Indeks Berita

WHO Masukkan 'Kecanduan Game' dalam Klasifikasi Penyakit Internasional Baru

Selasa, 19 Juni 2018 Untuk kali pertama, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) menambahkan gangguan akibat bermain game ke bagian Gangguan Mental dan Adiktif dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) baru. ICD menyediakan data mengenai penyebab ribuan penyakit, cedera dan kematian di seluruh dunia dan informasi mengenai pencegahan dan pengobatan. Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) terakhir kali direvisi 28 tahun lalu. Perubahan yang terjadi sejak itu tercatat dalam edisi terbaru ini. Gangguan akibat main game ditambahkan ke dalam bagian gangguan mental dan adiktif karena permintaan akan layanan untuk mengatasi kondisi ini telah meningkat. Gangguan akibat main game biasanya terkait dengan sistem imbalan atau insentif, seperti akumulasi poin dalam kompetisi dengan orang lain atau memenangkan uang. Game-game ini pada umumnya dimainkan dengan perangkat elektronik dan video. Para pejabat WHO mengatakan statistik, terutama dari negara-negara Asia Timur dan Selatan, menunjukkan hanya dua atau tiga persen orang kecanduan game. Direktur Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Obat WHO, Shekhar Saxena, menggambarkan beberapa tanda-tanda kecanduan game. “Hati-hati apabila orang yang dekat dengan Anda, seorang anak atau orang lain bermain game secara berlebihan. Apabila menghabiskan terlalu banyak waktu dan apabila mengganggu keseharian orang itu, entah itu sekolah, sosialisasi, atau kerja, maka Anda perlu waspada dan mungkin mencari bantuan,” ungkap Saxena. Dalam klasifikasi WHO sebelumnya, gangguan identitas gender, seperti transeksualisme termasuk dalam kondisi mental dan perilaku. Saxena mengatakan itu kini telah dipindahkan ke bagian gangguan perilaku seksual bersama beberapa kondisi lainnya. “Orang-orang dengan gangguan identitas gender sebaiknya tidak dikategorikan sebagai gangguan mental karena dalam banyak kasus, di banyak negara, itu bisa menimbulkan stigma, dan itu bisa mengurangi peluang mereka untuk mendapat bantuan karena aturan hukum di banyak negara,” imbuhnya. Sebuah bab baru mengenai bagian obat tradisional telah ditambahkan. Meskipun digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia, baru kali ini obat tradisional diklasifikasikan WHO dalam sistem ini. [vm/ds]

Lawan Infeksi dalam Dunia Pasca Antibiotik

Minggu, 17 Juni 2018 Para imuwan mengatakan akibat penggunaan antibiotik yang terlalu marak, bahkan untuk mengobati infeksi ringan sekalipun, banyak bakteri telah mengembangkan kekebalan hebat terhadap obat jenis ini. Mereka mengatakan, kita mungkin telah memasuki ‘era pasca-antibiotik,’ dimana infeksi yang sebelumnya tidak membahayakan jiwa, kini menjadi fatal.

Inggris Izinkan Penggunaan Minyak Ganja untuk Obati Epilepsi

Sabtu, 16 Juni 2018 Pemerintah Inggris hari Sabtu (16/6) berubah sikap mengenai kasus penggunaan minyak ganja, dan mengatakan seorang anak laki-laki penderita epilepsi dapat diobati dengan minyak tersebut setelah ibunya mengatakan anak itu membutuhkannya agar selamat dari serangan kejang yang parah. Menteri Dalam Negeri, Sajid Javid, mengatakan ia telah setuju untuk mengeluarkan dengan segera izin bagi Billy Caldwell, usia 12 tahun, untuk diobati dengan minyak ganja. Javid mengatakan keputusannya didasarkan pada nasihat dari para dokter senior yang telah menegaskan bahwa Caldwell, yang diopname pada malam sebelumnya, menderita keadaan darurat medis. Javid menambahkan bahwa prioritas segera pemerintah adalah memastikan bahwa Caldwell memperoleh “pengobatan paling manjur dengan cara yang aman.” Minyak ganja dilarang penggunaannya di Inggris. Pihak berwenang menyita minyak ganja itu dari Charlotte Caldwell, ibu anak tadi, ketika dia berusaha membawanya ke negara itu hari Senin. Dia mengatakan putranya menderita kejang parah dua kali tadi malam, dan bahwa minyak ganja adalah obat satu-satunya yang dapat mencegah kejang yang mengancam nyawa Billy. Charlotte Caldwell sebelumnya telah mengatakan hari itu dia gembira bahwa Menteri Dalam Negeri berusaha bersamanya untuk mencari jalan keluar. [gp/lt]

RUU Baru di California: Minum Kopi Tak Berbahaya

Sabtu, 16 Juni 2018 Para pejabat kesehatan di negara bagian California hari Jumat (15/6) mengajukan rancangan undang-undang yang akan menyatakan bahwa minum kopi tidak meningkatkan risiko terkena penyakit kanker. RUU ini, kalau diterima, akan membatalkan keputusan pengadilan negara bagian yang telah membuat banyak peminum kopi khawatir. Kantor Pemantau Bahaya Kesehatan Lingkungan mengatakan pengajuan RUU itu dilakukan setelah mengadakan peninjauan pada lebih dari 1.000 studi yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia atau WHO, yang tidak menemukan banyak bukti bahwa kopi mengakibatkan kanker. Kantor itu tadinya menjalankan UU yang disahkan tahun 1986 yang mengharuskan perusahaan kopi memasang label peringatan pada tiap bungkus kopi bahwa bahan-bahan kimia yang terdapat dalam minuman itu bisa menimbulkan kanker dan cacat kelahiran. Baca juga:  Penjual Kopi di California Diperintahkan Pasang Label Peringatan Kanker  Salah satu bahan kimia itu adalah acrylamide, yang merupakan hasil sampingan dari pemanggangan dan penyeduhan kopi, dan karenanya bisa ditemukan pada tiap cangkir kopi. Kalau diterima, RUU ini akan merupakan kemenangan besar bagi industri kopi yang menghadapi ancaman denda besar setelah dikalahkan dalam sidang pengadilan di Los Angeles. Sebuah perusahaan nirlaba yang menuntut perusahaan kopi raksasa Starbucks dan perusahaan kopi lainnya dimenangkan oleh pengadilan, yang mengharuskan perusahaan-perusahaan itu memasang peringatan dalam tiap bungkus kopi akan bahaya yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang berbahaya. Hakim Elihu Berle mengatakan, perusahaan-perusahaan kopi itu tidak berhasil membuktikan bahwa manfaat minum kopi lebih besar dari kemungkinan risiko yang dihadapi. [ii]

Dokter-Dokter Kenya Berusaha Blokir Rencana Pemerintah Pekerjakan Dokter-Dokter Kuba

Kamis, 14 Juni 2018 Dokter-dokter Kenya sedang berusaha memblokir rencana pemerintah mempekerjakan 100 dokter Kuba guna mengisi kekurangan dokter dalam sistem perawatan kesehatan negara itu.

Bunuh Diri Selebritas Bisa Pengaruhi Siswa dan Remaja

Rabu, 13 Juni 2018 Peristiwa bunuh diri yang baru-baru ini dilakukan oleh beberapa selebritas membuat para ahli khawatir bahwa orang-orang muda akan mencontoh tindakan itu. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, bunuh diri adalah penyebab kematian kedua antara orang-orang usia 15 hingga 29 tahun di seluruh dunia, dan angka itu melonjak lebih dari dua kali lipat dalam dasawarsa terakhir. Para ahli mengatakan mereka frustasi oleh besarnya perhatian yang diberikan kepada selebritas yang bunuh diri, seperti pembawa acara perjalanan di televise, Anthony Bourdain, dan perancang busana, Kate Spade pekan lalu, dan dampaknya pada remaja yang berisiko. Bunuh diri para tokoh terkenal itu dapat memicu penularan, seperti virus dan dapat mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Setelah Robin Williams,komedian dan aktor populer yang bunuh diri pada 2014, para peneliti melihat hampir 10 persen peningkatan angka bunuh diri. Baca juga: Kasus Bunuh Diri Meniru Cara Robin William Meningkat Tidak ada yang tahu pasti mengapa ada dampak penularan itu, papar Dokter Blaise Aguirre, pakar psikiatri yang mendalami suasana hati atau mood dan gangguan kepribadian usia remaja, di RS McLean di luar Kota Boston.  Dia mengatakan,mendengar atau membaca tentang bunuh diri "mengaktifkan neuron yang berkorelasi dengan bunuh diri" dan membuat bunuh diri lebih dapat diterima oleh mereka yang berisiko. Penularan tidak mempengaruhi orang yang tidak berisiko, katanya. Banyak ahli mengatakan, laporan media tentang bunuh diri memperkuat penularan. [ps/ii]  

Kerangka Robotik Bisa Bantu Pasien Lumpuh Berjalan Kembali

Senin, 11 Juni 2018 Setiap tahun, lebih dari 15 juta orang di seluruh dunia mengalami cedera dan penyakit yang membuat mereka tidak bisa berjalan, menurut Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO). Tapi kemajuan teknologi baru dan terapi fisik bisa membantu sebagian dari mereka berjalan kembali. Salah satu yang paling menjanjikan adalah penggunaan kerangka tubuh robotik. Para ilmuwan di Universitas Notre Dame mengembangkan kerangka robotik yang bisa dikenakan yang memungkinkan para pasien mendapatkan kembali sebagian atau seluruh mobilitasnya.  Lindsey Stoefen, 17 tahun, senang bermain tenis, softball, dan lari – sampai Oktober lalu ketika penyakit langka melumpuhkan kedua kakinya dan membuatnya harus memakai kursi roda. Tapi akhir April, setelah diopname di Rumah Sakit Rehabilitasi Marianjoy di Chicago, remaja itu mengenakan kerangka tubuh robotik atau exoskeleton yang dirancang khusus, untuk menopang tubuhnya dan menggerakkan kedua kakinya. “Awalnya saya kaget, ‘saya akan menjadi robot!’ Saya merasa cemas dan bertanya-tanya, ‘apakah saya akan menyukainya?’ Tapi setelah itu saya menyukainya,” ungkap Lindsey. Exoskeleton itu terlihat seperti ransel yang menempel ke punggung pengguna dan sekitar tubuh bagian tengah. Di kedua sisinya terdapat panel yang memanjang ke bagian bawah dan menyambung ke kaki-kaki robotik yang membungkus kaki pasien. Di bagian tangan pengguna terdapat alat pengendali yang tersambung dengan kabel panjang. Lindsey menggunakan sistem itu sejam setiap hari. Lauren Bularzik, petugas terapi fisik yang menangani Lindsey mengatakan robot “Exo” itu membantu mempercepat proses rehabilitasi. “Bagi seseorang yang memakan banyak energi untuk hanya berjalan beberapa meter, exo bisa membantu mereka berdiri, bergerak, mendapat pola timbal balik, dan mendorong perencanaan motorik yang benar,” ujar Lauren. Selain mempercepat waktu pemulihan, kerangka robotik itu juga sangat berguna bagi para penderita kelumpuhan akibat cedera tulang belakang dan stroke. Penggunaan mesin itu bisa membantu sebagian pasien menggunakan otot sekunder, supaya mereka akhirnya bisa berjalan kaki lagi – tanpa perangkat itu. Tapi Patrick Wensing, asisten profesor pada Universitas Notre Dame mengatakan exoskeletons punya satu kekurangan besar.  “Meskipun exoskeletons sangat luar biasa, tapi perangkat itu tidak tahu apa keinginan pengguna. Jadi untuk transisi antar aktivitas dalam keseharian, seringkali pengguna harus memencet tombol untuk memberitahu exoskeleton ‘saya mau berdiri sekarang.’,” tukasnya. Wensing dan timnya sedang berkolaborasi dengan Ekso Bionics, pengembang robot yang dikenakan, untuk menciptakan sebuah mesin yang bisa memahami keinginan pengguna tanpa sensor-sensor implant dan panel pengendali yang rumit. [vm/ds]

Wabah Salmonella Terkait Buah Melon Irisan Sebabkan 60 Orang Jatuh Sakit di Kawasan Midwest

Minggu, 10 Juni 2018 Otoritas kesehatan menyatakan wabah salmonella yang terkait dengan irisan buah melon telah membuat 60 orang jatuh sakit di lima negara bagian Midwest. Centers for Disease Control and Prevention (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS) menyatakan Caito Foods LLC hari Jumat telah menarik semua semangka, melon dan campuran buah yang mengandung semangka atau melon yang diproduksi di pabriknya di Indianapolis. CDC menyatakan lima negara bagian di mana banyak orang yang jatuh sakit adalah Illinois, Indiana, Michigan, Missouri, dan Ohio.  CDC menyatakan buah-buahan tersebut juga didistribusikan di toko-toko di Georgia, Kentucky, dan North Carolina.  Buah-buahan tersebut dijual di kemasan plastik di jaringan supermarket Costco, Jay C, Kroger, Payless, Owen’s, Sprouts, Trader Joe's, Walgreens, Walmart dan Whole Foods/Amazon. Otoritas kesehatan mendesak pembeli untuk membuang buah-buahan itu atau mengembalikan buah-buahan yang ditarik dari peredaran. CDC menyatakan 31 orang yang jatuh sakit telah dilarikan ke rumah sakit, namun sejauh ini dilaporkan tidak ada korban jiwa akibat wabah ini.  Mereka yang jatuh sakit menderita gejala-gejala diare, demam, dan kram perut 12 hingga 72 jam setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut.  Penyakit ini seringkali dapat bertahan antara empat hingga tujuh hari. [ww/dw]

Lonjakan Angka Bunuh Diri di AS Soroti Kebutuhan akan Obat Antidepresi Baru

Minggu, 10 Juni 2018 Lonjakan angka bunuh diri di Amerika Serikat menyoroti kebutuhan untuk pengobatan yang lebih efektif untuk depresi parah, dimana para peneliti menyatakan bidang ini tidak mudah dan tidak banyak perusahaan farmasi besar yang tertarik. Otoritas kesehatan AS menyatakan pekan ini ada lonjakan tajam pada angka bunuh diri di seluruh penjuru negeri sejak awal abad ini dan menyerukan dilakukannya pendekatan komprehensif untuk mengatasi depresi.  Laporan tersebut dipublikasikan pada pekan yang sama saat terjadi tindakan bunuh diri dari para pesohor yaitu Anthony Bourdain dan Kate Spade. Reuters belum mendapatkan informasi apakah Bourdain atau Spade mendapatkan pengobatan.  Perwakilan dari kedua mendiang belum dapat dihubungi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Suami Kate Spade, Andy Spade, mengatakan dalam sebuah pernyataan pekan ini bahwa mendiang telah menderita depresi selama bertahun-tahun dan berkonsultasi secara erat dengan dokternya. Dengan ketersediaan banyaknya obat generik antidepresi, dengan banyak di antaranya yang hanya menawarkan sedikit manfaat, mengembangkan obat depresi merupakan sesuatu yang tidak mudah. Jauh lebih banyak obat kanker Produsen obat menawarkan 140 terapi untuk penanganan masalah kesehatan mental, termasuk 39 yang ditujukan untuk pengobatan depresi, menurut asosiasi dagang Pharmaceutical Research and Manufacturers of America.  Bandingkan dengan bidang pengembangan pengobatan kanker di industri farmasi dengan 1.100 obat kanker percobaan, yang dapat ditawarkan dengan harga yang sangat mahal. “Psikiatri telah menjadi bidang investasi yang kurang diminati,” ujar Harry Tracy, dengan buletinnya, NeuroPerspective, mengikuti perkembangan dalam pengobatan untuk berbagai permasalahan psikiatris.  “Perusahaan asuransi bertanya, “Mengapa kami harus menanggung obat yang belum terbukti efektif?” Sementara orang mengatakan obat-obat anti depresi butuh waktu lama untuk dianggap efektif, kalaupun obat itu efektif.  Sekitar separuh orang yang mengidap depresi gagal menunjukkan respon positif terhadap terapi yang ada sekarang, ujar Dr. Husseini Manji, pemimpin global unit bidang ilmu syaraf di perusahaan Johnson & Johnson Janssen. Mengembangkan obat antidepresi adalah sesuatu yang berisiko.  Pasien dalam percobaan klinis acapkali cenderung lebih merespon terhadap plasebo, menutupi keefektifan dari obat yang sedang diuji.  Selain itu, begitu disetujui, obat antidepresi membutuhkan tenaga penjual dalam jumlah besar untuk menjangkau psikiater selain juga penyedia layanan kesehatan utama. Hambatan lainnya adalah kesulitan untuk melakukan penelitian awal depresi pada hewan yang dapat menjadi dasar untuk melakukan percobaan pada manusia. “Ini menjadi sebuah tantangan besar dalam mengimplementasikannya pada uji coba klinik pada manusia,” ujar Caroline Ko, pemimpin proyek NewCures, sebuah program yang baru dibentuk di Northwestern University yang bertujuan untuk mengurangi risiko investasi dalam pengobatan depresi, nyeri, Parkinson, dan penyakit-penyakit lainnya. Satu-satunya pemain penting: Johnson & Johnson J&J jadi satu-satunya perusahaan farmasi yang berinvestasi dalam jumlah besar dalam obat antidepresi baru ujar Tracy.  Para produsen yang lebih kecil, termasuk Sage Therapeutics, berharap untuk mendapatkan keputusan dari pihak regulator di AS terkait pengobatan antidepresi untuk ibu yang baru melahirkan menjelang akhir tahun. Obat esketamine produksi J&J membidik masalah depresi yang resisten terhadap obat.  Obat ini serupa dengan ketamine, yang digunakan sebagai obat anestesi untuk meredakan nyeri, dan sering kali disalahgunakan untuk pesta obat-obatan dan di pasaran bebas dikenal dengan julukan Special K. Perusahaan ini berharap utnuk mendapatkan persetujuan dari U.S. Food and Drug Administration untuk esketamine, obat semprot lewat hidung yang bereaksi cepat, tahun ini. “Obat-obatan antidepresi standar butuh waktu berminggu-minggu untuk bekerja.  Mereka tidak begitu bermanfaat dalam situasi krisis,” ujar Carla Canuso, yang memimpin upaya J&J dalam menguji pengobatan pada manusia yang dianggap paling berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri, yang paling sering dikaitkan dengan depresi. Allergan Plc tengah mengembangkan rapastinel, sebuah obat antidepresi intravena yang bereaksi cepat yang dibeli perusahaan itu pada tahun 2015.  Obat itu memiliki terapi terobosan yang ditunjuk oleh FDA, dimana hasil uji klinis diharapkan dapat diperoleh pada awal tahun 2019.  Bulan lalu, perusahaan itu mengakuisisi obat antidepresi lainnya dari perusahaan rekanannya, Aptinyx. Dr. Julie Goldstein Grumet, seorang pakar perilaku kesehatan dari Suicide Prevention Resource Center, menyatakan 122 orang di AS mengakhiri hidupnya lewat tindakan bunuh diri setiap harinya pada pekan lalu.  Banyak di antaranya yang bahkan tidak didiagnosa sebagai pengidap penyakit mental. “Kita kehilangan kesempatan untuk mengidentifikasi orang yang berisiko untuk melakukan bunuh diri,” ujarnya. [ww/dw]

Pakar: Tindakan Bunuh Diri Dapat Dicegah

Minggu, 10 Juni 2018 Semakin banyak orang yang melakukan tindakan bunuh diri dibandingkan sebelumnya, menurut laporan U.S. Centers for Disease Control (Pusat Pengendalian Penyakit AS), namun bunuh diri bukan satu-satunya masalah yang dihadapi oleh warga Amerika.  World Health Organization (WHO) memperkirakan setiap 40 detik, seseorang di dunia mengakhiri hidupnya. Para pakar mengatakan kunci pencegahan bunuh diri adalah mendapatkan pertolongan sedini mungkin dan menghilangkan stigma seputar penyakit mental dan bunuh diri. Dorothy Paugh baru berusia 9 tahun saat ayahnya melakukan bunuh diri. “Saya anggap hari itu sebagai hari terakhir masa kanak-kanakku,” ujarnya, “karena sejak saat itu, saya tidak lagi memiliki rasa aman.” Ayah Paugh dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Arlington, tempat yang khusus didekasikan untuk para pahlawan perang. “Penting untukku agar orang tidak menjuluki mereka yang mati karena bunuh diri sebagai pengecut,” ujarnya, “karena ayahku seorang pemberani.  Ia berjuang selama Perang Dunia II dan … saya rasa ia tidak mampu lagi menanggung beban.” Hampir 50 tahun kemudian, kehidupan Dorothy Paugh terguncang lagi oleh peristiwa bunuh diri lainnya. “Saya kehilangan putraku di tahun 2012,” ujarnya. “Ini foto favoritku tentang Peter karena ia menunjukkan secercah senyum.  Senyumnya sangat bersahaja, namun sorotan mata birunya sangat tajam.  Ia selalu memberi perhatian.  Ia memandang dunia dengan penuh kasih, saya rasa.” Setiap tahunnya, sekitar 800.000 orang di seluruh dunia kehilangan nyawanya akibat tindakan bunuh diri – dan angka itu tidak termasuk jumlah yang tak terhingga dari mereka yang mencoba melakukan tindakan bunuh diri. World Health Organization (WHO) mengatakan satu orang melakukan tindakan bunuh diri setiap 40 detik.  Namun dampaknya terhadap keluarga, masyarakat, dan komunitas jauh lebih besar. “Efek riaknya besar sekali,” ujar Paugh.  Dampaknya terhadap saudara lelaki, kekasih, saya sendiri, dan ayah dari putraku besar sekali.  Kejadian tersebut sangat mengguncang dan butuh bertahun-tahun bagi kami untuk dapat pulih … untuk menemukan kembali pijakan.” Meskipun demikian para pakar mengatakan tindakan bunuh diri dapat dicegah apabila pemerintah menciptakan kebijakan untuk mencegah penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, membuat perlindungan terhadap penyalahgunaan senjata, menghilangkan stigma terhadap tindakan bunuh diri, dan memberi dukungan pada mereka yang menderita depresi atau penyakit yang menyebabkan depresi. Paul Gionfrieddo, yang mengepalai Mental Health America, menjadi pendukung perawatan dini saat putranya mulai terjangkit penyakit mental. “Tindakan bunuh diri adalah stadium empat untuk banyak orang yang menderita penyakit mental serius dan, sejujurnya, ini juga stadium empat akhir, kejadian tahap akhir bagi banyak orang dengan berbagai macam penyakit kronis, yang bisa jadi tidak menderita penyakit mental,” ujar Gionfrieddo. Karena pengalamannya, Paugh menjadi seorang pendukung untuk pencegahan tindakan bunuh diri. “Apabila kita pikir seseorang sedang dalam masalah, tanyakan langsung pada mereka apakah mereka berpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri,” ujar Paugh.  “Percakapan ini mungkin tidak nyaman, namun jauh lebih nyaman daripada menghadiri acara pemakaman.  Itulah harapanku dan tujuanku berbicara tentang masalah bunuh diri – sehingga orang-orang tahu tindakan itu dapat dicegah.” Para pakar kesehatan mental mengatakan upaya untuk mengidentifikasi kesehatan mental akan dapat membantu orang untuk mendapatkan perawatan sebelum masalah depresi mereka menjadi sangat parah.  Rekomendasi-rekomendasi lainnya termasuk menghilangkan stigma sosial yang dikaitkan dengan penyakit mental dan membuat perawatan penyakit mental lebih tersedia secara luas.  [ww/dw]

WHO Optimis Sekaligus Waspada Terkait Penyebaran Ebola di Kongo

Sabtu, 09 Juni 2018 The World Health Organization (WHO) menyatakan pihaknya optimistik sekaligus tetap waspada terkait pencegahan penghentian virus Ebola di Republik Demokratik Kongo, namun memperingatkan masih banyak yang harus dikerjakan di masa depan.  Tigapuluh delapan dari 62 kasus terduga Ebola telah dipastikan.  Dari total angka kasus Ebola yang sudah pasti, 27 orang telah meninggal dunia. Laporan World Health Organization (WHO) menyatakan mayoritas dari kasus yang sudah dipastikan Ebola telah terdeteksi sejak dua hingga tiga pekan yang lalu.  Sejak itu, hanya ada beberapa kasus sporadis.  WHO mencatat belum ada lagi kasus yang dipastikan sebagai Ebola sejak pertengahan Mei di dua dari tiga kawasan yang terkena dampak di Republik Demokratik Kongo, kota besar Mbandaka dan Bikoro, di mana virus tersebut awalnya terdeteksi satu bulan yang lalu. Peter Salama, Wakil Direktur Jenderal Kesiagaan dan Tanggap Darurat WHO, menyatakan tidak adanya kasus-kasus yang sudah dipastikan sebagai Ebola merupakan hal penting.  Ia mengatakan hampir 700 orang yang telah berinteraksi dengan individu-individu yang terinfeksi telah diimunisasi dengan vaksin percobaan yang menjanjikan. “Kita telah menambahkan satu lagi sebab optimisme karena keberhasilan kita untuk menjangkau mayoritas dari mereka yang telah berinteraksi dengan individu-individu yang terinfeksi – lebih dari 98 persen dan telah diberi vaksinasi,” ujarnya.  “Dan karena vaksinasi untuk mayoritas dari mereka diberikan 10 hari yang lalu, kami yakin mayoritas dari mereka yang berinteraksi dan menerima vaksinasi sekarang telah terlindungi dari Ebola.  Jadi kondisi ini menjadi sesuatu yang membuat kami optimis selain tidak adanya kasus-kasus baru sejak pertengahan bulan Mei di dua lokasi tersebut.” Penetapan fase satu untuk melindungi pusat kota dan daerah pinggiran kota telah berjalan baik dan WHO sekarang akan memulai fase dua.  Ia mengatakan fokusnya adalah dengan memberikan vaksinasi kepada para pekerja kesehatan dan mereka yang berhubungan dengan para individu yang terinfeksi di kawasan ketiga yang terdampak yaitu Iboko dan kota kecil Itipo yang terletak dalam zona kesehatan ini.  Sebuah kasus Ebola telah dipastikan di sana hari Kamis. Iboko adalah daerah terpencil, kawasan berhutan dengan populasi penduduk asli yang besar dan termarjinalkan.  Kota Itipo tidak memiliki fasilitas dan infrastruktur air bersih.  Salama mengatakan tantangan logistik untuk mengidentifikasi, melacak, dan kemudian memberikan vaksinasi setiap mereka yang berinteraksi dengan individu yang terinfeksi di kawasan ini berjumlah besar dan pekerjaan di pekan-pekan mendatang akan sulit sekali. Wabah Ebola di Afrika Barat beberapa tahun yang lalu menyisakan kematian lebih dari 11.000 orang penduduk. [ww/dw]

Program Pencegahan Bunuh Diri Sangat Membutuhkan Dana

Sabtu, 09 Juni 2018 Berbagai upaya untuk menanggulangi tindakan bunuh diri di Amerika Serikat sangat membutuhkan dana tambahan, ujar para pakar pencegahan bunuh diri, setelah kematian dari dua pesohor, Kate Spade dan Anthony Bourdain, pekan ini dan angka statistik menunjukkan semakin meningkatnya permasalahan ini. Pendanaan dari pemerintah federal untuk pencegahan bunuh diri sangat minim dibandingkan pendanaan untuk berbagai permasalahan kesehatan masyarakat lainnya, meskipun bunuh diri termasuk 10 penyebab kematian terbesar di antara warga Amerika, yang merenggut nyawa 1 orang setiap 12 menit, menurut data yang disebutkan oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention. "Pusat-pusat krisis kami di seluruh penjuru negeri telah lama kekurangan dana," ujar John Draper, direktur eksekutif untuk National Suicide Prevention Lifeline, yang dapat dihubungi di nomor telepon 1-800-273-TALK dan memberikan bantuan gratis selama 24 jam sehari. Tingkat-tingkat pendanaan lainnya The National Institutes of Health (NIH) menyediakan dana sebesar kurang lebih $35 juta sepanjang tahun 2017 untuk mendanai riset pencegahan bunuh diri, sementara dana sebesar $68 juta lainnya diperuntukkan untuk kategori bunuh diri, menurut statistik badan tersebut. Ada 45.000 kasus bunuh diri di AS sepanjang tahun 2016.  Sebagai perbandingan, alkoholisme, yang merenggut nyawa sekita 65.000 warga Amerika sepanjang tahun 2015, menerima pendanaan penelitian sebesar $500 juta tahun lalu. Dana amal swasta, yang membantu agar saluran telepon pencegahan bunuh diri dapat terus beroperasi, juga mengalami kesulitan dalam menggalang dana dibandingkan dengan upaya penanggulangan permasalahan kesehatan lainnya, ujar para pakar. “Ambil kanker payudara sebagai contohnya.  Lebih banyak orang yang akan kehilangan nyawanya akibat bunuh diri dibandingkan kanker payudara tahun ini,” ujar Dan Reidenberg, direktur eksekutif untuk lembaga nirlaba Suicide Awareness Voices of Education. Dana sebesar hampir $690 juta dihabiskan untuk penelitian kanker payudara tahun lalu, menurut statistik NIH.  Sekitar 41.000 orang wanita akan kehilangan nyawanya akibat kanker payudara tahun ini, sebagaimana diperikirakan oleh American Cancer Society. Tingginya angka bunuh diri Amerika Serikat memiliki salah satu angka bunuh diri tertinggi di dunia, menurut data World Health Organization (WHO).  Pada tahun 2015, AS memiliki angka rasio bunuh diri sebesar 15,3 bunuh diri per 100.000 penduduk jauh di atas rasio angka bunuh diri global yang berada 10,6 bunuh diri per 100.000 penduduk menurut WHO. Bourdain, seorang pakar kuliner dan host acara kuliner dan perjalanan bertajuk Parts Unknown yang ditayangkan CNN, tewas dalam tindakan yang diduga bunuh diri hari Jumat di sebuah hotel di Perancis.  Spade, perancang fashion yang terkenal lewat tas tangannya yang populer, ditemukan tewas di apartemennya hari Selasa setelah apa yang disebut suaminya sebuah perjuangan panjang melawan depresi. Para ilmuwan mencapai kemajuan dalam mengidentifikasi cara-cara untuk memprediksi risiko bunuh diri secara lebih akurat, termasuk penanda biologis yang dapat mengindikasikan apabila seseorang memiliki kemungkinan untuk melakukan tindakan bunuh diri, ujar Jane Pearson, ketua dari konsorsium penelitian untuk pencegahan tindakan bunuh diri, National Institute of Mental Health. Berbagai permasalahan kesehatan mental yang tidak terdiagnosa, dan tekanan mental yang disebabkan kehilangan pekerjaan atau seseorang yang mereka sayangi, permasalahan menyangkut hubungan antar individu, kesulitan finansial, dan permasalahan-permasalahan fisik dapat mendorong tindakan bunuh diri, ujar para pakar. Perpaduan berbagai faktor “Biasanya bunuh diri disebabkan oleh perpaduan berbagai faktor,” ujar Jerry Reed, seorang anggota komite eksekutif Action Alliance for Suicide Prevention.  “Kita harus berhati-hati dalam memahami spektrum permasalahan ini secara keseluruhan.” Penelitian telah menunjukkan intervensi langsung, seperti dibukanya saluran telepon untuk pencegahan bunuh diri, dapat membantu orang untuk mempertimbangkan masak-masak dan mengubah pikirannya sebelum melakukan tindakan bunuh diri, ujar Draper yang mewakili National Suicide Prevention Lifeline. Kuncinya adalah untuk menganggap tindakan bunuh diri sebagai permasalahan kesehatan publik, persis seperti AIDS atau kanker, ujar Christine Moutier, kepala petugas medis American Foundation for Suicide Prevention. Meskipun tragis, kematian Spade dan Bourdain dapat membantu menyebarkan pesan bahwa tindakan bunuh diri dapat dicegah, ujar para pakar. “Upaya pencegahan bunuh diri sungguh sesuatu yang dapat diajarkan,” ujar Pearson. [ww/dw]

Angka Bunuh Diri di AS Alami Lonjakan

Sabtu, 09 Juni 2018 Angka bunuh diri melonjak hampir di semua negara bagian di AS antara tahun 1999 hingga 2016, dengan lonjakan yang lebih dari 30 persen di separuh negeri, sebagaimana dilaporkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Meskipun kesehatan mental acapkali dituduh sebagai penyebab bunuh diri, lebih dari setengah mereka yang mengakhiri hidupnya di 27 negara bagian pada tahun 2015 belum pernah didiagnosa penyakit mental, ujar CDC. Meskipun angka bunuh diri melonjak di seluruh kelompok usia, CDC menyatakan mereka yang berada di kelompok usia 45-64 mengalami lonjakan tertinggi.  Kelompok usia tersebut memiliki angka bunuh diri tertinggi.  Mereka yang berada di kelompok usia 10-24 tahun memiliki angka bunuh diri terendah. “Ini adalah permasalahan nasional dengan lingkup luas sehingga kita memerlukan pendekatan secara komprehensif,” ujar Anne Schuchat, wakil direktur CDC. Hampir 45.000 orang melakukan bunuh diri sepanjang tahun 2016, membuat bunuh diri menjadi satu dari tiga penyebab kematian utama yang mengalami peningkatan di Amerika Serikat, bersama dengan penyakit Alzheimer dan overdosis obat-obatan terlarang. Kematian Kate Spade akibat bunuh diri di New York pekan ini mengejutkan dunia fashion.  Hari Rabu suami mendiang menyatakan Kate Spade menderita depresi dan gejala kecemasan selama bertahun-tahun. CDC menyatakan bunuh diri jarang disebabkan oleh satu penyebab tunggal. Selain dari kesehatan mental dan upaya bunuh diri sebagai faktor-faktor risiko, kondisi-kondisi lainnya yang menjadi penyebab adalah masalah sosial dan ekonomi, adanya akses kepada sarana untuk melakukan bunuh diri, serta kemampuan dan ketrampilan yang buruk dalam memecahkan permasalahan, demikan pernyataan lembaga kesehatan tersebut dalam Morbidity and Mortality Weekly Report. Hasil temuan CDC menunjukkan bunuh diri telah mengalami peningkatan di semua negara bagian kecuali Nevada, di mana di negara bagian tersebut angkanya mengalami penurunan sebesar 1 persen.  Meskipun demikian, angka bunuh diri di negara bagian Nevada adalah yang tertinggi ke-sembilan di Amerika Serikat. North Dakota menjadi negara bagian dengan lonjakan angka bunuh diri tertinggi, dengan hampir 58 persen selama pelaksanaan periode studi. Montana menjadi negara bagian dengan rasio bunuh diri tertinggi pada angka 29,2 per 100.000 orang per tahun, sementara District of Columbia menjadi yang terendah dengan 6,9 bunuh diri per 100.000 orang per tahun. CDC merekomendasikan pendekatan luas untuk mencegah bunuh diri, termasuk meningkatkan dukungan ekonomi oleh negara-negara bagian, dengan membantu keluarga dan para sahabat setelah terjadinya peristiwa bunuh diri, dan berusaha mengenali dan membantu orang-orang yang berisiko melakukan bunuh diri. [ww/dw]

Wabah Ebola Kongo Sudah Berlangsung 1 Bulan

Jumat, 08 Juni 2018 Kementerian Kesehatan Kongo mengumumkan ada pasien baru Ebola, sementara laju pertambahan pasien baru telah melamban. Menurut kementerian tersebut, sekarang telah dikukuhkan ada 38 pengidap virus Ebola, 13 di antaranya meninggal dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jumat (8/6) memberikan penjelasan singkat mengenai wabah tersebut, satu bulan setelah mengumumkan tentang wabah Ebola di sana. Kementerian Kesehatan Kongo menyatakan pasien yang baru dikukuhkan di kawasan pedesaan Iboko terkait dengan seseorang yang diduga mengidap Ebola dan meninggal pada 20 Mei lalu. Wabah Ebola, yang berawal di kawasan Barat Laut yang terpencil, telah menyebar ke kota Mbandaka yang berpenduduk lebih dari satu juta orang. Keadaan ini mempersulit upaya untuk melacak kontak-kontak mereka yang terinfeksi virus Ebola. WHO selama dua pekan ini telah mengimunisasi lebih dari seribu orang, termasuk petugas kesehatan yang berisiko tinggi terinfeksi Ebola. [uh/lt]

WHO: Pasien Ebola Harus Diisolasi

Rabu, 06 Juni 2018 Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) mengatakan bahwa orang-orang yang didiagnosa terjangkit Ebola harus diisolasi untuk mencegah penyebaran penyakit yang sangat menular itu. WHO telah memperbarui jumlah penderita Ebola sejak wabah itu mulai merebak di Republik Demokratik Kongo tanggal 8 Mei. WHO telah mengkonfirmasi 31 dari 52 kemungkinan dan terduga kasus, termasuk 22 kematian akibat ebola. Larinya dua pasien Ebola awal pekan ini dari pusat perawatan di Mbandaka, kota yang berpenduduk lebih dari satu juta orang, telah menimbulkan kekhawatiran penyakit itu akan menyebar dengan cepat. Keluarga pasien dilaporkan membantu kedua pasien itu kabur. Juru bicara WHO Tarik Jasarevic mengatakan insiden layak disesalkan tapi bukannya tidak terduga. “Secara manusiawi orang ingin bersama yang mereka kasihi dan keluarga ingin mereka berada di rumah pada saat-saat terakhir kehidupan. Merawat penderita Ebola di rumah tidak hanya mengurangi pasien bertahan hidup karena tidak mendapat perawatan yang mendukung tapi juga membahayakan seluruh keluarga,” ujarnya.  Ebola sangat menular. Virus itu ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi. Tingkat kematiannya antara 20 persen dan 90 persen. Jasarevic mengatakan penting untuk meningkatkan upaya melibatkan masyarakat sehingga mereka memahami bagaimana virus menyebar dan bagaimana mereka bisa melindungi diri dari terinfeksi. "Orang-orang yang sakit pergi ke unit isolasi dan mendapat perawatan karena perawatan itu akan secara signifikan meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup ... Mendapatkan cairan infus, mendapatkan antibiotik sebagai sarana pendukung, jika diperlukan, mengurangi risiko," tambah Tarik Jasarevic.  Jasarevic juga mengatakan, adalah penting untuk melacak setiap orang yang telah terlibat kontak dengan pasien Ebola. Ia mengatakan mereka yang telah diidentifikasi kemungkinan akan mendapat vaksin eksperimental yang telah menunjukkan perlindungan yang baik. Sejak kampanye vaksinasi dimulai hari Senin, ia mengatakan 154 orang telah diinokulasi. Mereka termasuk pekerja kesehatan berisiko tinggi dan orang-orang yang sangat rentan dari komunitas lokal di Mbandaka. [my/ds]

Trump Lebih-Lebihkan Kemajuan dalam Penanggulangan Epidemi Opioid

Minggu, 03 Juni 2018 Presiden Donald Trump melebih-lebihkan kemajuan dalam menanggulangi epidemi opioid, dengan mengklaim “angkanya jauh lebih rendah” meskipun kenyataannya ada peningkatan angka kematian terkait penyalahgunaan dan overdosis opioid di tahun pertama masa pemerintahannya. Berikut ini komentar Trump dalam kampanye politik di Nashville hari Selasa malam: TRUMP:  “Kita telah menganggarkan dana sebesar $6 miliar untuk penanggulangan penyalahgunaan opioid dan menyingkirkan momok yang telah menguasai negara kita.  Dan angka-angka turun jauh.  Kita sebarkan pesannya.  Tentang hal buruk.  Anda ke rumah sakit, lengan anda patah, anda keluar dari rumah sakit dan anda jadi pecandu narkoba melalui zat opioid ini.  Angka sebenarnya jauh lebih rendah.  Kita berhasil menangani masalah ini dengan baik.  Namun demikian kita didukung dengan dana anggaran $6 miliar untuk membantu kita menanggulangi epidemi opioid.” FAKTANYA: Jumlah resep untuk obat-obat opioid mengalami penurunan; kematian dan indikator-indikator lainnya dari epidemi ini mengalami peningkatan, menurut data statistik terbaru, yaitu data yang berasal dari tahun 2017.  Dan semua perkembangan itu tidak ada hubungannya dengan anggaran $6 miliar yang telah disetujui oleh Kongres karena dana itu diperuntukkan untuk tahun ini dan tahun berikutnya. Trump tidak menyinggung secara spesifik angka-angka apa yang ia maksud.  Namun menurut data yang dirilis pada bulan April, resep obat untuk obat-obatan pengurang rasa sakit opioid yang ditebus di Amerika Serikat mengalami penurunan hampir 9 persen tahun lalu, penurunan terbesar dalam kurun waktu 25 tahun terakhir.  Total dosis resep opioid yang ditebus pada tahun 2017 mengalami penurunan 12 persen karena lebih banyak resep yang diberikan untuk jangka pendek, lebih sedikit pasien baru yang diberi resep dengan obat jenis itu, dan resep obat-obat dengan dosis opioid tinggi mengalami penurunan.  Angka-angka itu berasal dari perusahaan pengumpul data kesehatan IQVIA’s Institute for Human Data Service. Namun resep obat-obatan legal hanya salah satu bidang epidemi saja. Kematian terkait overdosis obat-obatan opioid meningkat hingga kurang lebih 46.000 jiwa dalam eriode 12 bulan yang berakhir pada bulan Oktober 2017, meningkat sekitar 15 persen dari bulan Oktober 2016, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (Centers for Disease Control and Prevention/CDC).  Angka-angka di atas masih berupa data pendahuluan karena penyelidikan penyebab kematian terus berlanjut dalam periode pelaporan dimaksud.  Bisa jadi angkanya lebih tinggi. Tindakan-tindakan lain yang diambil oleh CDC juga merujuk pada meningkatnya tingkat keseriusan masalah tahun lalu. Contohnya, jumlah pasien yang berobat ke bagian gawat darurat untuk kasus-kasus overdosis opioid – resep pengobatan pereda nyeri, heroin, dan fentanyl yang diproduksi secara gelap – meningkat 30 persen di AS dari bulan Juli 2016 hingga September 2017.  Overdosis lewat suntikan meningkat 70 persen di daerah Midwest pada periode itu sementara peningkatannya mencapai 54 persen untuk kota-kota besar lainnya di 16 negara bagian. “Menyingkirkan momok yang ada” adalah niatnya, namun angka-angkanya tidak mencerminkan kalau epidemi opioid mereda. [ww/dw]

Lakukan Pemeriksaan Kanker Kolorektal Lebih Dini

Sabtu, 02 Juni 2018 The American Cancer Society merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan kanker kolorektal di usia 45 tahun, dibandingkan yang disarankan pada saat ini yaitu 50 tahun. Lembaga itu juga merekomendasikan mereka yang berada dalam kondisi sehat dengan angka harapan hidup lebih dari 10 tahun untuk terus melakukan pemeriksaan kanker kolorektal secara reguler hingga usia 75 tahun. Kelompok ini menyatakan uji awal tidak harus dilakukan lewat prosedur kolonoskopi, namun bisa dilakukan lewat beberapa prosedur pemeriksaan yang bersifat non-invasif, seperti uji feces di rumah yang dapat diberikan lewat resep dokter. “Semua pemeriksaan ini adalah langkah pemeriksaan yang baik, dan pilihannya harus ditawarkan kepada pasien,” ujar Dr. Rich Wender dari the American Cancer Society.  “Pemeriksaan terbaik adalah pemeriksaan yang dilakukan.” Perubahan prosedur didasarkan atas adanya informasi baru terkait adanya peningkatan yang nyata terkait kasus-kasus kanker kolorektal, khususnya kanker rektum, di antara mereka yang berusia muda.  Para pakar belum memastikan alasan adanya peningkatan kasus itu sebesar 50 persen sejak tahun 1994. Sebagian besar kanker kolon menjangkiti orang dewasa berusia 55 tahun atau lebih, dan kabar baiknya adalah tingkat kematian telah mengalami penurunan selama beberapa dekade.  Kanker kolon, yang digabungkan dengan kanker rektum, adalah jenis kanker kedua paling mematikan di AS. Tahun ini, lebih dari 140.000 warga Amerika diperkirakan akan didiagnosis dengan penyakit ini, dan sekitar 50.000 di antaranya akan mengalami kematian. [ww]

Kampanye Vaksinasi Mampu Bantu Cegah Wabah Ebola di Kongo

Sabtu, 02 Juni 2018 World Health Organization (WHO) telah memperluas kampanye vaksinasi Ebola di Republik Demokratik Kongo yang akan juga mencakup orang-orang berisiko tinggi di tiga daerah.  Angka-angka terakhir yang dipublikasikan oleh WHO menegaskan adanya 37 kasus yang sudah dipastikan dan 13 kasus yang diduga Ebola. Sejak awal kampanye vaksinasi Ebola di bulan Mei, World Health Organization (WHO) menyatakan 682 orang telah divaksinasi, di antara mereka yang telah divaksinasi 500 tinggal di Mbandaka, sebuah kota dengan populasi lebih dari satu juta orang. Kampanye vaksinasi ini baru-baru ini telah diperluas sehingga mencakup Bikoro, daerah dimana Ebola pertama kali ditemukan pada tanggal 8 Mei dan zona kesehatan Iboko, yang merupakan daerah paling terpencil di antara ketiga daerah itu.  Mereka yang divaksinasi termasuk di antaranya para pekerja kesehatan, dan mereka yang berisiko tinggi untuk terjangkit penyakit fatal ini. Para pejabat WHO mengatakan vaksin ini, yang belum secara resmi disetujui, tampaknya mampu memberikan perlindungan dan meningkatkan harapan bahwa vaksin itu dapat menghentikan penyebaran virus Ebola. Ellen Johnson Sirleaf, yang menjabat sebagai Presiden Liberia saat terjadi epidemi Ebola yang belum pernah terjadi sebelumnya di Afrika Barat, juga memiliki harapan yang sama.  Ebola tersebar di Afrika Barat akhir tahun 2013.  Saat akhirnya penyebaran virus itu mampu dikendalikan pada tahun 2016, virus tersebut telah merenggut nyawa lebih dari 11.000 orang di Guinea, Sierra Leone, dan Liberia.  Liberia kehilangan 4.800 warganya saat terjadi wabah tersebut. Saat berkunjung ke Jenewa awal pekan ini, ia mengatakan kepada VOA sudah ada perbaikan dalam sistem pelaksanaan pelayanan kesehatan, termasuk pengendalian infeksi sejak terjadinya penyebaran wabah Ebola. “Jadi kapasitas untuk mampu menanggapi wabah apapun sekarang sudah lebih baik di negara-negara yang terdampak wabah ini, begitu juga di tempat-tempat lainnya,” imbuhnya.  “Saya rasa ada dimensi baru yang penting dalam menanggulangi Ebola dan itu adalah vaksin.” Sirleaf menyatakan uji coba vaksin di Guinea dan sekarang di Republik Demokratik Kongo telah menunjukkan hasil yang memuaskan. “Kami berharap sama dengan negara-negara lainnya Republik Demokratik Kongo akan memiliki kapasitas untuk menanggulangi wabah penyakit ini, untuk menghentikan penyebarannya,” ujarnya.  “…. Kami berharap Republik Demokratik Kongo akan mampu melalui situasi ini tanpa efek serius, hasil penting yang kami lihat di tiga negara yang menunjukkan kami tidak siap untuk menghadapi situasi ini.” Perusahaan pembuat vaksin ini, Merck, telah menyumbangkan 7.500 dosis vaksin Ebola ke Republik Demokratik Kongo.  Perusahaan itu mengatakan masih ada 300.000 dosis tersedia seandainya ada wabah serius.  [ww]

Angka Kematian Akibat Wabah E. Coli di AS Jadi Lima Orang

Sabtu, 02 Juni 2018 Para pejabat kesehatan AS menyatakan lima orang menjadi korban wabah E. coli akibat daun selada yang terkontaminasi. U.S. Centers for Disease Control and Prevention mengumumkan hari Jumat empat orang lagi telah meregang nyawa akibat wabah penyakit ini.  Para pasien yang meninggal dunia berasal dari Arkansas, California, Minnesota, dan New York. Badan itu mengatakan 197 pasien yang berasal dari 35 negara bagian jatuh sakit akibat mengkonsumsi daun selada yang terkontaminasi atau berinteraksi dari mereka yang menderita penyakit tersebut.  Setidaknya 89 orang telah dilarikan ke rumah sakit. CDC menyatakan banyak dari kasus-kasus baru melibatkan orang-orang yang telah jatuh sakit dua atau tiga minggu yang lalu, saat daun selada yang terkontaminasi, yang menjadi bahan populer untuk salad, masih dijual bebas. Para pejabat kesehatan telah mengaitkan wabah E. coli dengan daun selada yang ditanam di Yuma, Arizona.  Para pejabat telah mendesak warga untuk membuang semua daun selada setelah wabah pertama dilaporkan bulan Maret dan sekarang para pejabat mengatakan musim tanam di Arizona telah berakhir. Meskipun bahaya sebagian besar telah berlalu, namun laporan terkait kasus-kasus penyakit ini masih terus diterima disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan para pejabat untuk mengumpulkan semua informasi dari rumah sakit Sebagian besar bakteri E. coli tidak berbahaya, namun ada yang menghasilkan zat-zat beracun yang dikenal sebagai racun Shiga, yang dapat menyebabkan kram perut parah, diare berdarah dan muntah-muntah. [ww]

WHO: Rokok Tetap Jadi Sebab Utama Kematian dan Penyakit

Sabtu, 02 Juni 2018 Sekarang ini lebih sedikit perokok di seluruh dunia, khususnya di kalangan wanita, namun hanya satu dari delapan negara yang telah berada di jalur yang tepat dalam mengurangi konsumsi tembakau secara signifikan menjelang tahun 2025, demikian pernyataan World Health Organization (WHO) hari Kamis. Tiga juta orang mengalami kematian dini setiap tahunnya terkait konsumsi tembakau yang menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke, penyebab kematian utama di dunia, demikian bunyi pernyataan tersebut, menandai Hari Tanpa Tembakau Dunia.  Kematian tersebut termasuk 890.000 kematian para perokok pasif. WHO meraih sebuah perjanjian bersejarah pada tahun 2005, yang saat ini telah diratifikasi oleh 180 negara, yang menyerukan larangan terhadap pariwara dan dana sponsor tembakau, serta pengenaan pajak untuk mengurangi konsumsi tembakau. “Prevalensi konsumsi tembakau di seluruh dunia telah mengalami penurunan dari 27 persen di tahun 2000 menjadi 20 persen di tahun 2016, jadi sudah ada kemajuan yang dicapai,” ujar Douglas Bettcher, direktur bidang pencegahan penyakit tidak menular di WHO, kepada media.   Kemajuan yang lebih pesat di negara-negara industri Di tengah peluncuran laporan global WHO terkait tren dalam prevalensi konsumsi rokok tembakau, ia mengatakan kemajuan di antara negara-negara industri lebih pesat dibandingkan negara-negara berkembang. “Salah satu faktor utama yang menghalangi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah untuk mencapai target itu adalah perlawanan yang dilakukan oleh industri tembakau, yang berusaha menggantikan klien mereka yang meninggal dengan secara luas memasarkan produk-produknya dan menjaga agar harganya terjangkau oleh orang muda,” tambahnya. Kemajuan dalam menyingkirkan kebiasaan buruk ini tidak merata, dengan kawasan benua Amerika menjadi satu-satunya kawasan yang siap untuk memenuhi target pengurangan konsumsi tembakau sebanyak 30 persen menjelang tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2010, baik untuk pria maupun wanita, ujar WHO. Meskipun demikian, Amerika Serikat saat ini tidak berada di jalur yang tepat, terhambat oleh litigasi terkait peringatan dalam kemasan rokok dan ketertinggalan dalam perpajakan, ujar Vinayak Prasad dari unit pengendalian tembakau WHO. Bagian-bagian Eropa Barat tidak mendapat kemajuan, khususnya karena kegagalan menghimbau perempuan untuk berhenti merokok.  Laki-laki di Afrika suka merokok, dan  konsumsi tembakau di Timur Tengah diperkirakan malah akan meningkat, kata WHO.   Kesadaran akan risiko Secara keseluruhan, tembakau telah merenggut nyawa 7 juta orang per tahun dan banyak orang menyadari kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko kanker, ujar WHO.  Namun banyak pengguna tembakau di China dan India yang tidak menyadari risiko terkena penyakit jantung dan stroke, membuat upaya untuk meningkatkan kampanye kesadaran bahaya rokok menjadi sesuatu yang mendesak, ujar badan itu. “Persentase orang dewasa yang tidak percaya bila merokok menyebabkan stroke, contohnya, di China setinggi 73 persen; untuk serangan jantung, 61 persen orang dewasa di China tidak menyadari kebiasaan merokok meningkatkan risiko tersebut,” ujar Bettcher.  “Kami berusah untuk mempersempit kesenjangan ini.” China dan India memiliki angkat perokok tertinggi di dunia, masing-masing dengan 307 juta dan 106 juta perokok, dari total 1,1 miliar perokok di kalangan orang dewasa, diikuti oleh Indonesia dengan 74 juta, sebagaimana ditunjukkan oleh angka-angka dalam laporan WHO, India juga memiliki 200 juta dari 367 juta pengguna tembakau tanpa asap. [ww/ii]
Kalender Agenda

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32