Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Indeks Berita

Kelinci, Sumber Baru Daging yang Sehat bagi Afrika

Selasa, 15 Oktober 2019 Daging kelinci perlahan tumbuh menjadi sumber pangan di Afrika. Industri daging itu berkembang di Afrika Selatan dan Nigeria. Sekelompok peternak yang gigih mempromosikan daging kelinci sebagai murah, sehat dan ramah lingkungan.

Wabah Ebola Kembali Merebak di Kongo

Jumat, 04 Oktober 2019 Wabah Ebola kembali merebak dengan cepat di beberapa negara Afrika, khususnya di republik demokratik Kongo. Menteri kesehatan Amerika baru saja b berkunjung ke pusat bencana itu yang terletak di perbatasan timur laut Kongo. Ini adalah perjalanan yang tidak mudah, dan jarang dilakukan oleh orang barat, karena harus melewati hutan lebat, gunung berapi dan jalan panjang yang berdebu ke desa Butembo. Ketika sampai di sana, sepatu dan tangan harus disemprot dengan bahan suci hama, dan semua orang yang masuk ke desa itu diperiksa apakah ia demam atau tidak. Ini adalah kunjungan Menteri Kesehatan AS Alex Azar yang pertama ke pusat pengobatan Ebola di Butembo, garis terdepan untuk melawan virus yang sangat mematikan itu. Menteri Azar mengatakan, “Ini adalah keadaan yang sangat tragis, khususnya melihat begitu banyak anak-anak yang terkena wabah Ebola. Tapi saya berharap semuanya akan bisa diatasi.” Perebakan Ebola itu dimulai tahun lalu, dan kini menjadi wabah yang terburuk, karena mengakibatkan lebih dari 3.000 orang terkena virus itu. Jumlah korban meninggal mencapai lebih dari 2.000 orang. Tapi kini ada sedikit harapan, dengan dikembangkannya dua obat baru yang dibuat dengan campuran darah seorang pasien yang kebal terhadap Ebola. Kata dr Anthony Fauci, pakar pada lembaga nasional penyakit menular dan alergi, “Kalau dikatakan sudah ada pengobatan untuk penyakit Ebola, timbul kesan bahwa semua orang yang terkena akan bisa disembuhkan. Tapi soalnya, ada orang-orang yang penyakitnya sudah terlalu parah dan tidak bisa tertolong oleh obat itu. Kalau pasien bisa diobati lebih dini, ada kemungkinan berkurangnya tingkat kematian karena Ebola itu.” Masalah lain yang mempergawat perebakan Ebola adalah keamanan, karena ada lebih dari 100 kelompok bersenjata yang berebutan kekuasaan di kawasan Kongo timur. Kata asisten direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Soce Fall, melindungi para pekerja kesehatan adalah pekerjaan penuh waktu. "Ada ribuan gangguan keamanan, dan tiap kali hal itu terjadi virus Ebola akan terus merebak. Kita harus bisa mencari orang-orang yang terkena virus itu, tapi usaha itu makan banyak waktu dan energi,” ujarnya. Pemerintah Amerika telah menggunakan dana lebih dari 300 juta dolar untuk mengembangkan vaksin anti-Ebola. (ii/em)

Semut, Jangkrik, Kecoak: Cemilan Sehat Renyah Seperti Keripik Kentang

Rabu, 02 Oktober 2019 Di rumahnya di pedesaan Kosta Rika, pakar biologi Frederico Paniagua bersama keluarganya menyantap beberapa jenis serangga yang dikembangbiakkan di peternakannya. Frederico mengatakan seranga-serangga itu rasanya seperti keripik kentang. Tiga tahun lalu, kepala Museum Serangga Universitas Kosta Rika itu, memutuskan untuk mengganti sumber protein hewani dalam pola makannya dengan jangkrik, semut, kecoak, kumbang, dan serangga lainnya. Tak berhenti di situ. Dia juga mendorong masyarakat melakukan hal yang sama. "Serangga rasanya enak," katanya saat diwawancarai di pertaniannya di Sarchi, sekitar 50 kilometer dari Ibu Kota Costa Rika, San Jose, seperti dikutip dari Reuters. "Anda bisa duduk dan menonton sinetron, menonton pertandingan sepak bola, melakukan aktivitas apa saja dengan sepiring penuh serangga. Makan serangga itu satu-per satu sambil minum segelas minuman soda…cocok sekali," ujarnya. Organisasi Pangan PBB (FAO) mencatat ada lebih dari 1.900 spesies serangga yang bisa dimakan. Terutama di Asia dan Afrika, serangga-serangga kecil itu disebut sebagai penganan lezat yang kaya kandungan vitamin, mineral, dan energi. Para pendukung makananan dari serangga juga mencatat bahwa serangga-serangga mengeluarkan lebih sedikit gas rumah kaca dan amonia dibandingkan hewan ternak atau babi. Ditambah lagi serangga butuh jauh lebih sedikit lahan dan air daripada ternak.  Istri Paniagua, Gabriela Soto, mempersiapkan sajian dengan menuangkan minyak goreng di wajan, memasukkan serangga yang diternakkan di peternakannya. Setelah masak, dia membawa beberapa piring berisi serangga dan menyajikannya kepada putri kecilnya yang kemudian menyantap dengan lahap. Suaminya menyarankan menambahkan perasan lemon untuk menambah rasa. “Rasanya akan seperti keripik kentang… dan Anda bisa makan sepiring penuh serangga-serangga ini,” kata Panigua. [ft/dw]

Pasien Eksplorasi Jantung Lewat Realitas Maya

Senin, 30 September 2019 Perangkat teknologi realitas maya yang dikembangkan di Stanford memungkinkan pasien dan keluarga melihat isi jantung manusia sebelum menjalani pembedahan.

Pusat Pengendalian Pencegahan Penyakit AS: Setop Vape Berbahan Ganja

Sabtu, 28 September 2019 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention) merekomendasikan siapapun untuk tidak menggunakan rokok elektrik, terutama yang mengandung bahan ganja tetrahydrocannabinol (THC). Seorang pejabat kesehatan masyarakat mengatakan hal tersebut pada hari Jumat (27/9).  Berita yang dilansir dari Reuters ini mengatakan, rokok elektrik telah dipasarkan sebagai alat untuk membantu perokok berhenti. Namun ternyata penggunaannya di kalangan anak muda di Amerika Serikat meningkat. Adanya serentetan penyakit paru-paru parah yang dikaitkan dengan vape itu menyebabkan pengawasan ditingkatkan.  Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC sebelumnya menyarankan konsumen untuk menghindari rokok elektrik. Namun rekomendasi terbaru yang dikeluarkan lembaga itu hanya fokus pada produk THC. Hal itu selaras dengan data nasional yang menunjukkan sejumlah besar kasus ini terkait dengan tingginya penggunaan ganja.  CDC dan pejabat kesehatan negara, bersama dengan lembaga kesehatan lainnya, sedang menyelidiki 805 kasus yang dikonfirmasi dan 12 kematian lainnya karena penyakit pernafasan misterius yang terkait dengan vaping.  Menurut penelitian yang diterbitkan oleh CDC pada hari Jumat, 514 dari 805 pasien tahu tentang zat yang digunakan dalam produk vape mereka. Hampir 77% dari mereka menggunakan rokok elektrik yang mengandung THC. Namun Wakil Direktur Utama CDC, Anne Schuchat, memastikan hal tersebut tidak akan mempersempit fokus penyelidikan, karena beberapa pengguna juga melaporkan menggunakan rokok elektrik dengan hanya nikotin. Data menunjukkan bahwa 56,8% menggunakan nikotin dalam vape mereka, sementara 16% menggunakan vape yang hanya mengandung nikotin dalam 30 hari sebelum gejala. Data terpisah dari Wisconsin dan Illinois menunjukkan, meskipun tidak ada nama merek tunggal yang dilaporkan oleh semua pasien, namun dua pertiga konsumen melaporkan menggunakan kartrid THC yang sudah diisi sebelumnya dengan merek "Dank Vapes". Sebuah studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine awal bulan ini, menemukan lebih dari setengah pasien penyakit paru-paru yang diwawancarai secara luas di Wisconsin dan Illinois, melaporkan telah menggunakan merek "Dank Vapes." [ah]

Brexit Tanpa Persetujuan Bisa Akibatkan Inggris Kekurangan Obat

Sabtu, 28 September 2019 Lembaga pengamat pemerintah di Inggris mengatakan, masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjamin negara punya persediaan obat-obatan cukup seandainya terjadi Brexit tanpa persetujuan. Dalam laporan yang diterbitkan Jumat, the National Audit Office mengatakan, kapasitas pelayaran tambahan yang dikerahkan oleh Inggris untuk mengirim barang menyeberangi selat Inggris tidak akan beroperasi sampai akhir November, sebulan setelah tenggat waktu 31 Oktober bagi Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa. Dari lebih dari 12.300 obat-obatan yang dibutuhkan Inggris, sekitar 7 ribu datang dari atau lewat Uni Eropa, kebanyakan harus melintasi selat. Menurut berita yang dilansir dari AP, Meg Hillier, yang mengetuai komite kantor audit ini, menyebut temuan ini sangat memprihatinkan.  Katanya, dia melihat contoh tak terhitung banyaknya dari pemerintah Inggris tidak memenuhi tenggat waktu, tetapi yang satu ini benar-benar mengkhawatirkan. “Kalau pemerintah salah bertindak dalam hal ini, ini akan punya konsekuensi yang sangat parah,” katanya. [jm/pp]

Demam Berdarah Menyebar di Amerika Tengah

Jumat, 27 September 2019 Demam berdarah menyebar dengan cepat di berbagai penjuru Amerika Tengah, sebut Palang Merah Internasional (IFRC) dan Bulan Sabit Merah, Jumat (27/9). “Cakupan wabah ini belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Tengah,” kata Dr. Maria Frana Tallarico, direktur kesehatan IFRC untuk wilayah Amerika. Guatemala, Nikaragua, El Salvador dan Kosta Rika melaporkan “peningkatan luar biasa jumlah pasien demam berdarah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” sebut IFRC. Lebih dari 71.200 orang di Honduras telah mengidap penyakit itu yang ditularkan oleh nyamuk. Musim hujan dan suhu tinggi telah menciptakan genangan air yang merupakan tempat yang sempurna bagi perkembangbiakan nyamuk, jelas IFRC. Yang mengkhawatirkan sehubungan dengan penyakit ini di Honduras adalah 65 persen dari 128 kematian yang dilaporkan sejauh ini adalah pada anak-anak berusia di bawah 15 tahun. “Ini akibat kurangnya imunitas di kalangan anak-anak muda terhadap empat jenis demam berdarah paling mematikan yang sekarang beredar di kawasan,” kata Tallarico. IFRC menyatakan meningkatkan bantuan darurat untuk membantu negara-negara menanggulangi penyakit ini, termasuk pengiriman tim-tim sukarelawan IFRC yang mendatangi rumah-rumah untuk memberi penyuluhan mengenai penyakit ini dan cara pencegahannya. [uh/ab]

Jumlah Kasus Penyakit Paru-paru di AS Terkait Rokok Elektrik Naik

Jumat, 27 September 2019 Epidemi penyakit paru-paru yang parah terkait kebiasaan mengisap rokok elektrik meningkat, kata pejabat federal AS. Mereka masih berusaha menemukan penyebab dari epidemi ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan sampai Kamis (26/9), terdapat 805 kasus yang dikonfirmasi atau dicurigai sebagai penyakit paru-paru terkait vaping di 46 negara bagian dan Virgin Islands. Jumlah itu naik sebanyak lebih dari 200 minggu lalu. Sudah dua belas kematian dilaporkan. Banyak korban mengatakan, mereka menggunakan produk vaping yang mengandung THC, sebuah unsur dalam marijuana yang menyebabkan efek mabuk. Tetapi korban lainnya mengatakan mereka hanya mengisap nikotin. CDC mendesak masyarakat agar menghentikan kebiasaan mengisap rokok elektrik, tetapi beberapa negara bagian sedang menunggu pihak pemerintah federal untuk mengambil langkah yang lebih tegas. Massachussetts pada minggu ini menjadi negara bagian pertama yang melarang semua penjualan rokok elektrik baik secara online maupun eceran. Larangan itu berlaku sementara selama empat bulan. Negara bagian lain telah menghentikan penjualan produk vaping yang diberi perisa buah atau permen untuk menggaet perokok muda. Produsen rokok eletrik terbesar, JUUL, mengumumkan akan menghentikan pengiklanan produk ini. [jm/pp]

Curhat Intan Kemalasari Soal Menjadi Beauty Influencer dan Nyelekitnya Warganet

Senin, 23 September 2019 Curhatan Beauty Influence plus size, Intan Kemalasari

Walmart Berhenti Jual Rokok Elektrik

Sabtu, 21 September 2019 Walmart hari Jumat (20/9) mengatakan akan berhenti menjual rokok elektrik di tokonya dan toko Sam's Clubs setelah serangkaian penyakit misterius dan kematian terkait dengan vaping. Pengecer terbesar di Amerika yang berbasis di Bentonville, Arkansas itu mengatakan akan berhenti sepenuhnya menjual rokok elektrik setelah stoknya yang ada saat ini habis terjual. Langkah ini diambil karena "meningkatnya peraturan federal, negara bagian dan lokal" mengenai produk vaping, kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan. Presiden AS Donald Trump telah mengusulkan larangan federal terhadap rokok elektrik bercita rasa dan produk vaping. Negara bagian Michigan telah melarang penjualan rokok elektrik rasa minggu ini. Beberapa pemerintah daerah, termasuk San Francisco, telah mengesahkan larangan membeli tembakau bercita rasa. Rokok elektrik adalah bagian yang sangat kecil dari bisnis nikotin Walmart, yang juga termasuk rokok tradisional, tembakau tanpa asap dan permen karet nikotin. Industri vaping makin diawasi setelah kematian dan penyakit dan lonjakan penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja di bawah umur. Lebih dari 500 orang telah didiagnosis menderita penyakit pernapasan setelah menggunakan rokok elektrik dan alat vaping lainnya, menurut pejabat kesehatan AS. Kematian kedelapan dilaporkan minggu ini. Tetapi pejabat kesehatan masih belum mengetahui penyebabnya. (my/pp)

FDA Buka Penyelidikan Pidana untuk Penyakit Paru yang Berhubungan Vaping

Jumat, 20 September 2019 Regulator Federal telah membuka penyelidikan pidana terhadap penyakit paru-paru yang berhubungan dengan rokok elektrik di Amerika. Sampai Kamis (19/9) malam, ada tujuh kematian serta 530 kasus yang sudah dikonfirmasi dan yang masih diduga penyakit serius terkait dengan vaping. Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika (FDA) mengatakan tidak berniat menuntut para pengguna rokok elektrik, tetapi mengatakan divisi penyelidikan pidananya bisa membantu pihak berwenang federal mencari tahu mengapa orang jatuh sakit. Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit (CDC) mendesak orang-orang untuk berhenti menggunakan rokok elektrik. Namun mengatakan tidak seorangpun seharusnya kembali merokok tembakau, dan mendesak para perokok mencari konseling atau menggunakan produk yang disetujui FDA untuk berhenti merokok. Pakar kesehatan belum bisa menentukan penyebab pasti penyakit paru-paru yang terkait dengan vaping, termasuk merek atau bahan tertentu dalam rokok elektrik. Tetapi sebagian mencurigai penggunaan komponen ganja THC di dalam perangkat vaping. Perangkat rokok elektrik telah dipasarkan sebagai alternatif yang lebih aman daripada tembakau. Regulator federal telah memperingatkan pembuat rokok elektrik terbesar, JUUL, agar tidak membuat klaim seperti itu dengan menyebutnya belum terbukti. [my/ft]

New York Larang Rokok Elektrik Bercita Rasa

Rabu, 18 September 2019 New York telah menjadi negara bagian pertama yang segera melarang rokok elektrik yang beraroma setelah hampir 400 kasus penyakit paru-paru serius terkait vaping dilaporkan di AS. Kantor kesehatan masyarakat negara bagian New York, Selasa (17/9), menyetujui larangan itu atas rekomendasi kuat dari Gubernur Andrew Cuomo. "Tidak bisa dipungkiri perusahaan vaping sengaja menggunakan rasa seperti permen karet, Captain Crunch, dan permen kapas untuk membuat anak-anak muda terpikat pada rokok elektrik," kata Cuomo. "Ini adalah krisis kesehatan masyarakat dan berakhir hari ini." Larangan itu segera diberlakukan di New York. Hanya rasa tembakau dan mentol yang bisa dijual. Michigan juga telah menyetujui larangan rasa, tetapi belum berlaku. Negara-negara bagian lain juga sedang mempertimbangkan larangan itu. Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) telah mengaktifkan tindakan darurat untuk mengatasi serangkaian penyakit paru-paru yang baru-baru ini yang diduga diakibatkan oleh rokok elektronik. Ada hampir 400 kasus yang dikonfirmasi dan diduga terjadi di seluruh AS termasuk sekurangnya enam kematian. Pakar kesehatan belum bisa menentukan penyebab pasti, termasuk merek atau bahan tertentu dalam rokok elektronik itu. Tetapi sebagian mencurigai penggunaan komponen ganja THC di perangkat vaping. Meskipun demikian, mereka mendesak semua pengguna rokok elektronik untuk berhenti. Perangkat rokok elektrik dipasarkan sebagai alternatif yang lebih aman daripada rokok tembakau. Regulator federal telah memperingatkan pembuat rokok elektrik terbesar, JUUL, agar tidak membuat klaim seperti itu, dan menyebutnya belum terbukti. [my/ft]

Ledakan Picu Kebakaran di Lab Rusia yang Tampung Virus Cacar

Rabu, 18 September 2019 Sebuah ledakan memicu kebakaran di fasilitas penelitian Rusia yang dilaporkan merupakan salah satu dari dua tempat di dunia yang menampung sampel virus cacar. Sebuah tabung gas meledak, Senin (16/9), di Pusat Penelitian Virologi dan Bioteknologi Negara milik Rusia di Siberia, kata fasilitas itu dalam sebuah pernyataan. Pejabat di sana menegaskan tidak ada ancaman kontaminasi. Pusat ini juga diketahui memiliki sampel berbahaya lainnya seperti Ebola, HIV, dan antraks. Pernyataan itu mengatakan ledakan itu terjadi di ruang pemeriksaan sanitasi dan mencederai satu orang.  Kantor berita Rusia Tass mengatakan tidak ada bahan berbahaya disimpan di ruang pemeriksaan itu. Pihak berwenang Rusia menolak memberikan rincian lain mengenai ledakan di fasilitas yang digunakan untuk mengembangkan senjata biologis selama Perang Dingin itu. Ledakan itu terjadi hanya beberapa minggu setelah lima ilmuwan tewas setelah ledakan misterius di sebuah lokasi pengujian rudal pada Agustus. [my/pp]

Tak Ada Kasus Baru, Wabah Campak di AS Mereda

Selasa, 17 September 2019 Epidemi campak terburuk di Amerika dalam 27 tahun kemungkinan kini dalam tahap akhir karena tidak dilaporkan ada kasus baru dalam sepekan terakhir. “Tidak ada kasus lagi sangatlah menggembirakan,'' ujar Jason Schwartz, pakar kebijakan vaksinasi pada Yale University. Epidemi campak yang saat ini melanda Amerika dimulai sekitar setahun lalu dan memuncak awal tahun ini, dengan sebagian besar kasus dilaporkan di komunitas Yahudi Ortodoks di, dan sekitar, New York City. Epidemi itu bermula dari orang Amerika yang bepergian ke luar negeri dan tertular campak. Ia dengan cepat kemudian menularkan penyakit itu ke kalangan orang yang tidak divaksinasi. Pada musim semi lalu, mulai akhir Maret sampai akhir Juni, 70 atau lebih kasus baru dilaporkan setiap minggu. Belum lama ini, Amerika mencatat banyak kasus campak dalam setahun penuh. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika - Center for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan hari Senin, sejauh tahun ini, 1.241 kasus dikukuhkan. Jumlah itu tidak bertambah pekan lalu. Terakhir kali CDC melaporkan tidak ada kasus campak baru adalah 11 bulan lalu. Pejabat-pejabat New York menanggapi ledakan kasus campak dengan sejumlah tindakan, termasuk kampanye pendidikan untuk melawan informasi yang salah tentang keamanan vaksin dan menerapkan denda bagi orang yang tidak mendapatkan vaksinasi. Epidemi itu mengancam status Amerika yang hampir 20 tahun ini dinyatakan sebagai negara yang telah memberantas campak. Status itu akan berakhir jika penyakit itu menyebar di kalangan orang Amerika selama satu tahun atau lebih. Negara-negara lain, termasuk Yunani dan Inggris, baru-baru ini kehilangan status itu seiring melonjaknya jumlah penderita penyakit itu. Wabah campak biasanya dinyatakan berakhir setelah 42 hari berlalu tanpa muncul pasien baru. Jika tidak ada kasus baru yang muncul, wabah nasional itu kemungkinan akan berakhir pada atau sekitar 30 September, tepat sebelum pejabat-pejabat harus membuat keputusan mengenai status pemberantasan campak di Amerika. Kalau Amerika kehilangan status eliminasi, ini bisa memengaruhi kampanye vaksinasi campak di negara-negara lain, ujar Dr. William Schaffner, pakar vaksin dari Vanderbilt University. Menteri-menteri kesehatan di seluruh dunia mungkin akan bertanya, “Mengapa kita harus mempertahankan status bebas eliminasi? Cukup lakukan yang terbaik untuk mengendalikan campak, tetapi kita tidak akan lagi bekerja keras untuk mencapai nol,'' kata Schaffner.(ka/jm)

Menkes AS Puji Upaya Pengendalian Ebola Uganda

Selasa, 17 September 2019 Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika, Alex Azar, memuji usaha Uganda untuk mengekang perebakan penyakit Ebola di Afrika Timur dan tengah. Tapi, karena Amerika merupakan penyumbang utama bagi sektor kesehatan Uganda, menteri Azar juga minta pada pemerintah Uganda untuk mencari dana sendiri guna menjalankan program kesehatannya. Menteri kesehatan Amerika itu sedang mengadakan kunjungan ke Rwanda, Republik Demokratik Kongo dan Uganda, untuk membahas masalah pembasmian wabah Ebola. “Banyak tugas besar yang harus dilakukan untuk memperkuat kesiagaan dan kemampuan penanggulangan bencana. Memeriksa orang-orang yang datang lewat perbatasan dan mengambil tindakan apabila ditemukan orang yang sakit. Pemerintah Uganda, terutama Menteri Kesehatan Aceng telah berhasil menyusun rencana yang bagus untuk mengatasi masalah ini,” jelasnya. Pemerintah Amerika adalah penyumbang terbesar bagi sektor kesehatan Uganda, guna membantu usaha melawan AIDs, TBC, malaria dan Ebola, dan juga memperbaiki kesehatan ibu dan anak. Tahun fiskal 2018 Amerika memberi bantuan kesehatan berjumlah 511 juta dollar lebih, dan karena itu Menteri Kesehatan Azar mendesak Uganda supaya lebih berdikari dalam bidang kesehatan. “Kami telah melihat kemajuan besar di Uganda dalam membangun sistem kesehatan publik dan infrastruktur kesehatan, sebagai bagian dari kemitraan itu. Tapi kini Uganda perlu mengusahakan supaya bisa berdiri diatas kaki sendiri dalam bidang kesehatan ini. Itu berarti Uganda harus menggunakan sumber dayanya sendiri untuk membiayai bidang kesehatan ini,” imbuh Azar. Duta Besar Amerika untuk Uganda, Deborah Malac menegaskan lagi perlunya Uganda memenuhi kebutuhan perawatan kesehatannya sendiri. “Kita tidak bisa mengharapkan Amerika akan menjadi sumber dana untuk waktu yang tidak terbatas. Karena itu perlu dibangun kemampuan untuk mengurus diri sendiri, supaya Amerika tidak perlu lagi memberikan bantuan," jelasnya. Hari Minggu (15/9) muncul laporan dari Tanzania bahwa seorang dokter yang belajar di Uganda meninggal karena infeksi virus yang mirip Ebola. Tapi pemerintah Tanzania membantah laporan itu dan menyebutnya sebagai kabar angin. Sejumlah negara yang dekat dengan Kongo terus waspada atas munculnya penderita Ebola baru. [ii]

WHO Serukan Tindakan untuk Akhiri Praktik Perawatan Kesehatan Buruk

Senin, 16 September 2019 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan tindakan segera untuk mengakhiri praktik perawatan kesehatan buruk yang berakibat kematian jutaan pasien di seluruh dunia setiap tahun. Orang yang jatuh sakit pergi ke dokter atau masuk ke rumah sakit dengan harapan mendapat perawatan. Sayangnya dalam banyak kasus, perawatan yang mereka terima justru membunuh mereka. WHO melaporkan satu dari 10 pasien mengalami hal buruk di negara-negara berpenghasilan tinggi. Dikatakan, 134 juta pasien di negara berpenghasilan rendah dan menengah dirugikan karena perawatan berbahaya yang menyebabkan 2,6 juta kematian setiap tahunnya. WHO mencatat, sebagian besar kematian itu bisa dihindari. Neelam Dhingra-Kuram adalah Koordinator WHO untuk Keselamatan Pasien dan Manajemen Risiko. Dia mengatakan, kerugian terjadi terutama karena diagnosa dan resep yang salah, penggunaan obat yang tidak tepat, prosedur pembedahan yang salah dan infeksi yang terkait dengan perawatan kesehatan. "Tetapi alasan utama kematian adalah di dalam sistem fasilitas perawatan kesehatan tidak terdapat budaya keselamatan pasien. Dan itu berarti, kepemimpinan tidak cukup kuat ... Jadi, kurang komunikasi terbuka dan tiadanya sistem untuk belajar dari kesalahan. Maka, kalau ada kesalahan akan terjadi kerugian. Jika kita tidak belajar dari itu, maka benar-benar peluang akan hilang," ujarnya. Dhingra-Kuram mengatakan, harus dibuat sistemdi mana petugas kesehatan didorong untuk melaporkan kesalahan dan tidak takut disalahkan karena melaporkan kesalahan. Selain kehilangan nyawayang dapat dihindari, WHO melaporkan kerugian pasien menyebabkan kerugian ekonomi triliunan dolar setiap tahun di dunia. Dikatakan kesalahan dalam pengobatan saja diperkirakan menelan biaya $42 miliar per tahun. (ps)