Indeks Berita

Dapatkah AI Bantu Dokter Buat Keputusan yang Lebih Baik?

Kamis, 13 Desember 2018 Dokter tak lama lagi mungkin memiliki cara baru untuk mendiagnosa dan mengobati pasien dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (machine learning).

Thailand Akan Jadi Negara Asia Pertama yang Legalkan Ganja, Bagaimana Indonesia?

Kamis, 13 Desember 2018 Thailand akan menjadi negara pertama di benua Asia yang melegalkan ganja untuk medis.

Melahirkan Meningkatkan, Lalu Menurunkan Risiko Kanker Payudara

Rabu, 12 Desember 2018 Melahirkan bayi bisa untuk sementara waktu meningkatkan risiko kanker payudara sebanyak 80 persen, dibandingkan risiko pada perempuan yang belum pernah melahirkan, menurut para peneliti dari sebuah studi. Tapi jangan khawatir. Risiko kanker payudara 80 persen lebih tinggi itu, tidak semenakutkan seperti yang tampak, karena “untungnya, kanker payudara tidak umum menimpa perempuan muda,” kata Dr. Hazel Nichols kepada Reuters dalam wawancara melalui telepon. Nichols dan rekan-rekannya menemukan bahwa risiko kanker payudara meningkat dalam 4,6 tahun setelah seorang perempuan melahirkan terakhir. Tapi setelah itu, risiko menurun. Setelah 19 tahun, risiko akan kembali ke level sebelum melahirkan. Dan setelah itu menurun lagi. Setelah 34,5 tahun setelah kelahiran anak terakhir, risiko kanker turun sebesar 23 persen, dibandingkan risiko pada perempuan yang belum pernah melahirkan. Meski seorang perempuan berusia 45 tahun yang tidak pernah melahirkan mempunyai peluang 0,62 persen didiagnosa mengidap kanker payudara, untuk perempuan berusia sama dan pernah melahirkan dalam jangka waktu 3-7 tahun, peluang didiagnosis kanker sedikit lebih tinggi, yaitu 0,66 persen. Demikian pula ketika perempuan menginjak usia 50 tahun. Peluang perempuan dalam usia tersebut untuk terdiagnosis kanker payudara adalah 1,9 persen untuk perempuan yang tidak memiliki anak dan 2,20 persen untuk perempuan mengandung. Perempuan yang melahirkan anak pertama sebelum usia 25 tahun tidak memiliki risiko yang meningkat sama sekali. “Hasilnya tidak harus mendikte kapan perempuan memutuskan untuk memiliki anak. Karena meski kami melihat risiko ekstra setelah melahirkan ada, ada periode dimana seluruh risiko menjadi sangat rendah,” kata Nichols. “Ini tidak berarti akan menjadi tambahan jumlah kasus kanker payudara dalam jumlah besar.” Mia Gaudet, direktur sains untuk riset epidemiologi Masyarakat Kanker Amerika juga setuju. Penemuan-penemuan itu “seharusnya tidak mengubah perilaku perempuan terkait kapan perempuan memutuskan untuk memiliki anak pertama,” kata Gaudet kepada Reuters melalui wawancara telepon. “Mungkin akan mengubah bagaimana dan kapan seorang perempuan akan mulai pemeriksaan kanker,” tambah Gaudet yang tidak terlibat dalam studi tersebut. Ada keyakinan bahwa kehamilan dan kelahiran anak melindungi perempuan dari kanker payudara. Tapi keyakinan itu muncul dengan melihat tingkat kanker di antar perempuan berusia 60 tahun dan lebih tua. Padahal kenyataannya, setengah dari jumlah perempuan dengan kanker payudara, didiagnosa sebelum usia 62 tahun. Penemuan baru itu, yang dilaporkan di jurnal Annals of Internal Medicine, diperoleh dari menggabungkan data 15 studi terhadap hamper 890 ribu perempuan dari berbagai usia di tiga benua. Penemuan itu mengkonfirmasi hasil dari studi-studi yang lebih kecil. [ft/au]

CDC: Makin Banyak Anak di AS Terjangkit Kelumpuhan Misterius

Selasa, 11 Desember 2018 Jumlah kasus penyakit misterius yang menyebabkan kelumpuhan pada anak-anak tercatat paling tinggi tahun ini, demikian dilaporkan Center for Disease Control and Prevention atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC). CDC memastikan 24 lagi kasus Acute Flaccid Myelitis, disingkat AFM, penyakit yang mirip polio, pada Senin (10/12). Dengan tambahan kasus baru, jumlah kasus AFM menjadi 158 kasus di 36 negara bagian tahun ini. Pejabat-pejabat kesehatan Amerika masih belum tahu apa yang menyebabkan anak-anak yang terkena penyakit itu, kehilangan kemampuan menggerakkan wajah, leher, punggung, lengan, atau kaki. Gejala-gejala itu cenderung terjadi seminggu setelah anak mengalami demam dan penyakit pernafasan. Kondisi itu mirip polio tetapi pejabat kesehatan mengatakan tidak ditemukan bukti bahwa AFM terkait polio, yang telah diberantas dari Amerika, setelah ada vaksin tahun 1950-an. Yang mengkhawatirkan pejabat-pejabat itu adalah banyak anak yang lumpuh selamanya dan sebagian bahkan akhirnya dirawat di rumah sakit dalam unit perawatan intensif, dipasangi mesin untuk membantu mereka bernapas. CDC melacak kasus AFM sejak Agustus 2014. Sejak itu, ada 484 kasus AFM yang sudah dikonfirmasi, menurut badan kesehatan itu.[ka]  

Usia Harapan Hidup Warga AS Terus Berkurang

Minggu, 09 Desember 2018 Harapan hidup di AS berkurang lagi sementara kematian akibat overdosis obat-obatan dan bunuh diri terus bertambah, menurut sebuah laporan pemerintah

AIDS Dapat Diakhiri, Kecuali Stigma, Ketakutan dan Ketidaktahuan

Sabtu, 01 Desember 2018 Hari Sabtu (1/12) ini kita memperingati Hari AIDS Sedunia yang ke-30. Ada begitu banyak kemajuan yang dicapai dalam 30 tahun terakhir, tetapi masih ada orang yang meninggal karena AIDS. Dan banyak yang tertular penyakit ini setiap hari. Padahal sebagaimana dilaporkan Carol Pearson, saat ini kita sudah memiliki piranti untuk mengakhiri wabah itu.  Ketakutan, stigma dan ketidaktahuan. Inilah tiga hal yang menurut Organisasi Kesehatan Sedunia WHO membuat wabah AIDS tak kunjung berakhir. Obat untuk menyembuhkan penyakit ini memang belum ada, tetapi para ilmuwan telah dapat mengobati HIV, virus yang menyebabkan AIDS. Dengan pengobatan ini sebenarnya tidak perlu ada orang yang meninggal karena AIDS. Mereka yang mengidap HIV dapat hidup normal dan sehat. Mereka yang menjalani perawatan tidak dapat menularkannya kepada orang lain. Dengan terapi pencegahan, tidak seorang pun perlu khawatir tertular. Hal ini disampaikan Dr. Jared Baeten di Universitas Washington.  “Kami belum menemukan obat karena kemampuan untuk itu pada skala dan cakupan yang dibutuhkan untuk benar-benar memberantas HIV belum pada tahap yang seharusnya,” kata Dr. Jared Baeten. Hampir satu juta orang meninggal setiap tahun akibat AIDS karena mereka tidak tahu kalau mereka mengidap HIV. Mereka tidak menjalani perawatan, atau bahkan baru memulai perawatan ketika sudah terlambat. Salah satu tantangan terbesar adalah HIV kerap menimbulkan dampak pada orang-orang yang terpinggirkan, demikian ujar Prof. Steffanie Strathdee, pakar di Universitas California di San Diego. “Ada populasi di seluruh dunia yang tidak terlayani dan ini termasuk pengguna narkoba dengan alat suntik dan pekerja seks," jelasnya. Termasuk di dalam kelompok ini adalah laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, transgender, narapidana dan pasangan seksual dari orang-orang ini. Profesor Steffanie Strathdee mengatakan orang-orang dalam kelompok berisiko tinggi ini lebih peduli tentang kebutuhan mendesak mereka, yaitu makanan, tempat tinggal dan pekerjaan.  ‘’Penelitian saya dan penelitian di bidang ini benar-benar menunjukkan bahwa Anda harus mengatasi masalah seluruh orang dan kebutuhan mereka untuk dapat menangani HIV sebagai salah satu masalah kesehatan mereka,’’ imbuhnya. Ini berarti negara-negara harus menyediakan hal-hal mendasar, yang mencakup layanan kesehatan, tanpa mempertimbangkan norma sosial dan moral. Jika tidak maka negara-negara harus menanggung biaya ekonomi dan sosial yang sangat besar akibat penyakit AIDS ini. “Hal terbesar yang kita pelajari dari pencegahan HIV dalam beberapa puluh tahun ini adalah tidak ada hal yang ajaib, tetapi ketika kita mengumpulkan banyak hal yang baik itu secara bersama-sama, akan menimbulkan dampak yang sama,” tambahnya. Para ilmuwan mengatakan dengan menggunakan piranti ini, mendidik warga masyarakat dan mengajak lebih banyak orang menjalani perawatan, maka akan mengurangi stigma. Dan kemudian ketika ada vaksin, maka upaya dunia untuk benar-benar memberantas AIDS akan semakin nyata. [em]

Tawarkan Sunat Perempuan, Klinik di Moskow Tuai Kecaman

Jumat, 30 November 2018 Sebuah klinik di Moskow yang melakukan sunat perempuan mendapat kecaman warga, Selasa (27/11), serta memicu seruan dari para aktivis untuk menyeret klinik tersebut ke meja hukum karena melakukan praktek yang dianggap merugikan. Best Clinic, jaringan klinik swasta kecil di Kota Moskow itu melalui situs webnya mengiklankan “sunat perempuan” untuk anak-anak perempuan berusia antara lima hingga 12 tahun, Reuters melaporkan, mengutip koran berbahasa Rusia, Meduza, Selasa. Meduza menerbitkan foto iklan yang diambil dari situs web Best Clinic. Klinik tersebut sudah menghapus iklan sunat perempuan dari situs webnya. “Layanan ini masuk dalam daftar layanan yang disediakan oleh Best Clinic karena ada permintaan dari pasien dengan rujukan dari para dokter,” kata klinik tersebut dalam sebuah pernyataan, Selasa (27/11). “Clitoridectomy, prosedur bedah, hanya dilakukan dengan alasan medis,” kata Best Clinic, dengan menambahkan bahwa pihaknya tidak melakukan sunat pada perempuan yang berusia di bawah 18 tahun. Khitan perempuan, prosedur yang menghilangkan sebagian atau seluruh klitoris perempuan dan seringkali berakibat fatal, tidak dianggap sebagai kejahatan di Rusia. Praktik ini tidak dianggap sebagai masalah di Rusia hingga kelompok HAM Rusia, Inisiatif Keadilan Rusia (RJI), melaporkan pada 2016 bahwa praktik itu meluas di desa-desa pegunungan terpencil di Dagestan, bagian selatan Rusia. RJI memperkirakan puluhan ribu perempuan Muslim menjalani khitan di wilayah Kaukus Utara yang bergolak, namun para penyelidik dari kantor Kejaksaan tidak bisa menemukan bukti praktik tersebut. Anggota parlemen Rusia, Maria Maksakova-Igenbergds, mengajukan rancangan undang-undang untuk mempidanakan khitan perempuan pada 2016. Tapi status RUU tersebut masih belum jelas. RJI mengatakan, Selasa, akan meminta Kantor Kejaksaan untuk menyelidiki Best Clinic. “Praktik ini, diubah menjadi praktik layanan komersial, diiklankan sebagai prosedur yang layak untuk anak-anak perempuan di bawah umur,” kata pengacara RJI, Grigor Avetisyan, dalam pernyataannya. Kantor Kejaksaan tidak segera bersedia memberikan komentar. Kementerian Kesehatan Rusia menolak untuk memberikan komentar dengan alasan khitan perempuan bukan prosedur medis dan bukan kompetensi kementerian. “Untuk pertama kali, saya terkejut sekali, hal ini terjadi di Moskow,” kata Alena Popova, salah satu pendiri W-Project, yang melobi hak-hak perempuan kepada Thomson Reuters Foundation. “Para Dokter tidak diperbolehkan secara sengaja merusak kerusakan seseorang,” katanya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekitar 200 juta perempuan dan anak-anak perempuan di seluruh dunia menjalani khitan perempuan yang bisa menyebabkan rasa sakit kronis, kemandulan, dan kematian akibat kehilangan darah dan infeksi. PBB berusaha menghapuskan praktik itu pada 2030. Ada sekitar 30 negara di dunia yang masih mempraktikan khitan perempuan, terutama di Afrika. [fw/ww]  

Bayi Kembar Hasil Rekayasa GenĀ Lahir di China

Selasa, 27 November 2018 Seorang periset China mengklaim berhasil menciptakan bayi perempuan kembar yang lahir bulan ini setelah mengubah DNA-nya supaya jangan terinfeksi virus HIV yang mengakibatkan penyakit AIDS. Kalau terbukti betul, kata kantor berita Associated Press, ini adalah suatu lompatan luar biasa dalam bidang sains dan etika. Pakar China itu, He Jiankui dari Shenzhen mengatakan, ia mengubah embrio yang diperoleh dari tujuh pasangan suami-istri yang mengalami kesulitan untuk hamil secara alamiah. Tapi dari tujuh pasangan itu, hanya embrio dari satu pasangan yang berhasil dikembangkan sampai dilahirkan. He Jiankui mengatakan kedua orang tua anak kembar itu tidak mau disebutkan namanya atau diwawancarai. Semua laki-laki yang ikut dalam eksperimen itu punya penyakit AIDS tapi pasangan mereka tidak. Kata He ia menggunakan teknik mengedit gen itu untuk melumpuhkan gen yang disebut CCR-5 yang menghasilkan protein yang memungkinkan virus HIV masuk ke dalam sel yang sehat. Kata He lagi, cara itu akan memberi kesempatan kepada pasangan pengidap AIDS untuk punya anak yang tidak akan terkena penyakit itu. Peserta riset direkrut dari kelompok advokasi AIDS yang berpusat di Beijing dan bernama Baihualian. Pemimpinnya, yang menggunakan nama samaran Bai Hua mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa di China banyak penderita AIDs kehilangan pekerjaan atau kesulitan mendapat pengobatan. He Jiankui mengatakan penularan HIV di China adalah masalah besar dan ia berusaha memperkecil atau menghilangkan kemungkinan itu. Proses mengedit gen itu berlangsung dalam cawan petri di laboratorium. Langkah pertama adalah memisahkan dan “mencuci” sperma dari air mani, dimana kuman-kuman HIV terdapat. Kemudian sebuah sperma dimasukkan ke dalam telur untuk menciptakan embrio, dan setelah embrio itu berumur tiga sampai lima hari sel-sel CCR-5 itu dibuang. Tapi sejumlah pakar yang membahas bahan-bahan yang diberikan He Jiankui kepada kantor berita Associated Press mengatakan, tes-tes yang diadakan belum cukup banyak untuk memastikan bahwa proses rekayasa gen itu berhasil dan tidak akan menimbulkan dampak buruk di kemudian hari. Kata mereka, mengedit atau merekayasa sperma, telur atau embrio akan menghasilkan manusia yang susunan gen-nya sudah diubah, dan ini bisa diwariskan kepada keturunan mereka. Cara ini tidak diizinkan di Amerika, kecuali untuk riset di laboratorium. (ii)

Pulih Operasi Pemisahan, Batita Kembar Bhutan Keluar RS

Senin, 26 November 2018 Dua batita kembar siam perempuan asal Bhutan telah diperbolehkan pulang dari sebuah rumah sakit di Australia, lebih dari dua minggu setelah mereka dipisahkan dalam pembedahan yang rumit, kantor berita Associated Press melaporkan. Nima dan Dawa, 15 bulan, sebelumnya memiliki tubuh yang menyatu dari dada bagian bawah sampai ke bagian di atas panggul, dan berbagai organ hati. Mereka dipisahkan lewat sebuah operasi di Rumah Sakit Anak-anak Royal Melbourne pada 9 November yang berlangsung selama hampir enam jam. Tantangan terbesarnya adalah merekonstruksi perut mereka. Ibu mereka, Bhumchu Zangmo, Senin (26/11), mengatakan "Terima kasih, semua," sambil menemani kedua putrinya keluar dari rumah sakit itu. Kepala bedah anak RS itu, Joe Crameri, mengatakan kepada para wartawan bahwa batita kembar itu telah menjalani "pemulihan yang sangat baik" dan bisa bergerak secara mandiri. [vm]

Brazil Akhiri Program Pengiriman Dokter Kuba ke Daerah-daerah Terpencil

Sabtu, 24 November 2018 Kelompok pertama dari dokter Kuba yang berdinas tempat-tempat terpencil di Brazil telah kembali ke Havana pada Jumat (23/11), setelah Brazil dan Kuba mengakhiri program yang memungkinkan para dokter Kuba melayani daerah-daerah yang langka layanan kesehatannya. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyambut ke 211 dokter yang bekerja di Brazil itu, yang sebagai imbalannya memberi pemerintah Kuba devisa yang sangat dibutuhkannya. Lebih dari 8.000 dokter Kuba dipanggil pulang setelah Kuba menolak kondisi-kondisi yang ditetapkan Presiden Brazil yang baru terpilih Jair Bolsonaro, yang juga seorang tokoh ekstrem kanan. Dia menuntut para dokter itu langsung menerima gaji dari Brazil dan mereka harus diizinkan membawa keluarga mereka, selama penugasan mereka. Pemerintah Kuba biasanya menahan gaji pegawai negeri yang bekerja di luar negeri sebagai bagian dari misi internasional negara sosialis itu. [jm]

WHO: Sejumlah Upaya Pemberantasan Malaria TerhentiĀ 

Senin, 19 November 2018 Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kemajuan dalam mengurangi jumlah orang yang terjangkit malaria terhenti, setelah beberapa tahun mengalami penurunan secara global. Badan Kesehatan PBB itu, Senin (19/11), menyebutkan sekitar 219 juta kasus malaria terjadi pada tahun 2017, naik 2 juta dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, jumlah kasus malaria menurun dari 239 juta pada tahun 2010 menjadi 214 juta pada tahun 2015, menurut badan PBB tersebut. Laporan tahunan WHO tentang malaria memaparkan 70 persen (151 juta) dari kasus malaria dan jumlah kematian (274.000) tahun 2017 terjadi di India dan 10 negara Afrika. Dilaporkan, pada tahun 2016 terjadi 3,5 juta lagi kasus malaria di 10 negara Afrika dibandingkan kasus malaria pada tahun 2016, sementara India mengalami kemajuan dalam pengurangan kasus penyakit yang mematikan itu. (mg/lt).

Pilihan Olahraga dan Diet Ayah, Pengaruhi Kesehatan Anak

Sabtu, 17 November 2018 Banyak orang tahu bahwa kesehatan perempuan, termasuk kebiasaan berolahraga dan diet, dapat menimbulkan dampak kesehatan pada bayi yang dikandungnya. Banyak perempuan berupaya mengurangi kelebihan berat badan dan memeriksakan diri ke dokter untuk mengoptimalkan kesehatan mereka. Belum banyak yang diketahui tentang pilihan olahraga dan diet sang ayah, hingga baru-baru ini.  Matthew Hurt mengajar anak-anaknya untuk bermain baseball. Ia ingin mereka menikmati olahraga.  “Saya ingin ini menjadi kebiasaan alamiah mereka. Saya tidak ingin mereka merasa ini adalah suatu tugas. Saya ingin mereka bermain di luar rumah, menjadi aktif dan menikmati hidup.” Sebuah penelitian di Wexner Medical Center, Universitas Ohio, mengkaji dampak kebiasaan berolahraga ayah pada keturunan mereka. Kristin Stanford, anggota Pusat Penelitian Diabetes dan Metabolisme di Ohio, memimpin penelitian tersebut. Hasilnya menunjukkan olahraga ringan sekali pun berdampak pada keturunan mereka. “… ada peningkatan metabolisme pada keturunan mereka. Meningkatkan metabolisme glukosa, penurunan berat badan, dan sensitivitas insulin keturunan mereka,” kata Kristin. Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengatakan satu dari empat orang dewasa di seluruh dunia sangat tidak aktif. Ini meningkatkan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, kanker dan diabetes. Tidak suka berolahraga dan aktif di luar rumah juga memiliki konsekuensi sosial dan ekonomi. Penelitian Universitas Ohio itu dilakukan pada tikus-tikus. Lebih banyak hal yang harus dilakukan untuk mengetahui apakah dampak yang dialami tikus, juga dialami manusia.  “Gagasannya adalah jika sang ayah ingin memiliki anak, jika mereka suka berolahraga – mungkin satu bulan menjadi proses pembuahan – maka akan menimbulkan dampak sangat dramatis pada kehidupan anak mereka,” imbuhnya. Para peneliti juga mendapati bahwa olahraga, dengan diet yang buruk sekali pun, akan membantu proses pembuahan.  Tikus-tikus yang menjalani diet tinggi lemak mengalami masalah kesehatan negatif, seperti obesitas dan resistensi insulin, tetapi dampak-dampak itu tidak ditemukan ketika tikus yang menjalani diet tinggi lemak itu dipaksa aktif atau dengan kata lain “berolahraga.” “Diet tinggi lemak, dimana dalam kasus percobaan kami dilakukan selama tiga minggu, mengubah profil tikus-tikus. Tetapi olahraga mengembalikan profil mereka,” imbuh Kristin. Masih lebih banyak upaya harus dilakukan untuk mengetahui apakah hal yang sama dapat diterapkan pada manusia. Tetapi dalam penelitian atas tikus-tikus ini, olahraga pada tikus jantan merupakan kunci penting bagi kesehatan keturunan mereka. [em]

Ahli Bedah Rancang Lampu Senter Kepala Murah

Jumat, 16 November 2018 Kegiatan pembedahan di negara-negara miskin sering menjadi situasi yang berbahaya jika mengalami mati listrik, seperti yang sering terjadi. Melihat situasi tersebut, sekelompok dokter yang bekerja sama dengan organisasi amal, Lifebox, bersama-sama merancang lampu senter kepala murah untuk digunakan para dokter di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, “dimana pemadaman listrik sering mengganggu, berbahaya dan sudah jamak,” tulis grup tersebut dalam publikasi, JAMA Surgery.  Jika mereka dapat menemukan mitra produsen untuk bekerja sama, lampu tersebut bisa segera tersedia pada 2019, kata penulis utama, Dr. Thomas Weiser, seorang profesor bedah di bagian trauma dan perawatan kritis di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford.  “Pengalaman kami adalah ketika kami bekerja di negara-negara di mana pencahayaan menjadi sebuah masalah, ahli bedah harus punya solusi,” kata Wiser seperti yang dikutip oleh Reuters.  “Sebagian besar akan menggunakan senter atau lampu ponsel atau mencari beberapa jenis pengganti sementara lainnya, sebagai alat darurat,” papar Wiser. Bahkan ketika sebuah rumah sakit memiliki generator cadangan, dibutuhkan waktu 10 menit untuk kembali memulihkan listrik, kata Weiser. “Jelas ini adalah masalah keamanan yang sangat besar,” kata Wiser menambahkan.  Bahkan ketika listrik sudah menyala, pencahayaan di atas kepala tidak cukup, kata Wiser. “Di Amerika Serikat banyak ahli bedah memakai lampu senter kepala saat mereka melakuka operasi. Di dalam rongga tubuh, Anda ingin bisa melihat ke bawah lubang dan dapat melihat dengan jelas."  Ketersediaan cahaya yang memadai untuk kegiatan pembedahan bisa berdampak besar pada keselamatan pasien di negara-negara miskin, di mana lebih dari 125 juta operasi dilakukan setiap tahunnya, menurut catatan para peneliti. Di tempat-tempat ini, sebanyak 30 persen pasokan listrik di fasilitas-fasilitas pembedahan tidak dapat diandalkan karena pemadaman listrik.  Weiser dan rekan penulisnya memperkirakan bahwa setidaknya terdapat 24 juta pasien setiap tahunnya berisiko terkena bahaya dari hilangnya pencahayaan selama operasi.  Kebutuhannya jelas: 80 persen ahli bedah di negara bepenghasilan rendah dan menengah telah melaporkan bahwa pencahayaan mereka saat ini berisiko terhadap keselamatan pasien dan 18 persen mengatakan mereka memiliki pengetahuan langsung tentang pasien yang dirugikan karena pencahayaan bedah yang buruk, tulis tim tersebutm, seperti dikutip dari Reuters.  Untuk mengembangkan beberapa spesifikasi lampu bedah yang akan berguna dan terjangkau bagi para ahli bedah di negara-negara miskin, Weiser dan rekannya pertama kali membeli delapan lampu LED yang saat ini sedang dijual di pasaran.  Mereka mengukur intensitas pencahayaan sekitar 16 inci dari sumber cahaya dan menguji intensitas cahaya maksimum dan minimun yang dapat diterima dalam kondisi di mana tidak ada cahaya lain, cahaya sekitar, dan cahaya atas, di di tiga rumah sakit di Ethiopia dan satu di AS. Dengan data dan umpan balik dari ahli bedah yang berpartisipasi dalam tes, kelompok itu datang dengan satu set spesifikasi untuk cahaya bedah yang ideal.  “Sangat bagus untuk fokus pada inti satu ini yang dapat mengubah keamanan operasi,” kata Dr. Rochelle Dicker, wakil ketua perawatan bedah kritis di Universitas California, Los Angeles.  Sebuah lampu seperti yang Weiser dan rekannya telah rancang akan diterima oleh para ahli bedah di negara berpenghasilan rendah dan menengah, kata Dicker. “Saya tahu rekan-rekan saya di Uganda bahwa saya telah bekerja sama selama 12 tahun. Mereka akan sangat senang untuk bisa bekerja sama dengan mereka.” [vp/ft]  

Kursus Kecantikan di Mesir Pulihkan Kepercayaan Diri Pasien Kanker

Kamis, 15 November 2018 Rambut Merhan Khalil mulai rontok ketika dia menjalani transplantasi tulang sumsum dan kemoterapi pada 2012. Akhir pekan lalu, dia mengikuti kursus di Kairo, Ibu Kota Mesir, yang mengajarkan pasien kanker perempuan bagaimana menyembunyikan tanda-tanda fisik yang muncul akibat perawatan kanker. “Sangat membantu secara mental..untuk merasa cantic dan merasa pengobatan tidak mengubah kami,” kata Khalil yang menderita kanker plasma darah, seperti dikutip oleh Reuters. Pelatihan itu adalah bagian dari sebuah program yang sudah berjalan di Lebanon dan Uni Arab Emirat. Bertajuk "Be Beautiful" atau “Menjadi Cantik”, program tersebut akan diluncurkan bulan ini di setidaknya tujuh rumah sakit di Mesir. Dalam pelatihan tersebut, pasien-pasien kanker perempuan bisa mendapatkan berbagai tips rias wajah, dukungan kesehatan mental, dan saran-saran seputar nutrisi. “Ketika pasien kanker merasa dia cantik dan dia mendapat nutrisi yang layak, hal itu akan memberi dampak positif kepada kesehatan mentalnya dan memperkuat sistem kekebalan tubuhnya,” kata Hanadi el-Imam, pendiri Yayasan Hoda el-Imam, yang menyelenggarakan pelatihan rias wajah tersebut. Kata Hadani, yayasannya menarget penyelenggaraan pelatihan itu di lima wilayah Mesir per tahun. Faten Fawzi, seorang pasien kanker payudara, mengatakan dia merasa rambutnya terbakar setelah menjalani kemoterapi. Faten bergabung dalam sebuah kelompok yang terdiri dari lima pasien, yang saat itu belajar mewarnai alis dan memakai pelembab pada kulit kering dalam sebuah kursus di Hotel Cairo Marriott. “Saya pergi ke penata rambut saya dan dia mencukur habis rambut saya. Perasaan saya rasanya hancur dan mulai menangis,” kata Fawzi, 46 tahun, kepada Reuters. “Tapi setelah itu saya memakai rambut palsu yang keren dan mirip dengan rambut saya yang asli. Kamu tidak akan tahu bahwa saya menderita kanker.” Meski sekarang dia sudah tidak mengenakan wig, Fawzi mengatakan dia masih mewarnai alis dan selalu rutin merias wajahnya karena membuatnya merasa lebih baik. Ghada Salah, yang didiagnosis menderita kanker payudara pada 2013, mengatakan dia mulai bereksperimen dengan berbagai jenis rambut palsu dan topi berwarna-warni, setelah rambutnya rontok akibat kemoterapi. “Saya tidak mau kelihatan sedang sakit,” katanya. “Saya tidak mau orang-orang berpikir ‘kasihan dia, dia menderita kanker.’” Pihak penyelenggara berharap bisa menularkan tips-tips kecantikan untuk 5 ribu perempuan Mesir pada tahun pertama, kata Dina Omar, seorang ahli jantung dan salah satu pendiri Be Beautiful. Kanker adalah salah satu dari enam penyebab kematian di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sekitar 70 persen kematian akibat kanker terjadi pada negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, menurut WHO. [ft]
Kalender Agenda

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32