Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Indeks Berita

Mongolia Waspada Usai Pasien Wabah Pes Meninggal

Sabtu, 08 Agustus 2020 Pihak berwenang di sebuah kota di wilayah Mongolia Dalam, China, mengeluarkan peringatan level tiga setelah seorang pasien yang menderita penyakit pes meninggal dunia. Pasien tersebut mengalami kegagalan pada beberapa organ tubuhnya, media pemerintah melaporkan pada hari Sabtu (8/8). Kasus pes sering terjadi di China, meskipun wabah pes dinilai semakin jarang terjadi. Dari 2009 hingga 2018, China melaporkan adanya 26 kasus dan 11 kematian akibat pes. Pasien dipastikan mengidap pes, People's Daily melaporkan, mengutip pengumuman dari komite kesehatan kota Bayan Nur. Wabah pes, yang dikenal sebagai "Maut Hitam" di Abad Pertengahan, adalah penyakit yang sangat menular dan seringkali berakibat fatal yang sebagian besar disebarkan oleh hewan pengerat, seperti tikus. Komite kesehatan mengeluarkan peringatan level tiga. Peringatan tersebut berlaku mulai Jumat (7/8) hingga akhir 2020 demi mencegah penyebaran penyakit itu, People's Daily melaporkan. Kejadian tersebut merupakan kematian kedua pasien pes yang sebelumnya dilaporkan terjadi pada bulan ini di wilayah Mongolia Dalam, yaitu di Baotou. Pada hari Kamis (6/8), pihak berwenang di kota Baotou, yang berbatasan dengan kota Bayan Nur, melaporkan bahwa seorang pasien dengan “infeksi saluran pencernaan” meninggal karena kegagalan sistem peredaran darah. Otoritas Bayan Nur telah mengisolasi di tempat tinggal pasien yang meninggal dan mengkarantina tujuh kontak dekat pasien. Namun sejauh ini mereka dinyatakan negatif dari penyakit tersebut dan telah mengonsumsi obat-obatan sebagai tindakan pencegahan. [ah]

Ribuan Dokter Muda Gelar Aksi Mogok di Korsel

Sabtu, 08 Agustus 2020 Ribuan dokter muda di Korea Selatan menggelar aksi mogok, Jumat (7/8), untuk memprotes kebijakan pemerintah terkait sekolah kedokteran. Aksi itu menimbulkan kecemasan mengenai pengobatan pasien di tengah-tengah wabah virus corona. Para dokter yang masih dalam status magang dan dalam pelatihan ini menentang rencana pemerintah untuk meningkatkan jumlah siswa yang dapat diterima di sekolah-sekolah kedokteran untuk mengatasi kekurangan dokter di Korea Selatan. Para dokter tersebut menyebut rencana itu kebijakan populis yang akan menghabiskan uang pajak dan menyuburkan sekolah-sekolah kedokteran berkualitas rendah. Dalam sebuah pernyataan di situs internet mereka, para dokter muda itu menuduh pemerintah tidak memberi dukungan finansial yang memadai untuk program-program pelatihan mereka dan mereka bekerja dengan gaji yang sangat rendah. Sekitar 70-80 persen anggota Korean Intern Resident Association yang beranggotakan 16.000 dokter terlibat dalam aksi mogok itu. Media-media setempat melaporkan tidak ada kekacauan besar diakibatkan aksi tersebut. Dalam konferensi pers harian terkait wabah virus corona, Jumat (7/8), Wakil Menteri Kesehatan Kim Gang-lip mengatakan, pemerintah menganggap aksi mogok itu sebagai tindakan yang sangat disesalkan. Ia mendesak para dokter untuk tidak mengambil langkah ekstrem yang bisa membahayakan pasien.  Kim mengatakan pemerintah telah mengizinkan rumah-rumah sakit untuk memanfaatkan personel medis alternatif untuk mengatasi kekurangan dokter selama aksi mogok berlangsung. [ab/uh]

Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan Berdosis Rendah

Jumat, 07 Agustus 2020 Para ilmuwan di London yang membuat vaksin tiruan (sintetis) berdosis rendah untuk Covid-19 kini memperluas pengujiannya dengan mencari lebih banyak sukarelawan. Tim yang merintis usaha ini mengaku, tujuannya adalah untuk menghasilkan vaksin murah yang tersedia di seluruh dunia. 

Jumlah Orang Muda yang Terjangkit Covid-19 Membubung

Rabu, 05 Agustus 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kenaikan tiga kali lipat jumlah kasus Covid-19 di kalangan orang muda selama lima bulan ini, dan menyatakan lonjakan itu terjadi karena kurangnya perhatian mereka untuk menjaga jarak sosial. WHO melaporkan bahwa 15 persen dari enam juta kasus yang muncul antara akhir Februari dan pertengahan Juni terjadi di kelompok usia antara 15 dan 24 tahun. Sebelum akhir Februari, angkanya adalah 4,5 persen. “Kami telah katakan sebelumnya dan akan kami katakan lagi: orang-orang muda bukannya tidak rentan,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. “Orang-orang muda dapat terjangkit, orang-orang muda dapat meninggal, dan orang-orang muda dapat menularkan virus ke orang lain.” Para pakar kesehatan menyatakan generasi muda cenderung lebih kecil kemungkinannya mengenakan masker dan menerapkan jarak sosial. Mereka juga lebih besar kemungkinannya untuk tetap pergi bekerja, mengunjungi pantai, bar, atau berbelanja. AS, Perancis, Jerman, Spanyol dan Jepang termasuk di antara negara-negara yang melaporkan pertumbuhan terbesar penularan di kalangan generasi muda. Para pejabat di Tokyo telah menyatakan mereka berencana melakukan tes virus corona di kawasan hiburan di kota itu, di mana banyak orang-orang muda berkumpul. Mereka juga meminta kelab-kelab malam untuk memastikan pengunjungnya menjaga jarak. Statistik baru itu muncul sementara jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di seluruh dunia telah melebihi 700 ribu orang di antara sekitar 18,5 juta orang yang terjangkit, sebut Coronavirus Resource Center di Johns Hopkins University. Banyak negara yang mengalami kenaikan dramatis kasus dan kematian akibat Covid-19, termasuk di antaranya Australia. Rekor penambahan terbesar dalam satu hari, 725 kasus baru dan 15 kematian, tercatat di negara bagian Victoria, di mana kota terbesar kedua di negara itu, Melbourne, berada. Di AS, yang memimpin di dunia dalam jumlah total kasus dan kematian akibat Covid-19, para gubernur enam negara bagian telah membentuk aliansi untuk membeli 3,5 juta perangkat tes cepat virus corona. Prakarsa yang melibatkan Louisiana, Maryland, Massachusetts, Michigan, Ohio dan Virginia ini diambil di tengah-tengah ketiadaan strategi pengujian di tingkat nasional dari pemerintah federal di Washington, selain keterlambatan keluarnya hasil tes oleh laboratorium-laboratorium swasta. Sejumlah laboratorium melaporkan keterlambatan lebih dari sepekan. Gubernur Maryland Larry Hogan, yang berunding di aliansi itu dalam hari-hari terakhirnya sebagai ketua Asosiasi Gubernur Nasional, mengatakan, lembaga amal Rockefeller Foundation akan membantu negara bagian-negara bagian dalam mendanai pembelian perangkat tes virus corona. [uh/ab]

Posisi Obat Herbal di Tengah Upaya Atasi Corona

Rabu, 05 Agustus 2020 Sejumlah klaim berulang kali disampaikan pihak-pihak yang mengaku menemukan obat untuk mengatasi virus corona. Kementerian Pertanian pernah mempromosikan kalung anticorona berbahan eukaliptus. Satu pekan terakhir, masyarakat juga dihebohkan wawancara artis dengan seseorang yang mengaku menemukan herbal antibodi Covid-19. Pakar obat tradisional dan peneliti di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Zullies Ikawati menyarankan masyarakat untuk berhati-hati. Dia mengapresiasi siapapun yang berupaya menemukan obat untuk pasien terinfeksi virus corona. Faktanya, sampai saat ini industri farmasi belum mampu menyediakannya. Tetapi Zullies juga mengingatkan, banyak pihak yang kadang-kadang mengambil kesempatan di tengah kepanikan masyarakat. “Nah, obat herbal biasanya belum sampai uji klinik, maka kita tidak bisa membuat klaim yang terlalu tinggi. Status jamu tidak boleh diklaim anti virus, karena itu terlalu tinggi untuk jamu. Klaim itu harus dibuktikan secara klinis,” ujar Zullies kepada VOA. Jamu sebagai produk herbal tidak bisa berperan sebagai obat. Dia harus diposisikan sesuai dengan perannya masing-masing yang telah dikenal masyarakat. Karena bukan obat, produk jamu hanya bisa dipromosikan misalnya membantu melegakan tenggorokan atau meningkatkan daya tahan tubuh. Zullies menyebut salah satu contoh produk herbal, yaitu kalung berbahan minyak eukaliptus yang diklaim anti corona. Meski dalam uji coba di laboratorium klaim itu bisa saja terbentuk, saat digunakan kepada manusia belum tentu akan menunjukkan hasil yang diinginkan. Karena itulah, Zullies setuju dengan langkah kementerian yang kemudian melakukan koreksi atas klaim awal mereka. Produk herbal biasanya dikenal masyarakat karena pengalaman empirik selama bertahun-tahun. Bahan-bahan tertentu diyakini bisa membantu mengeluarkan dahak, bahan lain melegakan tenggorokan, kemudian bahan yang berbeda dikonsumsi ketika perempuan sedang memasuki periode menstruasi. Tidak seperti obat yang merupakan produk senyawa tunggal untuk fungsi pengobatan tertentu, bahan herbal memiliki banyak senyawa beragam. “Sehingga umumnya sifatnya holistik, kita minum jamu itu untuk memelihara kesehatan secara umum, jadi bisanya untuk menjaga kebugaran, meningkatkan daya tahan,” tambah Zullies. Tidak Ada Jamu Covid Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Rabu (5/8) menyelenggarakan dialog mengenai obat tradisional untuk infeksi virus corona ini. Dialog ini diselenggarakan antara lain untuk meluruskan pemahaman masyarakat, terkait klaim penemuan produk herbal antibodi Covid-19. Klaim ini disampaikan seseorang bernama Hadi Pranoto, dalam wawancara di kanal YouTube milik penyanyi Anji. Selain itu, Satgas juga merasa perlu memberikan panduan bagi masyarakat terkait obat tradisional kaitannya dengan Covid-19. Berbicara dalam dialog ini, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Akhmad Saikhu. Hadir pula Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, Togi Junice Hutadjulu. Menjawab pertanyaan mengenai peran obat herbal tradisional bagi penyembuhan pasien Covid-19, Ahmad Saikhu menegaskan karena penyebab virus, obat satu-satunya adalah antivirus. Sampai saat, tegas dia, semua masih dalam proses pengembangan, termasuk di Indonesia. Produk herbal, lanjutnya, tidak bisa menyembuhkan Covid-19. Namun, warisan tradisi ini bisa berperan meringankan gejala penyakit penyerta yang diderita pasien. Menurut data Kementerian Kesehatan, hipertensi, diabetes, jantung, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit ginjal dan asma adalah sejumlah penyakit penyerta yang ditemui pada pasien terinfeksi virus corona. “Jamu atau herbal bisa dipakai untuk meringankan gejala-gejala penyakit penyerta tersebut. Tujuannya seperti itu, jadi jamu itu bukan untuk menyembuhkan Covid, seperti beberapa informasi yang misleading beberapa hari ini. Jamu ini bisa dipakai untuk meringankan, untuk mencegah agar penyakit komorbid-nya tidak menjadi lebih parah lagi,” ujar Saikhu. Klaim Herbal Tidak Berdasar Sedangkan Togi Junice Hutadjulu menguraikan, perlu proses panjang hingga sebuah produk herbal masuk dalam kriteria tertentu. Produk yang disebut jamu, adalah bahan-bahan yang secara empiris diyakini masyarakat bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Produk ini tersedia luas dan diperjualbelikan bebas di masyarakat. Satu tingkat diatas jamu adalah obat herbal terstandar. Ini adalah produk herbal yang sudah lolos melewati uji praklinis, yaitu uji coba pada binatang. Di atas itu adalah fitofarmaka, yaitu produk herbal yang telah melewati ujiklinis, sebagaimana obat pada umumnya. “Sampai saat ini pengembangan obat belum ada yang bisa di klaim ataupun diindikasikan untuk obat Covid -19. Sedangkan obat herbal juga belum. Pengembangan vaksin sekarang sedang berjalan, Badan POM mengawal untuk memastikan bahwa obat ini nantinya akan aman digunakan dalam rangka pencegahan ataupun treatment dalam Covid-19,” kata Togi. BPOM terus melakukan evaluasi terhadap produk herbal yang beredar di masyarakat. Produk yang telah lolos evaluasi akan diberikan ijin edar. Setidaknya, masyarakat yang memanfaatkan produk herbal, dapat menjadikan ijin edar ini sebagai salah satu pedoman ketika memilihnya di pasaran. “Dalam kondisi saat ini, banyak sekali tawaran-tawaran atau endorse, bahwa klaimnya adalah produk ini menyembuhkan Covid, dengan harga yang murah dan sebagainya. Ini tentunya kita berharap masyarakat menjadi masyarakat yang cerdas,” tambah Togi. [ns/ab]

WHO Anjurkan Perempuan Pengidap Covid-19 Beri ASI

Rabu, 05 Agustus 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi. Dan kini dikatakan, ASI juga baik bagi ibu yang tertular virus baru corona. Selagi dunia memperingati Pekan Menyusui, 1-7 Agustus, lembaga-lembaga kesehatan mendorong perempuan untuk menyusui bayinya.  Para pendukung ASI khawatir, layanan bagi ibu yang baru melahirkan, terganggu karena COVID-19. Peraturan jaga jarak fisik semakin menyulitkan para ibu mendapat dukungan dan dorongan untuk menyusui bayi. Lawrence Grummer-Strawn adalah ketua unit WHO yang berfokus pada makanan dan nutrisi dalam sistem perawatan kesehatan. Ia mengatakan, WHO dan Dana PBB untuk Anak-Anak mengimbau peningkatan investasi untuk memastikan perempuan menyusui bayinya. “Itu sangat penting saat ini karena kami mendokumentasikan melalui pemodelan bahwa sekitar 820 ribu nyawa anak-anak hilang setiap tahun karena kurangnya pemberian ASI. Dan, secara ekonomi, tercatat kerugian sekitar $300 miliar per tahun akibat hilangnya produktivitas ekonomi karena kurangnya menyusui.” Lembaga-lembaga kesehatan mengatakan ASI melindungi anak dari diare, penyebab utama kematian anak di negara-negara berpenghasilan rendah. ASI melindungi bayi dari infeksi saluran pernapasan, leukemia, dan obesitas pada masa kanak-kanak. Bagi ibu, ASI juga melindungi dari kanker payudara, kanker ovarium dan diabetes tipe-2. Grummer-Strawn mengatakan perempuan pengidap COVID-19 tidak perlu takut menyusui bayi mereka. Dia menyatakan, bayi mereka akan aman. Dia menambahkan, ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif selama enam bulan akan memberi mereka awal terbaik dalam hidup. “Risiko penularan virus corona dari ibu yang positif COVID kepada bayinya tampak sangat rendah. Di seluruh dunia belum ada catatan penularan apa pun melalui ASI. Bukan berarti kemungkinan itu tidak ada, tetapi sangat langka,” tambah Grummer-Strawn. Grummer-Strawn mengatakan WHO sangat prihatin atas apa yang ia sebut praktik curang industri susu formula. Perusahaan-perusahaan, kata Grummer-Strawn, menyuap tenaga kesehatan untuk mendorong para ibu memberi susu formula kepada bayi, dan memberi sampel gratis kepada para ibu agar mereka ketagihan pada produk itu. Dalam konteks COVID-19, Grummer-Strawn menambahkan, banyak perusahaan tampil sebagai pakar yang bisa memberi saran dan dukungan kepada para ibu pada masa sulit ini. Dia mengatakan, dokter-dokter yang muncul di situs perusahaan-perusahaan itu memberi saran tentang perawatan bayi pada masa COVID-19 ini dengan membawa pesan negatif tentang menyusui.[ka/lt]

Vaksin Covid-19 Masuki Uji Coba Fase 3 

Senin, 03 Agustus 2020 Dua calon vaksin virus corona memasuki tahap akhir pengujian minggu lalu. Secara keseluruhan kini ada lima vaksin yang sedang dalam tahap pengujian. Para ilmuwan berharap selambatnya akhir tahun ini mereka dapat mengetahui apakah di antara vaksin itu ada yang aman dan manjur. Minggu lalu dilakukan tes vaksin di 120 lokasi di seluruh dunia. Vaksin dikembangkan oleh perusahaan obat BioNTech, Pfizer dan Fosun Pharma China. Di Amerika Serikat, 89 tempat mengadakan tes untuk vaksin buatan Moderna.  Tes-tes itu merupakan uji klinis terakhir sebelum disetujui. Frank Eder memimpin penelitian di situs Moderna di New York. “Setelah kita melewati percobaan ini, vaksinnya dapat kita berikan ke masyarakat umum dan memproduksinya secara massal,” jelasnya.  Namun, sebelum hal itu terjadi, uji coba ini akan mengukur seberapa baik vaksin bekerja dan seberapa aman vaksin itu pada manusia. Meskipun teknik-teknik baru membantu menyiapkan ampul-ampul vaksin itu dalam waktu singkat, para pejabat mengatakan semua pemeriksaan keamanan normal harus dilakukan. Tes yang baru dimulai adalah bagian penting dari proses itu, kata dokter ahli penyakit menular Universitas Vanderbilt, William Schaffner.  "Ini adalah vaksin teknologi baru untuk virus baru pada manusia. Kita harus sangat berhati-hati dengan hal itu dan meneliti keamanan vaksin dengan sangat baik. Informasi itu didapat dari percobaan yang besar, kita menyebutnya percobaan 'fase tiga'. Percobaan itu lah yang saat ini sedang berlangsung,” ujarnya. Uji coba fase 3 itu melibatkan puluhan ribu partisipan, untuk melihat apakah ada efek samping yang kurang baik. Para ilmuwan berharap hasilnya akan diperoleh sebelum akhir tahun.  Vaksin lain dalam fase 3 berasal dari Universitas Oxford dan perusahaan obat AstraZeneca. Seperti vaksin Moderna dan BioNTech, vaksin buatan Oxford memicu respons kekebalan pada tes awal. Tetapi itu tidak cukup, kata pimpinan proyek Oxford, Sarah Gilbert.  “Kami tidak tahu seberapa kuat respons imun itu. Jadi kami tidak bisa mengatakan hanya dengan melihat respons imun, apakah vaksin ini akan melindungi orang atau tidak. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan percobaan besar-besaran fase tiga,” jelas Sarah.  Bahkan sebelum uji coba itu membuahkan hasil, pemerintah Inggris telah memberi perusahaan-perusahaan jutaan dolar dan pemerintah Amerika mengeluarkan miliaran dolar untuk mengusahakan vaksin itu. Dengan cara demikian, sebagian dosis akan segera siap jika hasilnya positif.  Setidaknya 17 vaksin lain sedang dalam uji klinis di seluruh dunia. Para ahli mengatakan lebih banyak lebih baik, karena vaksin yang berbeda mungkin bekerja paling baik untuk kelompok orang yang berbeda. [lt/ii] 

Penerima Transplantasi Wajah Sebagian Pertama AS, Meninggal Dunia

Minggu, 02 Agustus 2020 Penerima transplantasi wajah sebagian pertama di AS telah meninggal dunia. Dia meninggal 12 tahun setelah menjalani pembedahan. Klinik Cleveland mengatakan, Sabtu (1/8), bahwa Connie Culp, 57 tahun, meninggal dunia pada Rabu (29/7) di klinik di Ohio itu karena komplikasi dari sebuah infeksi yang tak terkait dengan transplantasi wajahnya. Pembedahan dilakukan di klinik tersebut pada 2008. Dr. Frank Papay adalah kepala institut bedah dermatologi dan plastik Klinik Cleveland dan termasuk anggota tim bedah Culp. Papay mengatakan dalam pernyataan bahwa Culp merupakan sosok yang kuat karena hingga kini "dia merupakan pasien transplantasi wajah yang paling panjang umurnya." Suami Culp menembak wajahnya pada 2004 dalam percobaan pembunuhan dan bunuh diri yang berhasil digagalkan. Suaminya dipenjara tujuh tahun. Insiden itu menghancurkan hidung Culp, menghancurkan pipinya dan merusak penglihatannya.  Culp menjalani 30 operasi. [vm/ft]

Keterlibatan Masyarakat Efektif Kurangi Sebaran Keong Pembawa Skistosomiasis di Poso

Kamis, 30 Juli 2020 Pelibatan masyarakat dalam Gerakan Masyarakat Mandiri Berantas Keong Skistosomiasis (Gema Beraksi) oleh Pemerintah Kabupaten Poso sejak 2018 berhasil mengurangi sebaran habitat keong pembawa penyakit demam keong (skistosomiasis) di dataran tinggi Bada di Kecamatan Lore Barat. Kabupaten Poso berupaya kuat memberantas habis penyakit itu di 2025. Dalam dua tahun terakhir, empat desa di kecamatan Lore Barat, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah berhasil mengurangi sebaran lokasi habitat fokus keong oncomelania hupensis lindoensis untuk memutus mata rantai penularan penyakit skistosomiasis atau demam keong. Keong seukuran bulir padi itu menjadi inang dari larva cacing schistosoma Japonicum yang menginfeksi manusia dan hewan mamalia di dataran tinggi Bada dan Napu. Linus Alipa, Kepala Desa Kageroa Kecamatan Lore Barat di dataran tinggi Bada kepada VOA, Rabu (29/7) menjelaskan sejak 2018, setiap dua pekan sekali, warga masyarakat desa itu bekerja bakti melakukan pembersihan enam lokasi fokus keong yang berada di sekitar pemukiman masyarakat. Keong pembawa penyakit skistosomiasis dapat dengan mudah berkembang di area yang tergenang air tenang dan dangkal (kedalaman di bawah setengah meter) serta tertutup curahan sinar matahari, seperti saluran air, sawah, kolam danceruk-ceruk tanah yang tidak terawat. “Beberapa kegiatan kami yaitu di fokus keong tersebut ada tanaman-tanaman masyarakat. Melalui pendekatan dari pemerintah tanaman itu dimusnahkan sehingga tidak menghambat sinar Matahari yang masuk,” jelas Linus Alipa. Ditambahkannya, dengan memanfaatkan dana desa, pihaknya- membuat saluran air sepanjang 120 meter untuk mencegah air tergenang di lokasi fokus keong tersebut. Camat Lore Barat Ruly Labulu menjelaskan Gema Beraksi yang diprakarsai oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Poso di 2018 menjadi pendorong warga masyarakat di desa Kageroa, Tuare, Tomehipi dan Lengkeka untuk ikut terlibat aktif bersama pemerintah menanggulangi keberadaan habitat keong itu. “Semua stakeholder yang terlibat disana termasuk dinas pertanian, perikanan, pekerjaan umum yang memang kita sama-sama. Masyarakat juga jadi semangat karena ada dukungan dari semua stakeholder yang ada, ”Jelas Ruly Labulu. Dikatakannya dari 26 lokasi fokus keong itu, kini tersisa hanya satu lokasi di desa Lengkeka, sementara di tiga desa lainnya tidak lagi ditemukan keong yang mengandung larva cacing Schistosoma tersebut. Upaya penanggulangan lokasi fokus keong itu di desa Lengkeka terkendala oleh dampak banjir bandang pada Maret 2020. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Poso Taufan Karwur mengatakan penurunan jumlah lokasi fokus keong itu berkontribusi terhadap penurunan prevalensi penularan terhadap manusia yangkini mencapai nol persen di Lore Barat. Sebelumnya tingkat prevalensi infeksi kepada manusia di Lore Barat berada pada kisaran 1,9 hingga 2,1 persen. “Kemudian survei prevalensi terhadap manusia terjadi penurunan yang luar biasa, nol persen, tidak lagi ditemukan penderita skistosomiasis tahun 2019. Ini kemudian tahun 2020, saya juga mendapat laporan survei 2020, prevalensi Schisto di Bada juga tetap nol persen” Taufan Karwur optimis bahwa upaya pengendalian penularan skistosomiasis di Kabupaten Poso dalam dua tahun terakhir sudah sesuai dengan peta jalan eradikasi penyakit demam keong 2018-2025. Selain di Lore Barat, upaya pembersihan fokus keong itu juga dilakukan di 19 desa lainnya. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Poso 2018 silam, menunjukkan ada269 lokasi fokus keong tersebut di 23 desa di lima kecamatan. “Harapan kami supaya gerakan (Gema Beraksi) ini terus dilanjutkan oleh masyarakat hingga benar-benar skistosomiasis tereradikasi, bisa benar-benar dimusnahkan. Karena pekerjaan rumah kita di kabupaten Poso bukan cuma di Lore Barat, masih ada Lore Utara, Lore Timur dan Lore Piore yang ada penurunan infeksi ke manusia tapi belum sampai nol persen,” ungkap Taufan Karwur. Di Indonesia, skistosomiasis hanya ditemukan di dataran tinggi Napu dan Bada di Kabupaten Poso serta di dataran tinggi Lindu Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. [yl/ab]

Hilangnya Indera Pengecapan dan Penciuman karena Covid-19 Hanya Sementara

Rabu, 29 Juli 2020 Salah satu gejala virus corona (Covid-19) yang paling membuat frustasi  hilangnya indera penciuman. Para ilmuwan sekarang mengatakan mereka mengerti mengapa itu terjadi. Para ahli yang menulis dalam jurnal Science Advances mengatakan, virus corona menyusup ke dalam sel-sel yang memberikan dukungan struktural utama pada neuron sensoris,  yang mendeteksi bau dan mengirimkan pesan-pesan itu ke otak. Karena indera penciuman terkait dengan indera perasa, coronavirus juga memengaruhi kemampuan untuk mencicipi makanan. Peneliti Harvard Medical School mengatakan 90 persen dari pasien Covid-19 yang pulih yang kehilangan indra penciuman dan rasanya kembali. "Setelah infeksi hilang, neuron penciuman tampaknya tidak perlu diganti atau dibangun kembali dari awal," profesor neurobiologi Dr. Sandeep Robert Datta menulis dalam studi Science Advances. "Tapi kami membutuhkan lebih banyak data dan pemahaman yang lebih baik tentang mekanisme yang mendasari untuk mengkonfirmasi kesimpulan ini." Dalam studi terpisah, para ilmuwan masih mencoba untuk menyimpulkan apakah mungkin terinfeksi Covid-19 dua kali. Mereka mengatakan virus corona khusus yang menyebabkan Covid-19 adalah baru dan banyak yang masih belum diketahui. [ka/ft]

Ilmuwan Semakin Dekat ke Tes Darah untuk Deteksi Alzheimer 

Rabu, 29 Juli 2020 Hasil penelitian baru meningkatkan harapan bahwa dalam waktu dekat mungkin ada cara yang sederhana dan bisa diandalkan untuk membantu dokter mendiagnosis bentuk demensia yang paling umum. Tim peneliti mengatakan tes darah percobaan mampu membedakan orang dengan penyakit Alzheimer dari mereka yang tidak akan mengalaminya dalam beberapa penelitian. Akurasinya berkisar antara 89 persen hingga 98 persen, meskipun tes itu masih membutuhkan lebih banyak validasi. Beberapa perusahaan sedang mengembangkan tes-tes, yang mengukur satu protein yang merusak otak pengidap penyakit tersebut. Hasilnya dibahas dalam konferensi Alzheimer hari Selasa, dan sebagian diterbitkan dalam Journal of American Medical Association.  Lebih dari 5 juta orang di Amerika dan banyak lagi di seluruh dunia menderita Alzheimer. Obat yang ada saat ini hanya meredakan gejala, sementara tetapi tidak memperlambat terjadinya kepikunan.[ka/pp]

PM Johnson Serukan Rakyat Inggris agar Turunkan Berat Badan

Selasa, 28 Juli 2020 Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mendesak rakyat Inggris untuk berolahraga dan mengurangi berat badan. Dia mengatakan telah melakukan itu sejak sembuh dari penyakit COVID-19 awal tahun ini. Kantor PM memperkenalkan kampanye "Kesehatan Lebih Baik" pada Senin (27/7) dan merilis sebuah video dirinya menjalankan anjingnya dan menjelaskan tentang manfaat olahraga rutin. Johnson mengatakan pada puncak sakitnya, ketika dia dibawa ke unit perawatan intensif untuk dirawat, dia sangat kelebihan berat badan. Setelah keluar dari rumah sakit, Johnson mengatakan dia mulai jogging dan kini berat badannya telah berkurang lebih dari enam kilogram. Anjuran Johnson itu disampaikan setelah sebuah laporan baru-baru ini dari Kesehatan Masyarakat Inggris yang memperlihatkan bahwa warga yang kelebihan berat badan dan obesitas, berisiko tinggi mengidap penyakit parah dan mengalami kematian akibat COVID-19. Johnson mengatakan mengurangi berat badan dan menjadi bugar juga membantu Dinas Kesehatan Nasional agar tidak kewalahan menangani pasien. Data pemerintah menunjukkan lebih dari 60% warga Inggris kelebihan berat badan, demikian pula satu dari tiga anak. Data itu mengindikasikan bahwa anak-anak yang kelebihan berat badan, lima kali lebih mungkin menjadi orang dewasa yang kelebihan berat badan. [vm/jm]

PM Inggris Sebut Aktivis Antivaksinasi “Gila”

Sabtu, 25 Juli 2020 Sewaktu mengunjungi sebuah pusat medis di London untuk mempromosikan program imunisasi flu pada hari Jumat (24/7), PM Inggris Boris Johnson menyebut para penentang vaksinasi sebagai “nuts” atau gila. Johnson mengeluarkan pernyataan itu sewaktu ia berbincang dengan para perawat mengenai pentingnya program vaksinasi flu yang luas sewaktu musim dingin menjelang. Ia mengatakan kebutuhan akan vaksinasi semacam itu jauh lebih penting daripada sebelumnya untuk mencegah sistem kesehatan masyarakat nantinya kewalahan dengan pasien flu sementara pandemi Covid-19 berlanjut. Sewaktu ia berdiskusi mengenai program imunisasi, Johnson mencatat sejumlah orang yang tidak membiarkan anak-anak mereka mendapat vaksinasi bagi berbagai penyakit anak-anak. Ia mengatakan, “Sekarang ada orang-orang yang antivaksinasi, mereka gila.” Para aktivis antivaksinasi, kelompok yang vocal menentang imunisasi itu, telah menyelenggarakan protes-protes tidak lama setelah krisis sekarang ini. Mereka meyakini, bertentangan dengan bukti ilmiah, kandungan dalam vaksin dapat merugikan tubuh. Dan pandemi Covid-19 telah memperparah teori konspirasi yang tidak berdasar itu mengenai rencana industri farmasi untuk memproduksi vaksin. Para pakar kesehatan telah berkali-kali menyatakan tidak ada bukti virus corona sengaja diciptakan atau disebarkan. Mereka juga menegaskan bahwa vaksin bukan hanya aman, tetapi juga penting bagi kesehatan global. PBB pekan lalu memperingatkan tentang penurunan yang memprihatinkan terkait vaksinasi pada anak-anak karena pandemi Covid-19. PBB menyatakan, kemungkinan seorang bayi baru lahir mendapatkan semua vaksin yang direkomendasikan pada usia lima tahun kini kurang dari 20 persen. Johnson mengunjungi fasilitas medis itu sewaktu Inggris mulai memberlakukan peraturan baru mengenai penggunaan masker ketika ke tempat belanja ritel. Mulai Jumat, polisi dapat menetapkan denda 127 dolar bagi mereka yang tidak mematuhi peraturan itu. [uh/ab]

Kasus Covid-19 di Solo Telah Menyebar ke Berbagai Sektor

Selasa, 21 Juli 2020 Penyebaran virus corona menyasar ke berbagai sektor dan membuat jumlah kasus Covid-19 di Solo terus melonjak.

RS Florida Kehabisan Tempat Akibat Lonjakan Kasus COVID

Selasa, 21 Juli 2020 Empat puluh lima rumah sakit di negara bagian Florida, AS, Senin (20/7) melaporkan tentang tidak tersedianya tempat tidur di unit perawatan intensif mereka, sementara lonjakan kasus virus corona di AS menimbulkan tekanan terhadap sistem layanan kesehatan. Florida melaporkan lebih dari 12 ribu kasus baru hari Minggu, hari kelima berturut-turut di mana angka kasus baru tercatat melebihi 10 ribu. Kawasan Miami sangat terpukul oleh wabah itu, dengan sembilan dari 45 rumah sakit yang kewalahan menampung pasien terletak di Kabupaten (County) Miami-Dade. Francis Suarez, Wali Kota Miami, memberlakukan denda lebih keras mulai hari Senin (20/7) bagi siapa pun yang tidak mengenakan masker di tempat umum. Denda bagi pelaku pelanggaran pertama ditetapkan 50 dolar dan akan meningkat hingga 500 dolar untuk yang berulang kali melanggar peraturan itu. Di tempat lain, Wali Kota Los Angeles Eric Garcetti, Minggu (19/7) mengatakan ia sedang di ambang mengeluarkan perintah tinggal di rumah lagi bagi kota terbesar kedua di AS ini. Garcetti menyalahkan pemerintahan Trump atas apa yang ia katakan sebagai kurangnya kepemimpinan nasional dalam memerangi penyakit tersebut. “Ini dipolitisasi sewaktu seharusnya ini membuat bersatu. Kami dibiarkan sendiri sewaktu kami seharusnya mendapat bantuan,” katanya kepada CNN hari Minggu 919/7). “Berhentilah memberitahu masyarakat bahwa ini akan segera berakhir. Kalau kita tidak bersatu sebagai bangsa dengan pemimpin nasional, kita akan lihat lebih banyak lagi orang meninggal,” lanjutnya. Di tingkat nasional, AS mencatat lebih dari 500 kematian dan 63 ribu kasus baru terkonfirmasi pada hari Minggu (19/7), dan sejauh ini memimpin di dunia dalam kedua angka tersebut. Di Eropa, para pemimpin berfokus pada pemulihan ekonomi yang terdampak pandemi, sewaktu mereka berupaya menyepakati suatu paket penyelamatan bernilai ratusan miliar dolar. Pembicaraan itu ditargetkan selesai Sabtu lalu. Tetapi karena sejumlah negara di benua itu tidak menyepakati cakupan rencana tersebut dan apakah paket itu harus memuat pengawasan pengeluaran yang ketat, perundingan berlanjut hingga Senin. Eropa mencatat lebih dari 3 juta kasus Covid-19 terkonfirmasi dan lebih dari 200 ribu kematian. Virus corona telah membuat Uni Eropa terjerumus memasuki resesi yang dalam, dengan ekonom memprediksi ekonomi blok tersebut akan menyusut 8,3 persen tahun ini. Para pejabat kesehatan di Korea Selatan, Senin (20/7) melaporkan kondisi membaik dengan 26 kasus baru terkonfirmasi, dan hanya empat di antaranya yang ditularkan secara lokal. Ini adalah angka terendah dalam dua bulan belakangan. Wakil Menteri Kesehatan Kim Gang-lip mendesak warga agar tetap siaga dalam upaya mereka untuk menghentikan penyebaran virus, mendorong mereka menghindari kerumunan besar dan mempertimbangkan untuk tinggal di rumah selama liburan musim panas. Sementara itu presiden Chili, telah mengumumkan rencana terdiri dari lima bagian untuk memulai kembali aktivitas di negara penghasil tembaga terbesar di dunia itu, setelah sejumlah kawasan menunjukkan tingkat infeksi yang membaik. “Perbaikan selama lima pekan ini memungkinkan kita untuk memulai tahap baru hari ini,” kata Presiden Sebastian Pinera, Minggu (19/7). “Rencana ini, yang akan dilakukan setahap demi setahap, secara berhati-hati, dengan bijak, akan diterapkan secara bertahap dan dengan fleksibel,” ujarnya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, Chili mencatat 2.300 kasus baru hari Minggu, membuat angka totalnya melebihi 328 ribu kasus terkonfirmasi dan hampir 8.500 kematian. [uh/ab]

Pemimpin Korut Kecam Penundaan Pembangunan Rumah Sakit

Senin, 20 Juli 2020 Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, memarahi para pejabat terkait penundaan pembangunan rumah sakit baru di Pyongyang dan memerintahkan agar mereka dipecat. Kantor berita resmi KCNA, Senin (20/7) melaporkan bahwa Kim mencaci para manajer konstruksi dalam kunjungannya baru-baru ini ke lokasi Rumah Sakit Umum Pyongyang yang baru dan “menunjukkan berbagai masalah serius yang muncul dalam organisasi ekonomi terkait dengan pembangunan tersebut.” KCNA menyebutkan Kim secara khusus memanggil komisi pembangunan karena ceroboh menjalankan proyek itu tanpa anggaran pembangunan yang tepat, dan bahwa hal ini membebani rakyat Korea Utara dengan adanya permintaan “proyek-proyek bantuan.” Kim dikutip mengatakan jika “dibiarkan melaksanakan sendiri,” komisi “bisa mencemari citra partai yang berkuasa.” Proyek rumah sakit yang bermasalah itu muncul di tengah-tengah spekulasi bahwa Korea Utara mungkin menghadapi kesulitan mendapatkan bahan-bahan konstruksi karena sanksi-sanksi pimpinan AS terkait program misil dan senjata nuklirnya, serta diperketatnya pengawasan perbatasan karena pandemi virus corona. Korea Utara mengklaim tidak memiliki satupun kasus Covid-19 sejak virus itu pertama kali dideteksi di negara tetangganya, China, akhir tahun lalu. [uh/ab]

Teknologi Deepfakes Jadi Piranti Pemulihan Kesehatan Mental

Senin, 20 Juli 2020 Deepfakes, yang menggunakan mesin dan kecerdasan buatan untuk membuat video yang tampak sangat realistis tetapi palsu, telah diekploitasi untuk tujuan menghibur tetapi tidak etis. Kini satu perusahaan rintisan menunjukkan bagaimana teknologi menukar wajah seseorang dapat menjadi piranti untuk memulihkan kesehatan mental dan praktik terapi. Pernahkah Anda melihat sebuah film atau video dan menyadari aktor yang memerankannya adalah palsu. Deepfakes video atau video-video palsu yang dibuat dengan mesin dan kecerdasan buatan yang canggih, belajar membuat video dari sumber aslinya, biasanya dengan menukar salah satu wajah yang mirip dengan lainnya. Hal ini bisa menghibur, tetapi bisa juga memang sengaja untuk menyesatkan. Tim perusahaan rintisan di Deliberate-AI yakin teknologi menukar wajah itu dapat menjadi kekuatan untuk hal-hal yang baik dan mereka menggunakannya untuk memberdayakan kelompok yang tidak biasa, yaitu pakar kesehatan mental. CEO Deliberate-AI Marc Aafjes mengatakan, “Dokter di klinik memiliki rasa stress secara terus menerus karena tidak punya cukup waktu untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada sesi pertemuan mereka dengan pasien.” Dengan Deliberate-AI, para terapis merekam sesi pertemuan dokter dan pasien dan membuat katalog video yang dapat merujuk kembali pada semua pertemuan itu, sambil tetap menjaga privasi pasien. Disini lah teknologi menukar wajah yang digunakan “deepfakes” memainkan peranan. Pengembang piranti lunak di Deliberate Solutions, Paulo Serodio, mengatakan, “Ini tampaknya seperti orang yang beda, tetapi memiliki informasi emosional dan informasi karakteristik sebagaimana wajah orang tersebut.” Dalam demo yang Anda dengar ini, wajah aktor Nicolas Cage digunakan untuk menutupi wajah pasien hipotesis. Deliberate-AI mendeteksi dan menganalisa suara dan rupa pasien. “Mungkin seseorang berbicara secara berbeda sehingga kita menilai mereka memiliki semacam perubahan mood atau suasana hati, atau sesuatu terjadi dalam kehidupan mereka sehingga mempengaruhi cara mereka berbicara.” Hal senada disampaikan Do Hyun Kwon, salah seorang pengembang piranti lainnya di Deliberate-AI. “Gerakan tangan atau bahasa tubuh yang halus seperti tanda suka, dan lainnya; memberi informasi tentang pasien.” Deliberate-AI akan segera memulai pengujian piranti ini di tiga klinik di New York dan California. Dalam hal ini, memiliki dokter yang “tidak” melihat Anda, dapat menjadi bagian dari pengobatan. [em/jm]

Pakistan akan Mulai Kembali Kampanye Antipolio

Rabu, 15 Juli 2020 Pakistan, Selasa (14/7) menyatakan akan meluncurkan kembali kampanye vaksinasi polio untuk anak-anak dari rumah ke rumah setelah gerakan itu terhenti selama empat bulan karena wabah virus corona. Pengumuman itu dikeluarkan di tengah-tengah penurunan substansial kasus penularan harian Covid-19 di berbagai penjuru Pakistan, satu dari dua negara endemik polio di dunia, selain negara tetangganya yang dicabik-cabik perang, Afghanistan. Para pejabat Pakistan sejauh ini mencatat 55 kasus baru polio tahun ini dari berbagai penjuru negara itu di tengah-tengah peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa “penularan terus meluas.” Gerakan antipolio, yang dimulai pada 20 Juli, pada awalnya bertujuan untuk memvaksinasi sekitar 800 ribu anak-anak balita di distrik-distrik berisiko tinggi di Pakistan, termasuk Karachi dan Quetta, untuk melindungi mereka dari penyakit yang menimbulkan kelumpuhan itu. Asisten Khusus Perdana Menteri mengenai Kesehatan, Zafar Mirza, mengakui perebakan wabah virus corona dan pemberlakuan lockdown untuk mencegah penyebarannya telah berdampak signifikan terhadap sistem layanan kesehatan masyarakat Pakistan yang sekarang ini kekurangan sumber daya dan memburuk. “Dengan terganggunya layanan imunisasi esensial karena pandemi Covid-19, anak-anak terus menghadapi risiko lebih tinggi tertular polio dan penyakit-penyakit lain yang bisa dicegah dengan vaksin,” sebut pernyataan resmi yang mengutip Mirza. Virus corona tiba di Pakistan akhir Februari, mendorong pemerintah untuk mengatur kembali semua daya dan kemampuan program kesehatan yang tersedia guna mendukung upaya-upaya mengawasi dan menanggapi Covid-19. Mirza sendiri pekan lalu mengumumkan ia dites positif terjangkit virus corona. Pakistan mencatat sedikitnya 254 ribu kasus virus corona, dengan lebih dari 5.300 kematian akibat virus itu. Para pejabat melaporkan kurang dari 2.000 kasus baru hari Selasa, menunjukkan penurunan yang konsisten dan substansial dalam penularan per hari. [uh/ab]

Covid-19 Bisa Naikkan Angka Kematian Penderita HIV, TB dan Malaria

Selasa, 14 Juli 2020 Menurut sebuah studi terbaru, dampak dari pandemi virus corona secara substansial kemungkinan bisa meningkatkan jumlah kematian akibat HIV, Tuberculosis (TBC) dan malaria. Pandemi itu mengganggu berbagai layanan yang ditujukan untuk mengendalikan ketiga penyakit tersebut di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Otoritas kesehatan khawatir hal itu akan menghambat kemajuan dalam penanggulangan penyakit itu selama bertahun-tahun. Para ahli telah memperkirakan terjadinya dampak itu sebelumnya. Dalam epidemi, orang akan menghindari berobat karena takut akan wabah penyakit, dan sistem kesehatan yang kewalahan pada akhirnya tidak mampu menyediakan layanan yang diperlukan. Satu studi memperkirakan bahwa gangguan sistem perawatan kesehatan dalam wabah Ebola 2014-15 di Afrika Barat mungkin telah mengakibatkan lebih banyak kematian akibat HIV, TB dan malaria daripada akibat Ebola itu sendiri. Covid-19 telah mengganggu sebanyak 85 persen  program HIV, 78 persen proyek tuberkulosis, dan 73 persen program malaria yang dikelola oleh Global Fund, kemitraan publik-swasta senilai $ 4 miliar yang ditujukan untuk memerangi penyakit ini. [lt/pp]  

Pandemi Covid-19, Hambat Pengobatan Bagi Perempuan dan Anak

Selasa, 14 Juli 2020 Sejauh ini, pandemi virus corona menyebabkan lebih dari 500 ribu kematian di seluruh dunia. Yang tidak tercakup adalah dampaknya terhadap kesehatan ibu, bayi baru lahir, anak, dan remaja. Karena pandemi, anggaran perawatan kesehatan bagi perempuan dan anak dipotong 20 persen, dan akibatnya adalah peningkatan angka kematian dan kesehatan yang lebih buruk pada kelompok-kelompok itu. Di Nairobi, seorang ibu yang hendak melahirkan dilarikan ambulans ke rumah sakit. Ketika pemerintah memberlakukan jam malam untuk meredam pandemi virus corona, dokter menyadari terjadi peningkatan kematian pada perempuan yang melahirkan tanpa bantuan tenaga medis di rumah. Para dokter bertindak untuk menyelamatkan nyawa para calon ibu. Richard Namu, operator tanggap darurat, mengatakan, "Kasus-kasus terkait persalinan menjadi lebih tinggi. Rata-rata kami menerima dua telepon setiap malam." Apa yang terjadi di Nairobi sedang terjadi di seluruh dunia, bahkan di negara-negara kaya. Laporan PBB menunjukkan bahwa layanan kesehatan untuk perempuan, anak-anak Balita, dan remaja dialihkan untuk memerangi pandemi virus corona. Konsekuensinya sangat memprihatinkan. Nicholas Alipui, pakar kesehatan anak dan ibu melahirkan yang berkontribusi dalam penelitian itu, dan panel dalam laporan PBB itu mengungkapkan, "Perkiraan awal memproyeksikan, kita akan melihat dampak besar pada tingkat kematian anak Balita, angka kematian pada bayi baru lahir, angka kematian ibu melahirkan. Kita juga akan mendapati peningkatan jumlah anak yang kurang gizi, anak-anak yang terpapar pelecehan dan kekerasan, hilangnya akses penting ke kesehatan bagi perempuan, dan banyak masalah lain. Jadi, perkiraannya cukup mengerikan." Laporan tersebut memperkirakan, hampir 400 juta anak akan kelaparan karena tidak makan di sekolah-sekolah yang tutup semasa pandemi. Tiga belas juta anak tidak mendapat vaksinasi rutin. Sebagian orangtua takut membawa anak untuk divaksinasi sedangkan beberapa negara kekurangan vaksin. Menurut Dr. Alipui, jika situasi ini berlanjut, kita akan mengalami wabah global penyakit-penyakit yang seharusnya bisa dicegah. "Risiko wabah baru atau kembali mewabahnya penyakit campak, polio dan semua penyakit menular lain, sangat nyata, dan kita harus siap untuk itu," jelasnya. Laporan itu juga menyebutkan bahwa perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia mengalami tingkat pelecehan yang lebih tinggi, peningkatan angka kehamilan, kurangnya akses ke layanan reproduksi, dan seiring dengan itu, semakin banyak ibu hamil meninggal akibat komplikasi persalinan. Dr. Alipui mengatakan, begitu ada, vaksin akan mengakhiri krisis Covid-19-19, tetapi negara-negara kaya, katanya, harus membantu negara-negara yang lebih miskin memperkuat sistem kesehatan mereka, karena pandemi ini akan membuat yang miskin menjadi lebih miskin. [ka/jm]