untuk membantu mengawasi kelinci di sebuah pesta. Dengan begitu, kelinci maupun anak-anak tidak ada yang terluka. Dia menambahkan bahwa kelinci-kelincinya telah ditangani sejak mereka berusia tujuh atau delapan hari sehingga mereka terbiasa dengan anak-anak. Dan untuk pesta ulang tahun, ia tidak membawa kelinci yang berumur di bawah empat bulan. Dia telah mengikuti tiga pesta ulang tahun sejauh ini dan percaya bahwa anak-anak bisa mendapatkan manfaat dari bermain bersama kelinci. “Pengalaman itu mengajarkan bahwa tindakanmu mempengaruhi orang lain,” katanya. “Itu juga mengajarkanmu bagaimana menjadi baik. Saya mencoba mengajarkan bahwa setiap jenis kelinci itu berbeda.” Lambert dapat mengajarkan bagaimana perbedaan temperamen dari keturunan kelinci yang berbeda. Misalnya, ada satu jenis yang mungkin lebih tenang dan ada jenis lain yang mungkin ingin dibiarkan sendiri. “Anak-anak banyak bertanya,” kata Lambert. “Saya menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh anak-anak maupun orang tua.” Baru-baru ini, Lambert membawa beberapa kelinci ke ruang kelas taman kanak-kanak di Arlington. Dia kemudian menyembunyikan kelinci itu di sudut ruang olahraga ketika akan pergi makan siang bersama putrinya. Tetapi kemudian ada seorang anak perempuan yang memperhatikan kelinci-kelinci itu dan tak lama kemudian sekitar 50 siswa mengelilingi kelinci itu dan seorang dewasa bertanya tentang hewan-hewan itu. “Saya membawa satu kelinci keluar dan saya langsung dikerumuni,” katanya soal pertemuan dadakan dengan kelinci-kelinci itu. Pada saat pameran di bulan Juli, Lambert suka mendengar anak-anaknya sendiri membagikan pengetahuan mereka tentang kelinci. “Saya akan melihat sekeliling dan mendapati putri tertua saya memegang kelinci sehingga anak-anak lain dapat mengelusnya,” kata Lambert. Atau Lambert akan mendengar putrinya bercerita tentang kelinci dengan orang-orang, yang datang dari Omaha ke suatu konser di Arlington dan tidak pernah memegang kelinci. “Sangat menyenangkan melihatnya begitu bersemangat jika berbicara soal kelinci,”. Sebagai seorang terapis kesehatan mental, Lambert menggunakan kelinci untuk mengajarkan keterampilan mengatasi masalah dengan kepala dingin. “Orang sering lupa untuk mengambil napas panjang atau mereka begitu sibuk dengan hal-hal yang ada di kepala mereka sehingga sering tidak berada dalam beberapa momen dalam kehidupan nyata mereka,” katanya. “Kelinci membawamu ke momen itu. Jadi, alih-alih mengkhawatirkan segalanya – karena kita hidup di dunia yang penuh tekanan - mereka membuatmu berada di momen saat ini dan secara berulang-ulang orang-orang akan mengelus dan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada kelinci itu dan menenangkan mereka.” Dan kelinci itu lucu. “Kadang mereka duduk dengan kaki belakang mereka dan membersihkan wajah dengan kaki depan - dan itu sangatlah menggemaskan sehingga kamu hanya akan tersenyum,” kata Lambert. Hari-hari ini, kehidupan berjalan sangat cepat untuk Lambert dan keluarganya. “Saya ingin berbagi kebahagiaan dengan kelinci,” katanya. “Orang-orang akan langsung merasa senang ketika melihat mereka.” [er/ww]

Wabah Campak Meningkat, PBB Ingatkan untuk Tetap Waspada

Sabtu, 02 Maret 2019 Badan Anak-anak PBB mengatakan Jumat (1/3), hanya 10 negara yang bertanggung jawab atas tiga perempat dari lonjakan global kasus campak tahun lalu, termasuk salah satu negara terkaya di dunia, Perancis. Sembilan puluh delapan negara melaporkan lebih banyak kasus campak pada 2018 dibandingkan dengan 2017, dan badan dunia tersebut memperingatkan bahwa konflik, kepuasan diri, dan gerakan anti-vaksin yang semakin meningkat, mengancam upaya keras yang telah dilakukan selama beberapa dekade untuk menjinakkan penyakit tersebut. "Wabah Ini merupakan peringatan dini. Kita memiliki vaksin yang aman, efektif dan murah terhadap penyakit yang sangat menular - vaksin yang menyelamatkan hampir satu juta jiwa setiap tahunnya selama dua dekade terakhir," kata Henrietta Fore, direktur eksekutif UNICEF. "Kasus-kasus ini tidak terjadi dalam semalam. Sama seperti seriusnya wabah yang pernah merebak pada 2018, kurangnya tindakan hari ini akan berisiko terhadap (kesehatan) anak-anak di masa depan." Campak lebih mudah menular daripada tuberkulosis atau Ebola, namun dapat dicegah dengan pemberian vaksin yang harganya sangat murah. Tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun lalu mengatakan kasus campak di seluruh dunia telah melonjak hampir 50 persen pada 2018, menewaskan sekitar 136.000 orang. Ukraina, Filipina, dan Brasil mengalami peningkatan terbesar dari tahun ke tahun. Di Ukraina saja terdapat 35.120 kasus - hampir 30.000 lebih banyak dari 2017. Brasil tercatat 10.262 kasus pada 2018 setelah tahun sebelumnya tidak ada sama sekali, sementara Filipina melaporkan terdapat 15.599 kasus tahun lalu, meningkat dibandingkan dengan 2.407 kasus pada 2017. Secara keseluruhan, kesepuluh negara itu menyumbang 75 persen dari peningkatan dari 2017 hingga 2018, hanya sepersepuluh dari populasi global. Negara-negara dengan angka campak tertinggi tahun lalu adalah Ukraina (822 kasus per juta orang), Serbia (618), Albania (481), Liberia (412), Georgia (398), Yaman 328), Montenegro (323) dan Yunani (227). Sementara sebagian besar negara yang dilanda kerusuhan atau konflik, mengalami lonjakan besar dalam kasus ini, seperti di Perancis, yang jumlahnya melonjak menjadi 2.269. Di Amerika Serikat, terjadi peningkatan kasus sebesar 559 persen dari jumlah 120 menjadi 791. Informasi yang salah dan ketidakpercayaan  Berjangkitnya kembali penyakit campak di beberapa negara, telah dikaitkan dengan klaim medis yang tidak berdasar yang mengaitkan vaksin campak dengan autisme, yang telah menyebar sebagian di media sosial oleh anggota gerakan "anti-vax" atau anti-vaksinasi. WHO bulan lalu memasukkan "keragu-raguan terhadap vaksin" sebagai salah satu dari 10 ancaman kesehatan global yang paling mendesak pada 2019. "Hampir semua kasus ini dapat dicegah namun anak-anak dapat terinfeksi bahkan di tempat-tempat di mana tidak ada alasan untuk terdampak penyakit ini," kata Fore. "Campak mungkin penyakitnya, tetapi seringkali infeksi yang sebenarnya adalah informasi yang salah, ketidakpercayaan dan kepuasan diri." Di Yaman yang dilanda perang, di mana layanan kesehatan banyak yang runtuh, UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia bergabung dengan pemerintah setempat bulan lalu dalam kampanye untuk memvaksinasi 13 anak berusia enam bulan hingga 15 tahun untuk campak dan rubella. Para pejabat PBB memperkirakan bahwa 92 persen dari anak-anak yang menjadi target harus diberi suntikan dalam waktu satu minggu, yang berakhir pada 14 Februari. Yaman juga masuk dalam daftar "10 besar" UNICEF yang menunjukkan peningkatan terbesar tahun lalu dalam kasus campak dengan kenaikan 316 persen, dari 2.101 kasus pada 2017 menjadi 8.742 kasus pada 2018. Negara-negara lain yang memiliki lonjakan besar kasus campak tahun lalu dibandingkan dengan tahun 2017 adalah Venezuela (4.916 lebih banyak kasus, naik 676 persen), Serbia (4.355 lebih banyak kasus, naik 620 persen), Madagaskar (4.307 lebih banyak kasus, naik 5.127 persen), Sudan (3.496 lebih banyak kasus, naik 526 persen) dan Thailand (2.758 lebih banyak kasus, naik 136 persen). Beberapa negara melihat penurunan jumlah kasus campak yang dikonfirmasi. Di Rumania, kasus yang dilaporkan turun 89 persen dari 8.673 menjadi 943, dan di Indonesia jumlahnya menurun sebesar 65 persen dari 11.389 menjadi 3.995. Nigeria, Pakistan, Italia, dan China juga mengalami penurunan 35 hingga 55 persen. [es/fw]

Tingkat Kasus Malnutrisi dan Penyakit di Kawasan Kemarau Pakistan Luar Biasa Tinggi

Jumat, 01 Maret 2019 Tingkat kasus malnutrisi dan penyakit di kawasan-kawasan yang dilanda kemarau di Pakistan luar biasa tinggi, kata Dr. Thomas Gurtner, Direktur Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) cabang Pakistan.  Ia mengungkapkan, resiko yang dihadapi perempuan dan anak lebih tinggi dibanding laki-laki karena laki-laki sering bekerja di kota di mana tersedia akses yang lebih luas ke makanan dan air besih. Menurut Gurtner, perempuan dan anak sering terpaksa meminum air dari sumber-sumber yang sudah terkontaminasi. Meminum air yang tercemar, katanya, bisa mengakibtkan muntah-muntah, diare dan demam yang bisa mengakibatkan kondisi malnutrisi. Provinsi Sindh dan provinsi Balochistan di Pakistan selatan merasakan akibat paling buruk dari kemarau itu. Diperkirakan lima juta orang terdampak kemarau, kata IFRC, yang menyebutkan bahwa kemarau itu diakibatkan suhu udara yang tidak biasanya tinggi dan curah hujan yang di bawah rata-rata. Gurtner mengatakan IFRC telah menyerahkan bantuan sekitar 315.000 dolar untuk organisasi Sabit Merah Pakistan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 15.000 orang yang paling parah terdampak kemarau itu. [ab]

Dokter Australia Identifikasi Kembar dari 1 Telur dan 2 Sel Sperma

Jumat, 01 Maret 2019 Para dokter di Australia mengatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi kasus kembar kedua yang tampaknya lahir dari pertemuan satu telur dan dua sel sperma, Reuters melaporkan. Bayi kembar laki-laki dan perempuan itu memiliki DNA ibunya, tetapi DNA ayah yang berbeda-beda pada setiap bayi. Mereka disebut sebagai kembar semi-identik dan sebuah penelitian baru di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa kembar seperti itu sangat langka. Satu-satunya kasus yang dilaporkan terungkap pada 2007.  Hampir semua kembar adalah kembar fraternal (dua sel telur dan dua sel sperma menciptakan dua embrio terpisah) atau kembar identik (satu embrio terbelah dua sebelum melanjutkan perkembangan normal masing-masing).  “Ini menegaskan bahwa ada jenis kembar ketiga, yang bukan kembar fraternal maupun identik. Ini akan terasa aneh karena berada di tengah-tengahnya,” kata kepala penulis Dr. Michael Terrence Gabbett dari Universitas Teknologi Queensland di Brisbane kepada Reuters Health melalui telepon.  Setiap sel sperma mengandung setengah DNA ayah. Tapi dari satu sperma dengan sperma lainnya tidak identik karena setiap pria memiliki campuran materi genetik dari kedua orang tuanya, dan setiap saat DNA lengkap itu akan berubah menjadi sperma.  Sebagai contoh, beberapa sperma akan mengandung salinan kromosom Y ayah yang menghasilkan anak laki-laki dan beberapa juga akan membawa kromosom X ayah yang akan berkembang menjadi anak perempuan.  Dalam kasus kembar di Australia, yang sekarang berusia empat tahun dan tinggal di Brisbane, sel telur ibunya dibuahi dengan satu sperma yang membawa kromosom X dan satu sperma yang membawa kromosom Y. Karena USG (ultrasonografi) diambil pada awal kehamilan menunjukkan bahwa kedua janin memiliki plasenta yang sama, dokter menganggap janin itu adalah kembar identik.  Tetapi ketika melakukan USG delapan minggu kemudian, hasilnya adalah satu anak merupakan anak laki-laki dan satunya adalah anak perempuan, sesuatu yang dianggap mustahil untuk kembar identik, tim Gabbett seketika mengetahui bahwa sesuatu yang luar biasa telah terjadi.  Para peneliti mengatakan bahwa setelah pembuahan, DNA dari sel telur dan dua sel sperma terbelah, kemudian terbagi menjadi tiga embrio. Dua diantaranya memiliki cukup DNA sel telur dan DNA sel sperma untuk membuat embrio terus hidup. Embrio yang tersisa, yang hanya memiliki DNA sel sperma, tidak dapat hidup.  Anak laki-laki dan perempuan kembar itu ditemukan memiliki 100 persen DNA ibu yang sama, tetapi hanya membawa 78 persen identik dengan DNA pihak ayah.  Satu-satunya kasus lain dari apa yang disebut kembar sesquizygotic yang pernah dilaporkan ini, diidentifikasi pada 2007. Mereka menjadi perhatian dokter karena salah satunya memiliki organ genital yang ambigu.  Untuk melihat apakah fenomena itu mungkin lebih umum daripada yang diyakini dokter, tim Gabbett memeriksa data internasional dari 968 kembar fraternal dan orang tua mereka. Tidak ada yang menunjukkan pola yang sama.  Karena kombinasi aneh dari DNA yang diambil dari dua sperma, dokter khawatir bahwa si kembar mungkin rentan terhadap kanker organ reproduksi.  “Ternyata anak perempuan itu baru saja mengalami beberapa perubahan dalam ovariumnya yang membuat orang-orang tidak nyaman, jadi sayangnya dia harus mengangkat indung telurnya,” kata Gabbett. “Sementara sang laki-laki terus memantau testisnya” dengan USG.  Anak perempuan itu juga memiliki gumpalan darah di lengannya, namun hal itu tidak dianggap terkait dengan pembuahan tidak lazim yang dialaminya.  “Selain itu, kedua bayi kembar itu adalah anak-anak yang cantik, baik, dan sehat," kata Gabbett. [er/ft]  

Kasus Campak Meningkat di Seluruh Dunia

Jumat, 01 Maret 2019 Badan Kesehatan Sedunia mengatakan wabah dan kematian akibat campak meningkat di seluruh dunia. Hal ini mengancam kemajuan yang telah dicapai untuk mengurangi penyakit yang kerap menelan korban jiwa ini. WHO menyerukan aksi segera untuk menyudahi meluasnya penyakit yang sangat menular ini.

Bayi Terkecil di Dunia Akhirnya Bisa Pulang ke Rumah

Kamis, 28 Februari 2019 Seorang bayi laki-laki yang hanya berbobot 268 gram ketika lahir akhirnya dipulangkan ke rumah setelah beberap bulan dirawat di sebuah rumah sakit Tokyo, Reuters melaporkan, mengutip pernyataan Universitas Keio, Rabu (27/2). Menurut Universitas Keio, bayi itu adalah bayi laki-laki terkecil di dunia yang dapat bertahan hidup. Bayi tersebut lahir melalui operasi sesar Agustus lalu, setelah gagal menambah berat badan selama kehamilan dan membuat dokter khawatir bahwa hidupnya dalam bahaya.  ​Bayi itu dirawat di unit perawatan intensif sampai berat badannya mencapai 3,2 kilogram dan dia diperbolehkan pulang pada 20 Februari, kata Dr. Takeshi Arimitsu dari Fakultas Kedokteran Universitas Keio, Departemen Pediatri.  “Saya bersyukur bahwa dia telah tumbuh sebesar ini, karena sejujurnya saya tidak yakin dia bisa bertahan,” kata ibu bayi tersebut kepada Reuters.  Rekor sebelumnya dipegang oleh seorang anak laki-laki yang lahir di Jerman pada 2009 dengan berat 274 gram, menurut Tiniest Babies, lembaga yang mencatat bayi-bayi berbobot kecil. Tiniest Babies dikelola oleh Universitas Iowa.  Menurut lembaga itu, bayi perempuan terkecil lahir dengan bobot 252 gram pada 2015 juga ada di Jerman. [er/ft]  

WHO: Lebih 1 Miliar Orang Bisa Alami Gangguan Pendengaran akibat Suara Musik Keras

Rabu, 27 Februari 2019 Badan-badan PBB memperingatkan bahwa lebih dari 1 miliar orang usia 12 hingga 35 tahun berisiko kehilangan pendengaran karena mendengarkan musik keras di perangkat audio mereka.

Studi: Ganja Medis Legal, Risiko Remaja Gunakan Ganja Cenderung Lebih Rendah

Selasa, 26 Februari 2019 Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ketika penggunaan ganja untuk keperluan medis dilegalkan di suatu negara bagian, kecenderungan para remajanya untuk menggunakan ganja, lebih rendah.

China Laporkan Wabah Demam Babi Afrika

Senin, 25 Februari 2019 China telah mengukuhkan wabah demam babi Afrika di provinsi Hebei, China utara, kata pemerintah, hari Minggu (24/2), sementara penyakit yang sangat mudah menular itu menyebar melalui babi yang di China ditemukan paling banyak di dunia. Wabah itu terjadi di sebuah peternakan di distrik Xushui di kota Baoding yang memelihara 5.600 babi, sebagian di antaranya mati karena demam babi, kata Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan dalam sebuah pernyataan di situsnya, tanpa memberikan jumlah babi yang mati. Peternakan itu telah dikarantina dan semua babi peliharaannya telah dibunuh, katanya menambahkan. China telah melaporkan lebih dari 100 kasus penyakit ini di 27 provinsi dan wilayah sejak Agustus lalu. Penyakit ini mematikan bagi babi tetapi tidak membahayakan manusia. [lt]

Anak yang Lebih Muda dalam Keluarga Rentan Perisakan

Kamis, 21 Februari 2019 Anak-anak berusia lebih muda dalam keluarga besar rentan mengalami perisakan. Pelaku perisakan biasanya anggota keluarga yang usianya lebih tua, misalnya sang kakak. Bagaimana orang tua bisa mencegah hal tersebut.?

Tarik-Menarik Kebijakan “Satu Anak” di China

Rabu, 20 Februari 2019 Setelah puluhan tahun menerapkan kebijakan "satu anak", pemerintah China saat ini berusaha membujuk para keluarga untuk menambah anak, di tengah ancaman krisis populasi dengan peningkatan populasi manula dan penurunan jumlah kelahiran. Tapi upaya itu menghadapi banyak tantangan, termasuk dari pemda.