Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Indeks Berita

Ebola Menyebar di Kongo, Yatim Piatu Meningkat

Rabu, 21 Agustus 2019 Dana anak-anak PBB (UNICEF) melaporkan jumlah anak-anak yatim piatu karena Ebola atau terpisah dari orang tua mereka karena penyakit di Republik Demokratik Kongo timur meningkat lebih dari dua kali lipat sejak April.

Pengobatan Kanker Makin Tepat Sasaran

Senin, 19 Agustus 2019 Pengobatan kanker kini semakin tepat sasaran dan tidak terlalu invasif. Ini artinya, pengobatan sebagian kanker akan memerlukan waktu lebih sedikit dan memproduksi hasil yang lebih baik.

Satu Pasien Baru Ebola Meninggal di Kongo

Jumat, 16 Agustus 2019 Para pejabat Kongo telah mengukuhkan kematian satu dari sedikitnya dua pasien Ebola baru di provinsi Kivu Selatan. Wabah Ebola di Kongo telah menewaskan lebih dari 1.800 orang, tetapi baru pertama kali ini epidemi yang telah berlangsung setahun belakangan menyebar hingga ke Kivu Selatan. Pasien-pasien baru dilaporkan hari Jumat di dekat kota Bukavu di daerah Mwenga, Kongo, dekat dengan perbatasan Rwanda. Mengobati Ebola merupakan tantangan tersendiri bagi pihak berwenang Kongo karena perselisihan antarwarga yang tengah berlangsung. Selain itu, banyak orang yang tidak percaya bahwa Ebola itu nyata. Bukannya mencari pengobatan medis, mereka malah memilih tinggal di rumah, yang membuat virus Ebola menyebar. Upaya-upaya anti-Ebola sejauh ini menghadapi kesulitan akibat warga curiga atas tindakan pencegahan meluas yang dilakukan para petugas layanan kesehatan untuk menghentikan penyebaran penyakit yang sangat menular ini. Karena virus Ebola dapat ditularkan melalui cairan tubuh mayat, pemakaman korban Ebola juga memerlukan pengaturan keamanan yang ketat. Wabah yang sekarang ini dianggap sebagai yang terburuk sejak wabah dua tahun di Afrika Barat yang dimulai pada 2014 dan menewaskan lebih dari 11 ribu orang. [uh/lt]

Bionics Pets Ciptakan Prostetik bagi Hewan Peliharaan

Kamis, 15 Agustus 2019 Anggota tubuh buatan tidak saja untuk manusia. Di dekat kota Washington, seorang orthotist yang sebelumnya membuat prostetik bagi manusia, kini menolong hewan penyandang disabilitas di seluruh dunia. Reporter VOA Deborah Block mengunjungi sebuah ruang kerja yang memproduksi prostetik yang dapat meningkatkan kualitas hidup hewan-hewan tersebut.  Di sebuah ruang kerja yang dilengkapi dengan perangkat canggih, berbagai alat penopang dan prostetik bagi hewan, kebanyakan bagi anjing peliharaan, dibuat. Derrick Campana, pendiri Bionic Pets menganggap produk buatannya sebagai suatu hasil seni. Derrick mengatakan, "Saya membuat setiap perangkat itu dengan tangan, awalnya dengan bahan plester, dan membentuknya dengan plastik dan busa. Dan ini merupakan sebuah seni dalam setiap langkah pembuatannya." Derrick menggunakan perkakas masak yang tidak biasanya untuk menciptakan ‘karya seni” nya itu. "Saya telah menggunakan oven pizza ini selama 16 tahun untuk membuat sebanyak 30 ribu alat buatan bagi bermacam-macam hewan. Kami menggunakan oven itu untuk memanaskan plastik dan mengubah warnanya," jelasnya.  Beberapa hewan kehilangan anggota tubuhnya akibat cedera atau mengalami cacat bawaan sejak lahir. Bionic Pets yang terletak di Sterling, Virginia merupakan satu dari 10 perusahaan di dunia yang membuat perangkat ortotik khusus bagi hewan. Derrick menambahkan, "Kami berhasil membuat alat penopang kaki unta pertama di dunia. Setiap hari saya mendapat permintaan baru dan tantangan baru." Alat penopang itu sudah disesuaikan bagi berbagai jenis hewan peliharaan. Dalam salah satu proyek terbesarnya, Campana pergi ke Afrika untuk mengepaskan alat penopang kaki gajah. "Jabu, seekor gajah Afrika dari Botswana, terperosok ke lubang dan pergelangan kakinya terkilir parah. Jadi saya dapat membuat alat penopang bagi kakinya, sehingga dia tidak dapat diserang dan dapat bepergian ke mana saja." jelasnya. Derrick dapat menolong kebanyakan hewan di berbagai penjuru dunia karena dia mengirim peralatan ke pelanggan untuk membuat cetakan anggota badan hewan yang cacat. Cetakan itu dikirim kembali ke perusahaan Bionics Pets untuk dibuatkan prostetik khusus. Anjing milik Lisa Bogin dipasangi alat penopang sejak kakinya tidak dapat disembuhkan melalui operasi. Lisa mengatakan, "Ia tidak akan menjadi anjing normal lagi dan harus mengenakan alat penopang." Selain itu, Derrick juga membuatkan alat bantu bagi anjing milik Lissi Lackas yang mengalami cedera pada ligamen lututnya. [lj/lt]

Obat Baru Bisa Sembuhkan TBC dalam 6 Bulan

Kamis, 15 Agustus 2019 Para pejabat kesehatan Amerika, Rabu (14/8), menyetujui obat TBC baru, yang apabila digabung dengan dua obat lainnya, bisa menyembuhkan penyakit menular yang mematikan itu. Obat baru itu, Pretomanid, dikembangkan oleh organisasi nirlaba TB Alliance. Studi menunjukkan apabila digunakan bersamaan dengan dua obat lainnya, Pretomanid bisa menyembuhkan 90 persen penderita TBC yang resisten terhadap pengobatan yang ada saat ini. Studi itu juga menunjukkan, campuran ketiga obat tadi bisa menyembuhkan TBC dalam waktu enam bulan, dan juga bisa mencegah penularan bakteri itu hanya dalam beberapa hari. Pengobatan TBC saat ini biasanya mengharuskan penderita minum banyak pil selama berbulan-bulan dan harus mendapat suntikan yang menimbulkan rasa sakit tiap hari. Pengobatan cara itu bisa berlangsung sampai dua tahun, dan kata dokter banyak pasien yang berhenti menjalani pengobatan atau meninggal sebelum sembuh. Penyakit TBC membunuh sekitar 1,6 juta orang tiap tahun dan ditularkan oleh bakteri yang lepas ke udara ketika penderita batuk atau bersin. [ii/pp]

Kontaminasi Debu Timah Hitam, Kawasan Sekitar Notre Dame Paris Ditutup

Rabu, 14 Agustus 2019 Pemerintah Kota Paris telah menutup semua jalan sekitar Katedral Notre Dame supaya para pekerja bisa mulai membersihkan kawasan itu dari kontaminasi debu timah hitam yang berbahaya bagi kesehatan. Debu timah itu ditemukan di kawasan sekitar Notre Dame setelah terjadi kebakaran besar yang menghancurkan menara dan banyak bagian atapnya pada April lalu. “Karena ada sedikitnya 300 ton timah hitam yang dipakai untuk membangun atap dan menaranya, kawasan Notre Dame kini adalah kawasan yang tercemar,” kata pejabat lingkungan Perancis Robin de Bois. “Katedral itu kini dipenuhi bahan-bahan beracun,” tambahnya. Pagar tinggi menghalangi mobil dan pejalan kaki memasuki daerah itu. Sebuah stasiun kereta api didekatnya juga ditutup. Para pekerja akan menggunakan dua cara dekontaminasi. Yang pertama adalah menggunakan semacam gel atau perekat yang akan dioleskan pada semua bangku taman, tiang lampu jalan dan benda-benda lain di tempat umum, untuk menyerap debu timah hitam itu. Cara kedua adalah dengan menggunakan semprotan air yang dicampur dengan bahan-bahan kimia. Usaha rekonstruksi di dalam katedral terkenal itu dihentikan bulan lalu karena alasan keamanan, dan diperkirakan akan dimulai lagi minggu depan. Pejabat Perancis selama berbulan-bulan membantah bahwa ada kontaminasi timah hitam yang mengancam kesehatan. Pada akhir Juli baru diakui bahwa harus dilakukan usaha pembersihan yang lebih ketat setelah ditemukan debu timah hitam di bangunan sejauh satu kilometer dari katedral itu. Presiden Perancis Emmanuel Macron menetapkan renovasi katedral yang berumur 850 tahun itu akan selesai dalam lima tahun ke depan. Sebelum kebakaran, Notre Dame dikunjungi lebih dari 10 juta pengunjung tiap tahun. [ii/pp]

Parasit Malaria Kebal Obat Berpotensi Picu Darurat Kesehatan Dunia

Jumat, 09 Agustus 2019 Obat yang paling manjur untuk mengobati malaria, menjadi tidak mempan di beberapa bagian Asia Tenggara – kecuali ada tindakan cepat. Keadaan itu bisa mengarah pada darurat kesehatan dunia, para ilmuwan memperingatkan.

Eradikasi 'Demam Keong', Sulteng Dirikan 2 Lab Schistosomiasis

Rabu, 07 Agustus 2019 Pemerintah Kabupaten Poso di Sulawesi Tengah mendirikan dua laboratorium schistosomiasis di Kecamatan Lore Barat dan Lore Utara, sebagai upaya memberantas habis penyakit "demam keong". Di Indonesia, penyakit ini hanya ditemukan di dataran tingga Napu dan Bada, Kabupaten Poso, serta dataran tinggi Lindu, di Kabupaten Sigi, provinsi Sulawesi Tengah. Pemerintah Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah membangun dua laboratorium schistosomiasis di dua kecamatan di Poso yang akan memudahkan masyarakat di 23 desa melakukan deteksi dini infeksi cacing schistosoma japonicum. Pendirian dua laboratorim itu untuk mendukung pemda mencapai target eradikasi penyakit yang dikenal dengan sebutan "demam keong" pada 2025, kata Bupati Poso Darmin Agustinus Sigilipu kepada VOA usai peresmian dua laboratorium itu di Kecamatan Lore Barat, Selasa (6/8). Masyarakat bisa memeriksakan tinjanya setiap enam bulan sekali di kedua fasilitas tersebut. Bila hasil tes positif terjangkit, warga bisa segera mendapatkan pengobatan. “Di Indonesia penyakit schisto ini dikatakan penyakit yang terabaikan. Kami berjuang sehingga didirikanlah dua lab Schisto, baik yang ada di sini, di Lore Barat maupun di Lore Utara. Mudah-mudahan dengan dua lokasi ini bisa meng-cover penyakit yang berada di sekitaran lembah Bada dan Napu,”kata Darmin. Seseorang bisa terinfeksi schistosomiasis bila stadium larva (serkaria), yang berasal dari keong oncomelania hupensis lindoensis, menembus kulit ketika berada di area fokus keong. Gejala stadium awal ditandai dengan gatal-gatal karena serkaria menembus kulit. Pada stadium akut, yang dimulai sejak cacing betina bertelur, gejala yang timbul adalah demam, diare, berat badan menurun, dan disentri. Pembesaran hati dan limfa dapat terjadi lebih dini pada stadium akut tersebut. Bila penyakit sudah menahun, bisa menimbulkan kerusakan hati atau sirosis hati dan limfa yang menyebabkan penderita menjadi lemah. Bila tidak diobati bisa menyebabkan kematian. Di Indonesia, schistosomiasis hanya ditemukan di dataran tinggi Napu dan Bada di Kabupaten Poso serta di dataran tinggi Lindu Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Taufan Karwur, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Poso menjelaskan kondisi alam di tempat itu memungkinkan keberlangsungan hidup keong oncomelania hupensis lindoensis, yang berukuran antara sebulir padi hingga biji jagung itu, sebagai inang dari larva cacing schistosoma. Sehingga, penyakit schistosomiasis hanya ditemukan wilayah itu. "Ada karakteristik alam yang mendukung, sehingga keong perantara cuma ada di sana, di Napu dan Sigi,” papar Taufan Karwur. Karakteristik alam itu antara lain, temperatur, suhu, vegetasi, ph (derajat keasaman) tanah dan air," tambah Taufan. Kasus schistosomiasis di Sulawesi Tengah ditemukan pertama kali pada tahun 1937. Namun upaya pengendaliannya baru mulai dilakukan tahun 1973. “Dia (schistosomiasis) kategorinya adalah penyakit purbakala yang sudah ditemukan seribu tahun sebelum masehi. Itu sudah ditemukan di salah satu mumi,” tutur Bupati Poso Darmin. Taufan mengakui banyaknya jumlah sebaran fokus keong Oncomelania hupensis lindoensis yang mencapai 269 lokasi di 23 desa di lima kecamatan, menjadi tantangan upaya pemberantasan demam keong. Selain di kabupaten Poso, juga terdapat 14 area fokus keong di lima desa di dataran tinggi Lindu, Kabupaten Sigi. “Ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam upaya eradikasi schistosomiasis karena keberadaan fokus (keong) yang menjadi sumber reinfeksi bagi penduduk yang telah menjalani pengobatan dan dinyatakan sembuh,” kata Taufan. Indikator keberhasilan eradikasi itu, menurut Taufan, bila selama lima tahun berturut-turut sejak 2020-2025 tidak ditemukan satu pun kejadian schistosomiasis pada manusia, hewan mamalia dan keong perantara. Pada 2018, tingkat prevalensi penyakit itu terhadap manusia di Kabupaten Poso sudah berada di bawah satu persen, yaitu 0,36 persen. Partisipasi Masyarakat Junus Widjaja, peneliti dari Balai Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, menyebutkan keberhasilan eradikasi itu juga perlu dibarengi dengan peningkatan pengetahuan masyarakat, untuk mendorong keterlibatan warga dalam pencegahan dan pengendalian schistosomiasis di sekitar lingkungan mereka. “Tingkat partisipasi masyarakat sangat rendah, karena pengetahuan masyarakat yang belum sama sekali mengetahui tentang adanya schistosomiasis ini, penularannya di mana, pengendaliannya bagaimana,” ungkap Junus Widjaja saat ditemui di Laboratorium Schistosomiasis di Lore Barat. Ia mengatakan saat ini pihaknya bersama pemerintah kabupaten Poso membentuk tiga tim, yang namanya diambil dari Bahasa Bada, untuk pengendalian penyakit. Tim Peda bertugas untuk mendata sasaran fokus keong, membantu melakukan survei tinja, dan membantu kegiatan pengobatan penderita. Tim Mobasa mensosialisasikan mengenai penyakit itu, dengan melibatkan tokoh agama, di sela-sela acara kegiataan keagamaan. Sedangkan Tim Mepaturo, yang terdiri dari guru, mengajarkan materi terkait schistosomiasis sebagai muatan lokal di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. [yl/ft]

Filipina Umumkan Wabah Nasional Demam Berdarah

Selasa, 06 Agustus 2019 Departemen Kesehatan Filipina menyatakan wabah demam berdarah di negara itu sebagai epidemi nasional. Menteri Kesehatan Francisco Duque III mengeluarkan pernyataan itu, Selasa (6/8) untuk meningkatkan respons terhadap wabah, dengan mengizinkan pemerintahan lokal mengambil Dana Tanggap Cepat khusus. Departemen itu menyatakan Filipina telah mencatat 146.062 pasien demam berdarah sejak Januari hingga 20 Juli tahun ini, 98 persen lebih banyak daripada periode yang sama setahun sebelumnya. Disebutkan pula bahwa wabah itu telah menyebabkan 622 penderitanya meninggal. Demam berdarah ditularkan melalui nyamuk dan penyakit ini ditemukan di berbagai negara tropis di seluruh dunia. Penderitanya dapat mengalami nyeri sendi, mual, muntah dan ruam kulit, dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan, perdarahan dan kegagalan fungsi organ tubuh dalam kasus-kasus yang sangat parah. Departemen Kesehatan Filipina mengatakan bahwa mulai Selasa (6/8), pihaknya melakukan kampanye dengan perhatian khusus untuk menemukan dan menghancurkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk, yang merupakan tindakan utama untuk membendung penyakit demam berdarah. Badan-badan pemerintah lainnya, unit-unit pemerintah daerah, sekolah-sekolah, kantor-kantor pemerintah serta masyarakat akan bergabung dalam upaya ini, katanya.   Negara-negara lain di Asia Tenggara juga telah melaporkan peningkatan kasus demam berdarah tahun ini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Organisasi itu mengatakan Malaysia telah melaporkan terjadinya 62.421 kasus hingga 29 Juni, termasuk 93 kematian, dibandingkan dengan 32.425 kasus dengan 53 kematian untuk periode yang sama tahun lalu. Vietnam pada periode yang sama mencatat 81.132 kasus dengan empat kematian, dibandingkan dengan 26.201 kasus dan enam kematian pada tahun 2018. [uh-lt/ab]

Dokter Cabut 526 Gigi dari Mulut Seorang Bocah 

Senin, 05 Agustus 2019 Sejumlah dokter di India berhasil mengangkat tumor dengan jumlah rekor 526 gigi di dalam mulut seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, Reuters melaporkan mengutip keterangan tim medis di Kota Chennai, India, Jumat (2/8/2019). Tumor seberat 200 gram tersebut bersarang di rahang kanan bawah sang bocah menurut Senthilnathan P., seorang dokter dari Saveetha Dental College and Hospital, tempat operasi tersebut dilaksanakan. “Dia datang menemui kami dengan keluhan pembengkakan pada rahangnya,” kata Senthilnathan kepada Reuters. Kata Senthilanathan, anak laki-laki itu sudah mengalami pembengkakan pada rahangnya sejak usia tiga tahun. “Yang kami angkat itu adalah tumor jinak dan kami menemukan dalam tumor itu tertanam dengan ratusan gigi yang belum tumbuh,” katanya, sambil menambahkan bahwa operasi dilakukan pada bulan lalu, Juli. Dokter-dokter tersebut percaya jumlah gigi tersebut menjadi rekor medis baru di dunia. Sang dokter mengungkapkan bahwa sebuah tumor dengan gigi yang belum tumbuh biasanya merupakan kondisi genetis yang bisa juga disebabkan faktor eksternal, seperti trauma pada gigi. “Anak tersebut pulih dengan sangat baik dan diperbolehkan pulang tiga hari kemudian,” tuturnya. [ga/ft]

Kongo Kukuhkan Pasien Ebola ke-4

Jumat, 02 Agustus 2019 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menyatakan telah mengirim 12 staf ke sebuah kota perbatasan di Republik Demokratik Kongo untuk membantu menangani pasien Ebola di sana. Wabah, yang merebak setahun silam itu kini telah menewaskan lebih dari 1,800 orang. CDC mengisyaratkan akan mengirim lebih banyak lagi staf jika konflik bersenjata di bagian timur laut negara itu mereda ke tingkat yang lebih aman. Dua belas staf CDC telah dikirim ke Goma, kota transit penting di dekat perbatasan Kongo dengan Rwanda. Goma telah mengukuhkan pasien Ebola ke-empat. Organisasi Kesehatan Sedunia menyatakan kehadiran pasien ke-empat Ebola yang telah dikukuhkan di Goma itu merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan. Direktur CDC Dr. Robert R. Redfield Kamis mengatakan di Twitter bahwa konflik bersenjata menghambat upaya-upaya petugas kesehatan untuk menangani wabah, meningkatkan risiko penyebaran penyakit itu. Henry Walke, direktur kesiapsiagaan CDC, mengatakan, CDC akan menambah staf lagi apabila keamanan di sana cukup membaik. CDC menyatakan bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri Amerika untuk menentukan apakah aman untuk mengirim petugas kesehatan Amerika ke luar wilayah Goma. Pengumuman itu muncul beberapa jam setelah Rwanda sempat menutup perbatasannya dengan Kongo karena khawatir penyakit itu akan menyebar. Para saksi mata memberitahu VOA bahwa pihak berwenang mencegah banyak orang melalui kota Gisenyi di Rwanda dan Goma selama beberapa jam, setelah virus Ebola dideteksi di Goma. Mereka yang diizinkan melintas adalah warga Kongo di Rwanda yang ingin kembali ke tempat asal mereka. Kementerian Kesehatan Rwanda membantah perbatasan itu ditutup, dan pada Kamis sore orang-orang mulai melalui kota-kota itu lagi. Lebih dari 2.600 pasien Ebola dilaporkan di Kongo sejak wabah yang sekarang ini terjadi mulai merebak setahun silam, dengan tingkat kematian hampir 70 persen. Ini adalah wabah ke-10 virus itu selama empat dekade terakhir di Kongo. Ini juga wabah terbesar ke-dua setelah epidemi tahun 2014 di Afrika Barat yang menewaskan lebih dari 11.300 orang. [uh/lt]

Kembar Siam Bangladesh Berhasil Dipisahkan

Jumat, 02 Agustus 2019 Anak kembar siam Bangladesh yang tersambung pada kepalanya berhasil dipisahkan pada Jumat 2/8) dalam operasi rumit yang berlangsung selama 30 jam di rumah sakit Dhaka. Rabeya dan Rukaya, yang kini berumur tiga tahun itu, dilahirkan dalam keadaan kepala mereka tersambung. Para dokter memperkirakan kelahiran seperti itu hanya terjadi satu dalam lima sampai enam juta kelahiran. Dr. Andras Csokay dari Hongaria dan timnya yang mengoperasi kedua anak itu mengatakan “keadaan kedua anak itu stabil setelah pemisahan.” Dr. Andras Csokay adalah ahli bedah syaraf yang bekerja untuk yayasan amal Hongaria bagi orang-orang miskin. Dr. Csokay memimpin tim yang terdiri dari 35 orang dokter dan pakar Hongaria yang telah menyiapkan pemisahan kedua anak itu sejak tahun lalu. Dalam operasi yang diadakan tahun lalu itu, pembuluh darah yang terhubung dengan otak kedua anak itu berhasil dipisahkan. [ii/ft]

Rwanda Buka Kembali Perbatasan dengan Kongo

Jumat, 02 Agustus 2019 Rwanda sempat menutup perbatasannya dengan Republik Demokratik Kongo hari Kamis (1/8), dalam upaya pihak kesehatan menanggulangi wabah Ebola yang telah membunuh lebih dari 1.800 orang. Saksi mata mengatakan kepada VOA bahwa pihak berwajib telah mencegah hampir semua orang melintas batas antara kota Gisenyi di Rwanda dan kota Goma di Kongo selama beberapa jam, setelah virus Ebola terdeteksi di Goma. Orang yang diperbolehkan melintas hanyalah warga negara Kongo di Rwanda yang ingin kembali. Kementerian Kesehatan Rwanda membantah perbatasan pernah ditutup, dan pada Kamis sore, orang diperbolehkan melintasi batas melalui kedua kota tersebut. Penutupan singkat ini bertolak belakang dengan permohonan World Health Organization atau WHO, organisasi kesehatan sedunia, agar negara-negara tidak menutup perbatasannya atau menerapkan sanksi pembatasan perjalanan ke Kongo. Lebih dari 2,500 kasus Ebola telah dilaporkan di Kongo sejak wabah itu muncul setahun lalu dengan tingkat kematian mencapai 70 persen.(ti/ka)

Rwanda Tutup Perbatasan dengan Kongo Terkait Wabah Ebola

Kamis, 01 Agustus 2019 Rwanda, Kamis (1/8) menutup perbatasannya dengan Kongo, sewaktu seorang pejabat Kongo mengatakan satu orang yang kontak dengan orang kedua yang positif terkena Ebola di kota perbatasan Goma kini dirawat setelah menunjukkan tanda-tanda terjangkit penyakit mematikan itu. Koordinator Ebola untuk provinsi North Kivu, Dr. Aruna Abedi, mengatakan kepada Associated Press bahwa orang yang sedang dirawat itu diduga mengidap Ebola. Belum jelas benar apakah orang itu adalah anggota keluarga seorang lelaki yang meninggal karena Ebola, Rabu (31/7). Ia tinggal beberapa hari di rumah bersama keluarganya sewaktu menunjukkan gejala terjangkit Ebola. Jika ia dikukuhkan positif terjangkit Ebola, ini akan menjadi penularan pertama Ebola dalam kasus wabah ini di dalam Goma, kota berpenduduk lebih dari 2 juta orang di perbatasan Rwanda. Perkembangan ini muncul sementara wabah yang menewaskan lebih dari 1.800 orang ini memasuki tahun kedua penyebarannya. Ini merupakan wabah Ebola kedua yang paling banyak menelan korban dalam sejarah, dan bulan lalu Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyatakan situasi ini sebagai darurat global yang langka. WHO merekomendasikan untuk tidak memberlakukan larangan perjalanan di tengah-tengah berlangsungnya wabah tetapi menyatakan bahwa risiko penyebaran Ebola di kawasan “sangat tinggi.” Menteri Negara urusan Luar Negeri Rwanda Olivier Nduhungirehe membenarkan penutupan perbatasan itu kepada Associated Press, Kamis (1/8), sehari setelah para pejabat WHO memuji negara-negara Afrika yang tetap membuka perbatasan mereka. Pekan lalu Arab Saudi tidak lagi mengeluarkan visa kepada orang-orang dari Kongo dengan alasan wabah Ebola, tidak lama sebelum musim haji di sana bulan ini. [uh/lt]

Peneliti Brazil Modernisasi Perangkap Nyamuk

Selasa, 30 Juli 2019 Klinik kesehatan masyarakat di beberapa kota seperti Rio de Janeiro melaporkan terjadinya lonjakan sejumlah arbovirus yaitu virus yang ditularkan oleh nyamuk. Salah satu jenis nyamuk itu menjadi penyebab utama penyakit tersebut. Para peneliti di Brazil menciptakan sejumlah perangkap nyamuk sebelum menyerang. Aedes Aegypti atau nyamuk Yellow Fever lebih dari sekadar gangguan. Kemungkinan nyamuk itu membawa bibit penyakit yang dapat mengancam jiwa seperti demam berdarah, zika, atau chikungunya. Garcia Vergara, salah seorang dokter mengemukakan, “Nyamuk tersebut punya banyak cara untuk bersembunyi dan bereproduksi. Selama sarangnya tidak dibasmi dari lingkungan sekitar, mereka akan terus bersarang di sana.” Sejumlah dokter kesehatan mencurigai lebih dari satu juta (1,1 juta) kasus demam berdarah terjadi di Rio de Janeiro dengan hampir empat ratus (sekitar 388) kematian hanya dalam paruh pertama tahun 2019. Terjadi peningkatan seratus enam puluh tiga persen (163%) dari tahun lalu. Ivo Carlos Correa, profesor kedokteran gigi di University of Brazil mulai mencari cara untuk mencegah agar anaknya yang masih kecil tidak terjangkau oleh nyamuk Aedes. “Grafik ini menunjukkan nyamuk betina yang menularkan beberapa penyakit terkait arbovirus ternyata peka terhadap cahaya,” ujar Correa. Prof. Correa menemukan hasil studi yang dimuat di sebuah jurnal kesehatan mengenai sensitivitas nyamuk terhadap cahaya. Ivo Carlos siap memasang perangkap, tapi ia perlu bantuan…juga persediaan umpan yang terus-menerus. Jadi, Carlos kemudian kembali ke departemen kimia kampus tersebut. Di sana, Ivo Carlos Correa bertemu dengan seorang pakar penangkaran nyamuk, Profesor Monica Ferreira Moreira yang meneliti berbagai efek zat pada anatomi tubuh dan penangkaran nyamuk untuk diuji dengan lampu ciptaan Prof. Correa. “Kami melakukan tiga percobaan dengan berbagai intensitas dan warna gelombang cahaya. Beberapa hasilnya berbeda. Sejumlah perangkap berlampu hijau dapat menangkap sebagian besar nyamuk, 19 dari 20 ekor nyamuk,” kata Moreira. Arbovirus tersebut dapat menyebabkan sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan sendi, dan ruam yang juga berisiko tinggi pada bayi baru lahir dan orang dewasa lanjut usia. Maria Lopes yang ibu dan anak perempuannya terjangkit Chikungunya mengungkapkan, “Saya tidak terkena chikungunya. Ayah saya juga tidak, tapi ibu dan putri saya serta banyak tetangga kami terjangkit penyakit itu. Saya tidak mengerti, dan saya pikir perangkap nyamuk itu efektif.” Kelompok sejumlah peneliti itu berhasil mendapatkan sebuah hak paten dunia yang saat ini sedang bernegosiasi untuk produksi dengan industri lokal. Sementara Aedes termasuk jenis serangga tropis, maka iklim yang kian hangat bisa segera membuat tempat-tempat yang sebelumnya bebas kemudian jadi sarang bagi nyamuk tersebut. (mg/al)

Kasus Influenza di Australia Meningkat 

Jumat, 26 Juli 2019 Musim influenza tahunan di Australia dimulai lebih awal dari biasanya pada 2019, dan sudah lebih dari 144.000 kasus yang terkonfirmasi. Sedikitnya 231 orang meninggal sejauh ini, termasuk beberapa anak. Banyak pakar menyalahkan virus flu yang mematikan atas lebih awalnya musim influenza.

Bayi Kembar Siam di Medan Berhasil Dipisahkan Tepat di Hari Anak Nasional

Rabu, 24 Juli 2019 Tepat di Hari Anak Nasional 2019, dua bayi laki-laki kembar siam dempet perut di Medan berhasil dipisahkan di Rumah Sakit Umum Pusat H Adam Malik. Kedua bayi asal Tapanuli Utara tersebut saat ini dalam kondisi stabil setelah melewati proses pemisahan.

Pakar Peringatkan Penyebaran Parasit Malaria Kebal Obat di Asia Tenggara

Selasa, 23 Juli 2019 Para ilmuwan memperingatkan, Senin (22/7), jenis-jenis (strains) parasit malaria yang resisten atau kebal terhadap dua obat anti malaria utama makin dominan di Vietnam, Laos, dan bagian utara Thailand, setelah menyebar dengan cepat dari Kamboja. Seperti dilaporkan oleh Reuters, dengan menggunakan pengamatan genomik untuk melacak malaria yang resisten pengobatan, para ilmuwan menemukan parasit malaria jenis KEL1/PLA1 juga sudah berevolusi dan menyerap mutasi genetik baru yang membuatnya makin kebal terhadap berbagai obat-obatan. “Kami mendapati (parasit) sudah menyebar secara agresif, menggantikan parasit-parasit malaria lokal dan menjadi tipe dominan di Vietnam, Laos dan di timur laut Thailand,” kata Roberto Amato, yang bekerja sama dengan satu tim dari Institut Wellcome Sanger Inggris, Universitas Oxford, dan Universitas Mahidol di Thailand. Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang dibawa oleh nyamuk dan menyebar lewat gigitan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hampir 220 juta orang terinfeksi malaria pada 2017, dan sekitar 400 ribu di antaranya meninggal. Sebagian besar kasus infeksi dan kematian terjadi pada bayi dan anak-anak di sub-Sahara Afrika. Malaria bisa sembuh total dengan pengobatan jika didiagnosis dini. Namun, resistensi terhadap obat-obatan anti-malaria makin marak di banyak kawasan di dunia, terutama di Asia Tenggara. Pengobatan pertama malaria yang diterapkan di banyak tempat di Asia dalam satu dasawarsa terakhir adalah kombinasi Dihidroartemisinin dan Piperakuin, atau dikenal dengan singkatan DHA-PPQ. Para peneliti mendapati dalam penelitian sebelumnya bahwa satu jenis parasit malaria sudah berevolusi dan menyebar di seluruh Kamboja antara 2007 dan 2013. Hasil penelitian terbaru itu, yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Infectious Diseases, mendapati jenis parasit malaria itu sudah menyebar melintas batas negara dan memperkuat cengkeramannya. “Kecepatan penyebaran parasit-parasit anti pengobatan malaria itu di Asia Tenggara sangat mengkhawatirkan,” kata Olivo Miotto, yang memimpin penelitian. “Obat lain mungkin efektif saat ini, tapi situasinya sangat rentan dan studi ini menyoroti tindakan cepat diperlukan,” katanya. [ft/dw]