Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Indeks Berita

WHO: Varian Delta Kini Merajarela di Dunia

Rabu, 22 September 2021 Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan pada Selasa (21/9) bahwa penyebaran COVID-19 yang disebabkan oleh varian delta kini telah mendominasi dibandingkan kasus yang diakibatkan oleh varian virus corona lainnya. "Jumlah penularan yang disebabkan oleh masing masing dari varian Alfa, Beta, dan Gamma kurang dari satu persen. Penularan yang terjadi di seluruh dunia kini benar-benar didominasi oleh varian Delta," kata Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk COVID-19. Menurut Van Kerkhove, varian delta sangat menular sehingga mengalahkan varian lain yang beredar di seluruh dunia. Sementara itu, ratusan orang berunjuk rasa pada Selasa di Melbourne, menentang pembatasan aktivitas yang diberlakukan pemerintah pada industri bangunan dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19. Pejabat mengumumkan bahwa lokasi konstruksi di Melbourne akan ditutup selama dua minggu, di tengah kecemasan akan pergerakan pekerja yang dapat memicu penyebaran COVID-19. Pekerja bangunan kini juga diharuskan telah mendapat setidaknya satu dosis vaksinasi virus corona sebelum diizinkan kembali bekerja. Melbourne yang terletak di negara bagian Victoria melaporkan 603 kasus baru hari Selasa, penularan terbanyak di sana dalam satu hari tahun ini. Di Selandia Baru, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengumumkan pada Selasa bahwa hukuman denda karena melanggar peraturan larangan pembatasan terhadap virus corona akan meningkat mulai November. Perubahan itu akan menaikkan denda bagi seseorang yang sengaja tidak mematuhi peraturan pembatasan COVID-19, dari sekitar $2.800 menjadi $8.400. Mereka yang melanggar pembatasan juga bisa menghadapi hukuman enam bulan penjara. Bisnis-bisnis yang melanggar pembatasan virus corona bisa di denda sampai $10.500. (ps/rs)

Peredaran Kartu Vaksin Palsu Meningkat di Pasar Gelap AS

Rabu, 22 September 2021 Dengan semakin banyaknya bisnis, universitas, dan pemerintah federal dan lokal menuntut bukti vaksinasi COVID-19, pasar gelap di Amerika Serikat kini dibanjiri oleh kehadiran kartu vaksin palsu. Pejabat Bea Cukai Amerika di Cincinnati, Ohio, mencegat lima pengiriman yang berisi 1.683 kartu palsu vaksinasi COVID-19 dan 2.034 stiker palsu inokulasi Pfizer sejak 16 Agustus. Pengiriman dari China itu ditujukan ke rumah-rumah dan apartemen pribadi di negara bagian Illinois, Maryland, Missouri, New York dan Texas. Presiden Joe Biden baru-baru ini meminta semua bisnis yang memiliki 100 karyawan atau lebih untuk mewajibkan pegawai mereka divaksinasi. Jika para karyawan menolak divaksinasi, maka mereka wajib dites COVID-19 seminggu sekali. Satu perusahaan keamanan siber global melaporkan bahwa harga dan jumlah kartu vaksin palsu yang beredar melonjak sejak Biden mengumumkan mandat wajib vaksin tersebut pada awal September. Bulan lalu, 15 orang di New York dituduh terkait penjualan dan pembelian kartu palsu vaksin COVID-19. Seorang wanita yang menyebut diri sebagai @AntiVaxMomma di Instagram dituduh menjual 250 sertifikat palsu vaksinasi dengan harga sekitar $200 per kartu. Tersangka kedua, seorang pekerja klinik medis, usia 27 tahun, diduga meminta biaya tambahan $250 untuk memasukkan data vaksin palsu bagi setidaknya 10 orang ke dalam database imunisasi New York. Petugas medis dan pekerja esensial termasuk di antara orang-orang yang dituduh membeli kartu palsu. (ka/ps)

Demonstran Melbourne Protes Menentang Restriksi Terkait Virus Corona 

Selasa, 21 September 2021 Ratusan orang berdemonstrasi hari Selasa (21/9), kota terbesar kedua di Australia untuk menentang pembatasan terkait virus corona yang diberlakukan pemerintah terhadap industri konstruksi. Para pejabat mengumumkan lokasi-lokasi konstruksi di Melbourne akan ditutup selama dua pekan di tengah-tengah kekhawatiran bahwa pergerakan para pekerja berkontribusi pada penyebaran COVID-19. Para pekerja konstruksi juga kini diwajibkan untuk mendapatkan sedikitnya satu dosis vaksin virus corona sebelum diperbolehkan kembali bekerja. Negara bagian Victoria, di mana Melbourne berada, melaporkan 603 kasus baru hari Selasa (21/9), jumlah kasus terbanyak dalam satu hari pada tahun ini. Di Selandia Baru, PM Jacinda Ardern Selasa mengumumkan bahwa denda bagi pelanggaran protokol virus corona akan ditingkatkan mulai November. Perubahan ini akan menyebabkan kenaikan denda bagi seseorang yang sengaja tidak mematuhi perintah terkait COVID-19, dari sekitar 2.800 dolar menjadi 8.400 dolar. Mereka yang melanggar pembatasan yang berlaku juga dapat menghadapi ancaman hukuman penjara hingga enam bulan.  Bisnis yang melanggar pembatasan itu dapat menghadapi ancaman denda hingga 10.500 dolar. “Keberhasilan kita selama ini benar-benar didasarkan pada fakta bahwa masyarakat secara umum telah patuh,” kata Ardern pada konferensi pers. “Namun, ada orang aneh yang melanggar peraturan dan membahayakan orang lain.” Sementara itu Gubernur Washington Jay Inslee meminta pemerintah federal agar membantu mengatasi keterbatasan di rumah sakit, sementara varian Delta menyebabkan kenaikan kasus dalam jumlah besar.  Inslee mengirimkan sepucuk surat hari Senin (20/9) kepada Jeffrey Zients, koordinator pandemi Gedung Putih, yang menyebutkan kapasitas rumah sakit-rumah sakit di negara bagiannya telah penuh atau kurang kapasitas dan ia meminta personel militer untuk membantu staf rumah sakit.  “Begitu varian Delta menghantam negara bagian Washington, tingkat rawat inap pasien COVID-19 meroket,” kata Inslee. “Sejak pertengahan Juli hingga akhir Agustus, kami melihat tingkat rawat inap berlipat dua setiap dua pekan. Rumah sakit telah tersentak untuk meningkatkan tempat tidur dan menambah staf, dan telah membatalkan sebagian besar prosedur tidak mendesak, tetapi masih kurang kapasitasnya di berbagai penjuru negara bagian.” Jumlah kasus harian baru dan jumlah orang yang dirawat inap di Washington sudah atau mendekati tingkat tertinggi selama pandemi. Para pejabat kesehatan Washington melaporkan 69 persen warganya yang berusia 12 tahun ke atas di negara bagian itu telah divaksinasi penuh.  Ini lebih tinggi daripada angka nasional. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) melaporkan 64 persen populasi berusia 12 tahun ke atas telah divaksinasi penuh. Perusahaan farmasi Pfizer dan BioNTech, Senin (20/9) menyatakan bahwa suntikan dosis rendah dari vaksin COVID-19 produksi mereka aman dan efektif untuk anak-anak berusia 5 hingga 11 tahun.  Perusahaan AS dan mitra Jermannya itu menyatakan uji coba menunjukkan vaksin itu dapat ditoleransi dengan baik dan kuat, menetralkan respons antibodi pada kadar dosis rendah yang diperlukan pada anak-anak kecil.  Pfizer menyatakan berencana untuk dalam waktu dekat meminta otorisasi penggunaan vaksin tersebut pada pasien muda di AS, Inggris dan Uni Eropa, suatu langkah yang dapat memperluas cakupan upaya vaksinasi. Sekitar 28 juta anak-anak AS dalam rentang usia tersebut, dan jutaan orang dewasa masih menolak mendapatkan vaksin itu.  Pfizer menyatakan meneliti dosis lebih rendah, sepertiga kekuatan dosis untuk orang dewasa, dalam uji coba yang melibatkan lebih dari 2.200 murid TK dan SD. Dua per tiga anak-anak itu diberi vaksin, dan sepertiga sisanya diberi suntikan cairan garam. Perusahaan itu menyatakan anak-anak yang divaksinasi membangun kadar antibodi yang sama kuatnya dengan antibodi yang ditunjukkan oleh remaja dan orang-orang dewasa.  Dengan kembalinya murid-murid ke sekolah dan varian Delta yang menyebar ke seluruh AS sekarang ini, banyak orang tua yang gelisah menunggu para pejabat kesehatan pemerintah menyetujui vaksin untuk anak-anak mereka yang masih kecil.  Dibandingkan dengan orang-orang berusia lebih tua, anak-anak memiliki risiko lebih rendah mengalami sakit parah atau kematian akibat COVID-19. Tetapi lebih dari 5 juta anak-anak di AS telah teruji positif COVID-19, dan sedikitnya 460 anak telah meninggal, menurut American Academy of Pediatrics.  Produsen vaksin AS Moderna juga sedang mempelajari vaksinnya untuk anak-anak. Pfizer dan Moderna sama-sama mempelajari penggunaan vaksin pada bayi berusia semuda 6 bulan, dengan hasil diperkirakan keluar pada akhir tahun ini.  Hari Senin, kematian di AS akibat COVID-19 mencapai 675.975, melampaui jumlah kematian akibat flu Spanyol tahun 1918. [uh/lt] 

Pfizer Pastikan Vaksinnya Aman bagi Anak Usia 5-11 Tahun

Selasa, 21 September 2021 Pabrik obat Pfizer dan BioNTech mengumumkan pada Senin (20/9) bahwa vaksin COVID-19 dosis rendah dari dua dosis buatannya, aman dan manjur untuk diberikan pada anak-anak usia 5 hingga 11 tahun. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) dan mitranya di Jerman, BioNTech, itu mengatakan bahwa hasil dari uji coba menunjukkan vaksin itu dapat ditoleransi dengan baik dan kuat, dan mampu menetralkan respon kekebalan tubuh (antibodi) pada tingkat dosis yang lebih rendah yang diperlukan untuk anak-anak yang berusia lebih muda. Sekitar 28 juta anak-anak AS termasuk dalam rentang usia tersebut, dan jutaan orang dewasa masih menolak untuk mendapatkan vaksinasi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengatakan, lebih dari 181 juta orang telah divaksinasi penuh di negara ini, tetapi 70 juta lainnya berusia 12 tahun ke atas belum divaksinasi. Pfizer mengatakan, telah mempelajari dosis yang lebih rendah yaitu sepertiga dosis dewasa dalam ujicoba yang diberikan kepada lebih dari 2.200 anak TK dan siswa SD. Dua pertiga dari anak-anak diberi vaksin, dan sepertiga sisanya diberi suntikan air asin. Perusahaan itu mengatakan, anak-anak yang divaksinasi membangun tingkat antibodi yang sama kuatnya dengan yang ditunjukkan oleh remaja dan dewasa muda. Keputusan untuk melanjutkan kembali pembelajaran tatap muka di sekolah di tengah varian delta yang merebak luas di seluruh wilayah Amerika, membuat para orang tua merasa cemas. Mereka meminta agar pejabat kesehatan pemerintah menyetujui vaksin untuk anak-anak mereka. Dibandingkan dengan orang tua, anak-anak berisiko lebih rendah terkena penyakit parah atau kematian akibat COVID-19, tetapi lebih dari 5 juta anak di AS telah dinyatakan positif COVID-19, dan sedikitnya 460 telah meninggal, menurut data dari Perhimpunan Dokter Anak Amerika. (ps/rs)

Pemerintah Perpanjang PPKM per Level Selama 2 Pekan

Senin, 20 September 2021 Pemerintah terus memperpanjang kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) per level. Berbeda dengan sebelumnya PPKM per level di Jawa dan Bali diperpanjang selama dua minggu. 

CDC: Satu dari Tiga Pasien COVID-19 Mengalami Gejala Long COVID

Senin, 20 September 2021 Sebuah studi terbaru yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa sekitar satu dari tiga orang yang terkena COVID-19, melaporkan bahwa mereka masih mengalami gejala-gejala COVID dua bulan setelah tekonfirmasi positif. Penelitian yang dilakukan di Long Beach, California tersebut, mendapati bahwa sepertiga dari mereka yang teruji positif COVID-19 melaporkan sedikitnya satu gejala penyakit itu sekitar empat minggu atau lebih setelah diketahui positif. CDC melaporkan bahwa menurut penelitian tersebut jumlah penderita yang mengalami gejala long COVID banyak ditemukan pada perempuan, kelompok orang kulit Hitam, orang yang berusia di atas 40 tahun, dan mereka yang memiliki komorbid. CDC menggambarkan bahwa “long COVID” dialami oleh para penderita yang terus mengalami gejala setelah empat minggu atau lebih sejak dinyatakan positif terkena penyakit tersebut. Dalam penelitian tersebut, Departemen Kesehatan Long Beach melibatkan 366 orang yang berusia 18 tahun ke atas, yang dipilih secara acak dari dua kelompok tes setelah menerima hasil tes positif antara 1 April dan 10 Desember 2020. AS memiliki kasus COVID-19 terbanyak di dunia, menurut Pusat Data Virus Corona Johns Hopkins, dengan lebih dari 42 juta orang telah terinfeksi virus corona. (vm/pp)

‘COVID Slide’, Tantangan Akademis Akibat Pandemi dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 18 September 2021 Di AS, tahun ajaran baru ini dibuka dengan kehadiran murid-murid untuk mengikuti pelajaran langsung di kelas. Namun setelah berbulan-bulan mengikuti kelas online dan interupsi pelajaran karena pandemi COVID-19, orang tua dan guru mengkhawatirkan terjadinya COVID slide. Ini kondisi yang diduga lebih parah daripada summer slide, ketika murid-murid tertinggal secara akademis setelah beberapa waktu tidak mengikuti pelajaran di kelas karena liburan musim panas. Seperti apa COVID slide di AS dan bagaimana sekolah serta orang tua murid menghadapinya? “Sampai satu bulan itu banyak hari yang tidak ada kelasnya. Karena set up di sekolahnya berantakan, guru-gurunya tidak banyak paham dengan teknologi sehingga aku sebagai orang tua khawatir, ini sekolah atau tidak, jadi proses belajar mengajar sudah agak kacau.” Pernyataan ini mencuat dari Indah Dianti Kusuma, ibunda Justin Arif Partin, murid program gifted (anak berbakat) kelas 12 di Mc Kinley High School di Baton Rouge, Louisiana. Firzah Hasan, ibu rumah tangga di Maryland, memiliki dua anak, Ridho Hamdani, murid kelas 4, dan Bushthon Hamdani, murid kelas 1. Ia mengemukakan bagaimana situasi kelas anak-anaknya pada awal tahun ajaran baru ini. “Anak-anak lupa be patient, untuk antre dan sebagainya, jadi mereka dilatih lagi dari awal.” Rachel Waldrop, guru matematika kelas 6 di Glasgow Middle School di East Baton Rouge, melihat apa yang dikhawatirkan orang tua dan pendidik. “Foundation mereka agak berantakan sekarang. Kita selalu ada diagnostic test pada awalnya, dan kita bisa lihat slide-nya.” Kekhawatiran dan keprihatinan seperti itu masih mencuat sewaktu banyak negara bagian di AS memulai tahun ajaran baru pada Agustus lalu. Mereka prihatin mengenai dampak COVID slide pada anak-anak sekolah. Ini istilah yang mengacu pada summer slide, kecenderungan para siswa kehilangan sebagian dari pengetahuan yang telah dicapai pada tahun ajaran sebelumnya setelah liburan musim panas. COVID didapati memperparah summer slide. Pandemi, yang membuat banyak murid di AS belajar secara online atau mengikuti kelas hibrida (bergantian mengikuti kelas tatap muka langsung dan online) sangat mengganggu proses belajar mengajar. Selain keterlambatan sekolah dalam menyiapkan guru, murid dan sistem belajar online, hampir setiap hari jumlah murid yang masuk kelas berubah-ubah karena ada saja yang terpapar virus corona. Orang tua seperti Firzah, yang memiliki anak-anak berusia muda, juga menyatakan betapa ia mengalami kesulitan mengawasi maupun membimbing mereka belajar online. Laporan paling akhir yang dikeluarkan April 2020 oleh organisasi riset nirlaba Amerika Northwest Evaluation Association (NWEA) yang mendukung pelajar dan pendidik, menunjukkan kecenderungan mengenai kemunduran akademik itu. Sewaktu kembali ke kelas pada tahun ajaran 2020-2021, para pelajar diperkirakan hanya dapat mempertahankan 70 persen kemampuan membaca dari hasil belajar tahun ajaran sebelumnya, dan kurang dari 50 persen kemampuan matematika mereka. Hal lain yang diamati adalah kurangnya disiplin di ruang kelas dan kemampuan bersosialisasi mereka. Rachel punya contoh nyata. Ia seharusnya sudah mulai mempersiapkan murid-muridnya untuk pelajaran kelas 7. “Ekspektasinya untuk kelas 6, seharusnya mereka sudah fluent (lancar) untuk multiplication (perkalian), pembagian, tentang pecahan, kan. Karena kita mulai belajar tentang integer, ratio ketika kita mulai kelas 6.” Tetapi pada kenyataannya, karena landasan matematika mereka lebih rendah daripada yang seharusnya, Rachel menyatakan sekarang ini agak susah untuk menerapkan pelajaran yang lebih rumit. Dalam hal membaca, ia mengatakan bahwa murid-muridnya banyak yang bermasalah dalam memahami dan mengartikan soal cerita ke bahasa matematika. Padahal kemampuan membaca seperti ini juga diperlukan dalam memahami berbagai mata pelajaran lainnya. Sementara itu mengutip anaknya, Indah mengatakan pada hari-hari pertama masuk sekolah, “Saya tanya kamu belajar apa tadi. ‘Ah, nggak nambah, yang lama hilang, yang sekarang nggak nambah.’ Saya khawatir sekali. Tapi saya terus berusaha bilang, coba lihat schedule sekolahnya apa saja, coba dibaca-baca lagi yang lalu, coba tanya-tanya ke guru.” Ini salah satu upaya yang dilakukan orang tua untuk mengatasi "COVID slide". Dari sekolah sendiri tersedia berbagai program. Misalnya Westowne Elementary School, tempat anak-anak Firzah belajar, memiliki beberapa program yang membantu agar kemampuan akademik murid-muridnya tidak tertinggal jauh. Ia menyebutkan beberapa contoh, di antaranya, “Ada kelas tambahan, seperti matematika dan membaca. Saya juga mencari informasi mengenai kelas-kelas tambahan dari perpustakaan.” Selain itu, ada juga program study buddy, kakak kelas yang menghubungi adik kelas untuk belajar bersama secara online dan summer camp. Namun kamp musim panas yang diselenggarakan sekolah tersebut, tahun ini dilewatkan Firzah karena ia memilih mengikutkan kedua putranya pada kamp untuk belajar Islam. Sementara itu Rachel punya beberapa cara untuk membantu murid-muridnya. Ia secara bertahap mengulangi materi pelajaran yang telah diberikan sebelumnya, menggunakan game, atau memberi sistem imbalan yang menarik apabila murid-muridnya berhasil mencapai suatu target atau sasaran tertentu pada suatu hari sekolah. Dampak kehilangan masa sekolah bukan hanya dirasakan sekarang saja. Mengacu pada suatu makalah yang kerap dikutip dan dimuat oleh Journal of Labour Economics terbitan tahun 2019, disebutkan bahwa kehilangan 80-90 hari sekolah semasa anak-anak akan berdampak negatif pada penghasilan mereka sewaktu berusia 30-an tahun. Karena itu, tidak mengherankan apabila orang tua dan guru berusaha berbuat apapun untuk mengatasi COVID-slide. [uh/ab]

Paus Fransiskus: Manusia ‘Bersahabat’ dengan Vaksin

Sabtu, 18 September 2021 Dalam penerbangan sekembalinya dari lawatan ke Slovakia, pertengahan bulan September, Paus Fransiskus mengatakan ia bertanya-tanya mengapa begitu banyak, termasuk beberapa kardinal di kalangan Gereja Katolik sendiri, yang ragu-ragu untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19. Ia menekankan tentang “persahabatan” umat manusia dengan vaksinasi untuk menghadapi beberapa penyakit tertentu. Paus Fransiskus hari Rabu (15/9) mengatakan ia bertanya-tanya mengapa begitu banyak orang, termasuk beberapa kardinal di dalam hierarki Gereja Katolik Roma, menolak untuk diimunisasi dengan vaksin COVID-19. Paus menanggapi pertanyaan dari seorang reporter mengenai keengganan untuk divaksinasi, dalam penerbangan pulangnya dari Slovakia. “Cukup aneh karena umat manusia memiliki riwayat bersahabat dengan vaksin. Ketika kita anak-anak, kita mendapat vaksin cacar, dan yang lain-lainnya, polio, dan tidak seorang pun memprotesnya, lalu ini semua terjadi.” Paus Fransiskus, yang telah mendapat vaksinasi COVID, telah sering mendesak orang lain untuk diimunisasi demi kebaikan bersama. Di pesawat, ia mengatakan, mungkin sebagian orang takut pada awalnya karena ada berbagai vaksin yang tersedia, dan sebagian ternyata, “tidak lebih dari air suling.” Ia tidak menyebut vaksin apapun. Ia kemudian melanjutkan pernyataan bahwa bahkan di dalam kalangan petinggi gereja Katolik pun terdapat keengganan untuk divaksinasi. “Bahkan di Dewan Kardinal, ada sejumlah orang yang menolak dan salah satu dari orang yang malang ini dirawat inap karena virus itu. Perlu ada kejelasan dan pembicaraan yang tenang dengan orang-orang ini. Di Vatikan, kami semua divaksinasi kecuali sekelompok kecil saja dan kami sedang mempelajari bagaimana membantu mereka,” paparnya. Kardinal Raymond Burke, seorang konservatif dan meragukan vaksin, dirawat inap di AS bulan lalu setelah terjangkit virus corona. Beberapa uskup konservatif yang antivaksin, terutama di AS, telah menyatakan umat Katolik harus memiliki kemungkinan untuk menyatakan keberatan mendapatkan vaksin berdasarkan hati nurani mereka dengan alasan agama. Tetapi Paus Fransiskus telah menjelaskan pada masa lalu bahwa ia tidak sependapat dengan itu, dan tidak pernah menyebut-nyebut tentang opsi tersebut.[uh/ab]

FDA: Dosis ke-3 Pfizer Tingkatkan Imunitas, Tetapi Vaksin COVID-19 yang Sekarang Masih Efektif 

Kamis, 16 September 2021 Tinjauan yang hasilnya dilansir hari Rabu (15/9) oleh Badan Pengawas Makanan dan Obat AS (FDA) menyatakan dosis ketiga vaksin COVID-19 buatan Pfizer meningkatkan imunitas seseorang terhadap virus itu. Tetapi sumber itu menambahkan, vaksin yang sekarang ini masih memberi perlindungan yang cukup untuk mencegah sakit parah. FDA sedang mempertimbangkan permintaan Pfizer untuk menawarkan suntikan ketiga vaksinnya, yang menurut perusahaan farmasi itu diperlukan karena keampuhannya berkurang antara enam hingga delapan bulan setelah pemberian dosis kedua. Pfizer menyerahkan studi pendahuluan ke FDA yang menunjukkan dosis ketiga yang diberikan kepada lebih dari 300 orang telah meningkatkan kadar imunitas mereka tiga hingga lima kali lebih tinggi daripada suntikan sebelumnya. Pfizer juga mengutip sebuah penelitian dari Israel, yang diterbitkan hari Rabu (15/9) di New England Journal of Medicine, yang menunjukkan tingkat infeksi 11 kali lebih rendah di kalangan orang berusia 60 tahun ke atas yang menerima vaksin dosis ketiga. Sekitar 1 juta orang ambil bagian dalam studi ini. Pfizer telah meminta izin untuk menawarkan dosis ketiga sementara varian delta COVID-19 yang jauh lebih mudah menular telah memicu secara dramatis lonjakan baru infeksi, rawat inap dan kematian di seluruh dunia.  Tetapi FDA dalam tinjauannya menyatakan bahwa penelitian baru-baru ini “mengindikasikan bahwa vaksin COVID-19 yang berlisensi atau diizinkan untuk digunakan sekarang ini masih memberikan perlindungan terhadap sakit COVID-19 yang parah dan kematian di AS.” Komite penasihat vaksin di badan regulator obat pemerintah AS dijadwalkan bertemu hari Jumat (17/9) untuk membahas apakah badan itu akan mengabulkan permohonan Pfizer. Rekomendasi komite itu tidak mengikat, artinya FDA dapat menyetujui dosis ketiga Pfizer meskipun komite tidak merekomendasikannya. FDA maupun Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) bulan lalu merekomendasikan suntikan ketiga vaksin Pfizer atau Moderna untuk beberapa orang yang memiliki sistem imunitas yang lemah. Pertemuan FDA akan dilakukan beberapa hari setelah suatu kelompok pakar vaksin internasional menerbitkan esai di jurnal medis The Lancet berisi tentangan terhadap pemberian suntikan penguat (booster) dari vaksin yang beredar sekarang ini kepada masyarakat umum. Para pakar menyatakan berbagai kajian belakangan ini menunjukkan vaksin yang sekarang digunakan di seluruh dunia terus memberi perlindungan yang kuat terhadap virus, termasuk varian delta, khususnya dari sakit parah dan rawat inap. Para penulis esai itu mencakup dua pejabat penting di kantor peninjau vaksin FDA yang akan meninggalkan jabatan mereka sebelum akhir tahun ini. The New York Times baru-baru ini melaporkan bahwa Dr. Marian Gruber dan Dr. Philip Krause kesal atas pengumuman pemerintahan presiden Joe Biden belakangan ini bahwa suntikan penguat akan diberikan kepada sebagian warga Amerika mulai bulan depan, jauh sebelum FDA memiliki cukup waktu untuk meninjau data itu dengan sepatutnya. Para penulis menyatakan bahwa memodifikasi vaksin untuk mengatasi varian COVID-19 tertentu merupakan pendekatan yang lebih baik daripada memberikan dosis vaksin ekstra.  Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus telah meminta negara-negara kaya agar tidak memberikan suntikan vaksin penguat sepanjang sisa tahun ini untuk memastikan bahwa negara-negara berpendapatan rendah dan menengah memiliki lebih banyak akses ke vaksin tersebut. [uh/ab] 

'Positivity Rate Indonesia Sudah Penuhi Standar WHO, Benarkah?

Kamis, 16 September 2021 Pemerintah mengklaim bahwa "positivity rate COVID-19" di Indonesia sudah memenuhi standar WHO, yakni di bawah lima persen. Benarkah? Seorang epidemiolog meragukannnya mengingat pelaksanaan strategi 3T yang kian menurun.

India Siap Kembali Ekspor Vaksin COVID-19

Kamis, 16 September 2021 Di tengah tekanan global yang semakin meningkat, India mengatakan pihaknya sudah hampir selesai memeriksa kelanjutan dari proses ekspor vaksin COVID-19 ke seluruh dunia, khususnya Afrika yang sangat membutuhkan. India adalah produsen vaksin terbesar, tetapi negara tersebut menghentikan ekspor pada April lalu untuk melawan lonjakan infeksi COVID-19 di dalam negeri yang kini situasinya sudah berhasil dikendalikan kembali. Sebuah sumber yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa India kini mengalami surplus vaksin setelah setidaknya 61 persen dari total penduduk India menerima dosis pertama dari vaksin COVID-19. Total jumlah penduduk di diperkirakan mencapai 944 juta orang. Keputusan untuk melanjutkan ekspor itu datang bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Washington minggu depan untuk menghadiri forum Quad yang melibatkan pemimpin dari empat negara yaitu Amerika Serikat, India, Jepang, dan Australia. “Keputusan ekspor itu sudah selesai (dibahas),” kata sumber tersebut. “India akan membantu Afrika dengan (mengirimkan) vaksin dan cara penanganan COVID-19.” Pada Selasa, Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengatakan sedang melakukan perundingan dengan pejabat India untuk melanjutkan pasokan vaksin itu melalui platform berbagi vaksin global yang dikenal sebagai COVAX. (jm/mg)

Gedung Putih Siapkan Sistem Perjalanan Internasional COVID-19 Baru

Kamis, 16 September 2021 Amerika Serikat tengah mengembangkan “sistem perjalanan internasional” yang baru di mana didalamnya termasuk upaya pemberlakuan contact tracing (pelacakan kontak). Sistem tersebut akan diberlakukan ketika Amerika mulai membuka kembali negaranya untuk para pendatang, demikian disampaikan oleh seorang pejabat senior Gedung Putih, pada Rabu (15/9). Jeff Zients, yang merupakan koordinator dari Gedung Putih untuk urusan COVID-19, mengatakan kepada Dewan Penasihat Perjalanan dan Turisme AS bahwa pemerintah tidak akan segera menghapus pembatasan perjalanan, mengingat situasi kasus COVID-19 yang ditimbulkan oleh varian Delta di Amerika dan seluruh dunia. Reuters pertama melaporkan pada awal Agustus bahwa Gedung Putih sedang mengembangkan persyaratan masuk vaksin yang berlaku untuk hampir semua pengunjung asing. Sebelumnya Gedung Putih sudah memberi konfirmasi, pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mensyaratkan vaksinasi bagi pengunjung asing. “Rakyat Amerika harus bisa mempercayai sistem perjalanan internasional yang baru itu lebih aman walaupun nantinya kita akan mengijinkan lebih banyak orang masuk (ke Amerika),” kata Zients. Ia mengingatkan bahwa aturan baru tersebut nantinya akan menggantikan aturan perjalanan yang telah berlaku sebelumnya. “Kami sedang mempertimbangkan persyaratan vaksinasi untuk semua warga asing yang melakukan perjalanan ke AS,” kata Zients. Beberapa perwakilan dari pihak Industri di Amerika Serikat sempat mengungkapkan kekhawatirannya tentang kemungkinan bahwa pihak pemerintahan Presiden Joe Biden tidak akan membuka travel restriction (pembatasan perjalan) hingga 2022.  Kebijakan pembatasan perjalanan di AS pertama kali diberlakukan untuk China pada Januari 2020. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menghindari penyebaran COVID-19. Sejumlah negara telah dimasukan ke dalam daftar pembatasan perjalanan tersebut, termasuk India yang baru saja dimasukan ke dalam daftar pada bulan Mei lalu. Pemerintah sendiri mengatakan bahwa mereka ingin menghapus kebijakan pembatasan perjalanan tersebut "sesegera mungkin". (jm/mg/rs)

Hari Keselamatan Pasien Sedunia: Target Utama, Turunkan Angka Kematian Ibu

Rabu, 15 September 2021 Peringatan Hari Keselamatan Pasien Sedunia, 17 September, diharapkan menjadi momentum upaya menurunkan angka kemarian ibu dan bayi di Indonesia yang masih cukup tinggi. Peningkatan layanan kesehatan dan deteksi dini terhadap pasien, dapat menjadi upaya menekan angka kematian pasien di rumah sakit.

Pakar Vaksin: Suntikan Booster Vaksin COVID-19 Tidak Perlu 

Selasa, 14 September 2021 Satu kelompok pakar vaksin internasional telah mengemukakan tentangan terhadap pemberian suntikan penguat (booster) vaksin COVID-19 bagi masyarakat umum, suatu pendapat yang menentang ditingkatkannya upaya di AS dan negara-negara yang berjuang mengatasi lonjakan kasus baru.  Dalam esai yang diterbitkan Senin (14/9) di jurnal medis The Lancet, para pakar menyatakan berbagai studi belakangan ini menunjukkan vaksin yang digunakan sekarang ini di seluruh dunia terus memberikan perlindungan yang kuat terhadap virus corona meskipun ada varian delta yang lebih mudah menular. Kecenderungan untuk memberikan booster vaksin COVID-19 dimulai setelah munculnya kajian dari Israel yang menunjukkan efektivitas vaksin dua dosis Pfizer menurun secara signifikan di kalangan lansia yang divaksinasi pada awal tahun ini. Data tersebut mendorong Israel untuk mulai memberikan suntikan booster untuk orang-orang berusia 50 tahun ke atas. Para penulis menyatakan memodifikasi vaksin agar sesuai dengan varian tertentu COVID-19 merupakan pendekatan yang lebih baik daripada memberikan dosis tambahan dari vaksin awal. Para penulis esai itu mencakup dua ilmuwan terkemuka di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Ana-Maria Henao-Restrepo dan Soumya Swaminathan, serta Dr. Marian Gruber dan Dr. Philip Krause, dua pejabat penting di kantor pengevaluasi vaksin di Badan Pengawas Makanan dan Obat AS (FDA) yang akan meninggalkan posisi mereka itu sebelum akhir tahun ini. The New York Times baru-baru ini melaporkan bahwa Gruber dan Krause kecewa atas pengumuman pemerintahan Biden baru-baru ini bahwa suntikan penguat akan ditawarkan untuk sebagian orang Amerika mulai bulan depan, sebelum FDA memiliki waktu untuk mengevaluasi data dengan selayaknya. FDA hampir mencapai keputusan mengenai apakah akan merekomendasikan vaksin COVID-19 untuk anak-anak usia 12 tahun ke bawah dan suntikan penguat vaksin sekarang yang telah disetujui untuk diberikan kepada orang dewasa Amerika. FDA dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika (CDC) bulan lalu sama-sama merekomendasikan suntikan ketiga Pfizer atau Moderna bagi sebagian orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus baru-baru ini memohon negara-negara kaya agar tidak memberikan suntikan booster vaksin COVID-19 sepanjang sisa tahun ini untuk memastikan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan rendah-menengah memiliki akses lebih besar lagi ke vaksin. Tedros sebelumnya telah meminta negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah-tinggi agar tidak memberikan booster itu hingga September. PM Inggris Boris Johnson siap mengumumkan pada Rabu (15/9) bahwa pemerintahnya akan memberikan booster vaksin COVID-19 untuk warga berusia 50 tahun ke atas untuk menghadapi bulan-bulan musim dingin mendatang. Sementara itu Presiden Rusia Vladimir Putin sedang melakukan isolasi mandiri setelah beberapa anggota rombongan lawatannya dites positif COVID-19, kata pernyataan yang dikeluarkan Kremlin. Presiden Putin dites negatif COVID-19, tetapi telah memutuskan untuk tidak berkunjung ke Tajikistan untuk konferensi keamanan mendatang, kata pernyataan itu. Ia hari Senin bertemu Presiden Suriah Bashar al-Assad dan mengadakan acara publik terpisah dengan beberapa anggota tim Paralimpiade Rusia. Putin telah mendapat vaksinasi lengkap COVID-19 dengan vaksin dua dosis produksi dalam negerinya, Sputnik V. [uh/ab] 

Pemerintah Kembali Perpanjang PPKM Per Level Hingga 20 September 

Senin, 13 September 2021 Meskipun kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia terus membaik, namun pemerintah mengingatkan semua pihak untuk tetap waspada dengan munculnya berbagai varian-varian baru virus corona yang kemungkinan lebih ganas. 

Orangutan Borneo Menjalani Swab Test COVID

Senin, 13 September 2021 Dilengkapi dengan pakaian pelindung hazmat, beberapa dokter hewan tampak sibuk menjalani tugas mereka untuk melaksanakan tes usap (swab test) pada puluhan orangutan di Sabah, Malaysia, dalam sebuah pemeriksaan pada Selasa (7/9) minggu lalu.  Tes tersebut dilakukan pada 30 orangutan untuk mengetahui apakah sekelompok satwa, yang tergolong pada kelompok hewan yang terancam punah, terjangkit oleh virus corona. Petugas yang berwenang telah mengumumkan bahwa seluruh tes menunjukkan hasil negatif.  Tiga puluh orangutan yang di tes pada minggu lalu itu merupakan kelompok kera pertama yang menjalani tes COVID-19 di Malaysia. Tes tersebut dilakukan karena petugas pusat rehabilitasi dan margasatwa tempat sekelompok orangutan tersebut tinggal positif terinfeksi oleh COVID-19. “Melakukan tes COVID-19 merupakan upaya penting bagi kami untuk melewati pandemi ini dan hal ini juga sama pentingnya bagi populasi orangutan,” kata Sen Nathan, asisten direktur dari Badan Margasatwa Sabah.  “Penyakit ini terbukti sangat berbahaya bagi kesehatan (para orangutan) dan dapat menghambat (progres) dari program rehabilitasi mereka.” Petugas mengatakan para dokter hewan akan terus memantau kondisi sekelompok orangutan tersebut dan melakukan tes COVID-19 secara berkala.  Dalam beberapa kesempatan, COVID-19 terbukti telah berhasil menginfeksi hewan-hewan. Pada akhir pekan lalu, salah satu kebun binatang di Atlanta, Amerika Serikat, mengumumkan bahwa gorila di tempat mereka terjangkit oleh virus tersebut. Kucing-kucing peliharaan, anjing-anjing dan setidaknya satu musang juga telah terinfeksi oleh virus COVID-19.  Malaysia sendiri sedang berjuang memerangi kejadian luar biasa yang diakibatkan oleh COVID-19 di negaranya, terutama setelah kondisinya diperparah oleh varian Delta yang sangat menular. Negara di Asia Tenggara itu telah mencatat ribuan kasus baru dan ratusan kematian setiap harinya.  Negara bagian Sabah, yang terletak di timur laut dari Borneo dan merupakan rumah bagi jajaran hutan yang luas dan beragam jenis hewan, juga mengalami kenaikan jumlah kasus positif COVID-19 Orangutan Borneo dikategorikan sebagai kelompok hewan yang “terancam punah” oleh Kelompok Konservasi Alam Internasional.  Data dari World Wildlife Fund (WWF) menunjukkan populasi orangutan Borneo telah turun lebih dari 50 persen dalam 60 tahun terakhir. Penurunan tersebut dikarenakan hutan tempat tinggal mereka sudah banyak berkurang dan dialihfungsikan menjadi lahan pertanian. Pulau Borneo sendiri terbagi ke dalam tiga negara yaitu Brunei, Indonesia dan Malaysia. (rs/ah/au)

Loloskan UU Aborsi, Departemen Kehakiman AS Gugat Texas 

Jumat, 10 September 2021 Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada hari Kamis (9/9) menggugat pemerintah Texas atas pemberlakuan undang-undang baru di negara bagian tersebut yang melarang sebagian besar tindakan aborsi. Departemen Kehakiman menilai undang-undang itu “secara terang-terangan bertentangan dengan Konstitusi Amerika.”  Gugatan yang diajukan hari Kamis di pengadilan federal di Texas itu meminta hakim federal untuk menyatakan bahwa undang-undang itu tidak sah, “untuk melarang penegakannya dan untuk melindungi hak-hak yang telah dilanggar di Texas.”    Undang-undang baru di Texas – yang dikenal sebagai SB8 – melarang aborsi setelah petugas medis profesional dapat mendeteksi aktivitas jantung, yang biasanya dapat diketahui setelah usia kehamilan enam minggu. Sebagian perempuan umumnya belum tahu bahwa mereka hamil pada masa usia kehamilan tersebut.  Pengadilan telah memblokir negara bagian lain untuk memberlakukan pembatasan serupa, tetapi undang-undang baru di Texas itu memiliki perbedaan yang signifikan dibanding yang ada di negara bagian lain karena menyerahkan penegakkan undang-undang itu kepada warga negara, yaitu melalui tuntutan hukum perdata dan bukan penuntut pidana.    Tekanan terhadap Departemen Kehakiman telah meningkat, tidak saja dari Gedung Putih tetapi juga dari anggota-anggota faksi Demokrat di Kongres. Presiden Joe Biden mengatakan undang-undang itu “hampir tidak mencerminkan Amerika.” Sementara faksi Demokrat ingin agar Jaksa Agung Merrick Garland mengambil tindakan. Awal pekan ini Garland bertekad bahwa Departemen Kehakiman akan turun tangan untuk menegakkan undang-undang federal yang dikenal sebagai Freedom of Access to Clinic Entrances (FACE) Act.  FACE Act melarang upaya menghalang-halangi akses ke klinik-klinik aborsi dengan memblokir pintu masuk, atau mengancam akan menggunakan kekerasan untuk mengintimidasi atau mengganggu seseorang. Undang-undang itu juga melarang perusakan properti di klinik aborsi dan pusat-pusat kesehatan reproduksi lainnya. [em/lt] 

WHO Identifikasi Varian Baru Virus Corona

Senin, 06 September 2021 Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), dalam laporan mingguan epidemiologis yang diterbitkan pada Selasa (31/8) pekan lalu, memperingatkan tentang munculnya sebuah “varian yang sedang diamati.” Varian baru itu disebut “varian Mu” atau dikenal dengan nama ilmiah sebagai B.1.621, yang lebih kebal vaksin. Kantor berita Associated Press melaporkan varian Mu ini pertama kali diidentifikasi di Kolombia pada Januari 2021. Kementerian Kesehatan Kolombia Kamis (2/9) pekan lalu mengonfirmasi bahwa varian Mu adalah jenis mutan yang ditemukan di negara itu. Varian baru ini dimonitor dengan sangat saksama oleh WHO karena sebagian kebal terhadap antibodi dari infeksi sebelumnya dan juga vaksinasi. Hingga kini varian Mu telah meluas ke 43 negara dan wilayah, termasuk Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan. Kementerian Kesehatan Jepang pada Rabu (1/9) pekan lalu, mengonfirmasi kasus pertama varian Mu baru dari virus corona pada dua orang yang datang dari luar negeri lewat pemeriksaan kesehatan di bandara pada Juni dan Juli. Sementara Markas Pengendalian Penyakit Korea Selatan  pada Jumat (3/9) pekan lalu mengumumkan bahwa sejauh ini ada tiga kasus varian Mu yang dikonfirmasi dan semuanya berasal dari luar negara itu. Belum ada penularan varian baru itu pada masyarakat Korea Selatan. Dibandingkan dengan varian Delta, varian yang mengkhawatirkan karena penularannya yang sangat cepat, varian Mu merupakan varian kelima yang menarik untuk dikaji cermat oleh WHO sejak Maret lalu. WHO mengingatkan varian Mu ini memiliki sejumlah mutasi yang menunjukkan bahwa ia lebih kebal terhadap vaksin, tetapi menekankan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengukuhkan hal ini. [em/jm]  

Belajar Daring Semasa Pandemi Pengaruhi Penglihatan Anak-Anak

Sabtu, 04 September 2021 Para peneliti di Hong Kong mengklaim miopia, juga dikenal sebagai rabun jauh, meningkat di kalangan anak-anak sejak pandemi dimulai. Mereka menyebut penyebabnya penutupan sekolah dan belajar daring yang meningkatkan waktu yang dihabiskan anak-anak muda itu di depan layar komputer, serta lockdown yang memangkas aktivitas mereka di luar ruang. Nicole Leung (8), seperti halnya banyak anak lain di Hong Kong, terpaksa tinggal di rumah dan belajar daring sewaktu sekolahnya ditutup akibat COVID-19. Ia adalah satu dari 709 anak-anak yang turut dalam penelitian yang dilakukan para peneliti di Chinese University of Hong Kong. Para peneliti melacak penglihatan anak-anak semasa pandemi, bersama-sama dengan 1.000 anak dari penelitian lainnya yang direkrut dan diteliti sebelum pandemi pada tahun 2015. Menurut penelitian yang diterbitkan di British Journal of Ophthalmology, sejak peraturan terkait COVID-19 diberlakukan, miopia pada anak-anak 2,5 kali lebih besar kemungkinannya memburuk. Miopia adalah kelainan fokus mata yang membuat sulit untuk melihat objek pada jarak jauh secara jelas. Tingkat memburuknya kondisi itu diukur dalam unit optik yang disebut diopter. Kondisi ini biasanya dapat diperbaiki dengan kacamata, lensa kontak atau operasi. Selama restriksi COVID, Nicole tidak diizinkan menonton televisi atau menggunakan ponsel, tetapi penglihatannya masih memburuk. Ibunya, Jessica Chu merasa prihatin. Ia mengatakan,"Selama pandemi, semua anak di Hong Kong beralih ke kelas daring. Pertama kali kami membawanya untuk pemeriksaan (sewaktu berusia 6,5 tahun) adalah 4.00 diopter. Kami hanya memesan kacamata, kami tidak memerlukan perawatan lainnya. Setelah setengah tahun, ketika Nicole diperiksa lagi, terutama ketika kegiatan luar ruang semakin sedikit selama itu, dan hanya mengikuti kelas daring di rumah. Miopianya bertambah 1,5 diopter menjadi 5.00 hingga 6.00 diopter, membuat sang ibu merasa sangat khawatir. Ketua tim peneliti tersebut adalah Dr. Jason Yam dari Fakultas Optalmologi dan Ilmu Visual di CUHK. Ia mengatakan,"Kami mendapati kenaikan signifikan insiden miopia selama COVID. Ini sekitar 2,5 kali lebih tinggi pada masa COVID-19, dibandingkan dengan sebelumnya. Kami juga mendapati peningkatan signifikan dalam perubahan gaya hidup. Nomor satu, penurunan signifikan dalam aktivitas luar ruang. Selama pandemi COVID, anak-anak secara signifikan mengurangi kegiatan di luar ruang dan meningkatkan waktu di depan layar. Jadi ini ada kaitannya dengan peningkatan insiden miopia.” Penelitian ini memiliki keterbatasan karena anak-anak yang diteliti sebelum dan sesudah terjadi pandemi tidak sama. Selain itu, peneliti mengandalkan orang tua dan anak-anak untuk memberi laporan akurat mengenai lama mereka di depan monitor dan beraktivitas di luar ruangan. Yam juga memperingatkan untuk tidak menerapkan penelitian ini pada seluruh anak-anak di negara-negara lain dengan mengatakan bahwa penelitian itu tidak dapat diberlakukan umum pada semua orang. Tetapi bagi kota-kota yang memiliki perubahan kebiasaan gaya hidup yang mirip pada anak-anak dan mengalami restriksi serupa selama pandemi COVID-19, ini dapat berlaku. Meningkatnya waktu di depan layar monitor dan berkurangnya aktivitas di luar ruang sudah pasti berarti ada peningkatan insiden miopia semasa pandemi ini, jelas Yam. Sementara COVID-19 telah memunculkan berbagai peluang belajar secara daring, perubahan signifikan dalam gaya hidup ini juga memberi tantangan lebih banyak bagi anak-anak yang perlu belajar secara digital, meningkatkan tekanan terhadap mata mereka. Selain meningkatnya penggunaan komputer, pengurangan aktivitas luar ruang secara signifikan juga menjadi faktor yang meningkatkan perkembangan miopia. Taman-taman umum dan fasilitas olahraga kerap ditutup selama pandemi ini. Menurut penelitian, waktu yang dihabiskan di depan komputer bertambah dari 3,5 menjadi 8 jam per hari. Yam mengatakan 40 persen anak-anak di Hong Kong menghadapi masalah ini. Berdasarkan riset Dr. Yam, miopia terjadi pada sekitar usia 4 dan berlangsung terus hingga usia 14. Pada usia ini, proses mulai melamban, meskipun dapat juga memburuk pada sekelompok kecil orang dewasa. Saran Yam kepada orang tua Leung adalah memberinya obat tetes mata atropine dan meningkatkan waktu untuk aktivitas di luar ruang. Orang tua Leung mengatakan penglihatan anaknya tidak memburuk sejak mereka mengikuti anjuran Yam. Yam menyarankan anak-anak sebaiknya melewatkan waktu 14 jam di luar rumah setiap pekan dan rehat dari kegiatan membaca untuk melihat ke objek di kejauhan setiap 30 menit. Jarak baca juga harus dipertahankan minimum 30 centimeter. Menurutnya, aktivitas di luar ruang sangat penting karena cahaya penting bagi pertumbuhan mata untuk mengatasi miopia. Ia menyarankan agar anak-anak tidak membaca dalam kondisi remang-remang. Akan lebih baik lagi apabila anak-anak dapat membaca di sebelah jendela dengan cahaya siang hari, ketika cahaya lebih terang, agar ada efek kesehatan yang tercapai untuk menghambat perkembangan miopia, ujarnya. [uh/ab]

Rumah Sakit AS Kekurangan Perawat di Tengah Pandemi COVID-19

Jumat, 03 September 2021 Pandemi COVID-19 telah menciptakan krisis berupa kekurangan tenaga perawat. Ini memaksa banyak rumah sakit di Amerika untuk membayar mahal guna mendapatkan bantuan yang diperlukan dalam menghadapi banyaknya pasien pada musim panas ini. Masalahnya ada dua, kata para tokoh kesehatan. Para perawat berhenti kerja atau pensiun, kelelahan atau kehilangan semangat akibat krisis ini. Dan banyak di antara mereka yang meninggalkan pekerjaan tersebut demi pekerjaan sementara yang lebih menjanjikan dengan agen-agen perawat keliling, yang dapat membayar 5.000 ribu dolar atau lebih per minggu.  Begitu sulitnya sampai-sampai para dokter mengatakan, “Mungkin saya harus berhenti menjadi dokter dan menjadi perawat saja,” kata Dr. Phillip Coule, direktur medis di Augusta University Medical Center, Georgia. Ia kadang-kadang menghadapi 20 hingga 30 pengunduran diri dalam sepekan dari para perawat yang mengambil pekerjaan sebagai juru rawat keliling.  “Dan kemudian kami harus membayar biaya yang sangat tinggi untuk mendapatkan staf dari negara bagian lain agar datang ke negara bagian kami,” kata Coule. Rata-rata gaji seorang perawat keliling telah melonjak dari sekitar 1.000 dolar hingga 2.000 dolar per pekan sebelum pandemi, menjadi 3.000 dolar hingga 5.000 dolar sekarang ini, kata Sophia Morris, wakil presiden Aya Healthcare, perusahaan penyedia tenaga kesehatan berbasis di San Diego. Ia mengatakan Aya telah membuka 48 ribu peluang kerja untuk perawat keliling. James Quick, presiden SimpliFi, perusahaan pesaing Aya, mengatakan, rumah sakit-rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaannya kini menghadapi tingkat lowongan kerja yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Rumah sakit berukuran kecil hingga menengah secara umum memiliki puluhan lowongan untuk posisi tetap, dan sistem kesehatan besar memiliki ratusan lowongan untuk pekerja penuh waktu,” ujarnya. Melonjaknya gaji telah mempersulit rumah sakit yang tidak dapat merogoh koceknya dalam-dalam. Gubernur Kansas Laura Kelly baru-baru ini mengeluhkan tentang risiko yang dihadapi rumah sakit di negara bagiannya yang kalah bersaing dalam mendapatkan perawat dari negara bagian lain yang mampu membayar “sangat banyak.” Ia mengatakan baru-baru ini bahwa beberapa rumah sakit, termasuk di Topeka, telah menyediakan tempat tidur untuk pasien tetapi tak ada perawat yang melayani. Di Kansas City, Missouri, Truman Medical Centers telah kehilangan 10 perawat yang beralih ke pekerjaan keliling dalam beberapa hari belakangan dan berusaha mencari perawat keliling untuk menggantikan mereka, kata CEO rumah sakit itu, Charlie Shields.  Ia mengatakan sulit untuk bersaing dengan agen-agen jasa perawat keliling, yang menetapkan tarif 165 dolar hingga 170 dolar per jam per perawat. Ia mengatakan agen-agen penyedia jasa perawat itu mendapat bagian besar dari tarif yang ditetapkan itu, tetapi ia memperkirakan bahwa perawat masih menerima 70 dolar hingga 90 dolar per jam, dua atau tiga kali lipat dari apa yang dibayar rumah sakit untuk perawatnya.  “Saya pikir jelas saja orang memanfaatkan permintaan di luar sana,” kata Shields. “Saya benci menggunakan kata ‘mengeksploitasi’ untuk menggambarkannya, tetapi kami jelas membayar biaya premium dan memungkinkan orang-orang mendapatkan margin keuntungan yang cukup tinggi.” Di Texas, lebih dari 6.000 perawat keliling telah membanjiri negara bagian itu untuk membantu menghadapi lonjakan jumlah pasien melalui program yang didukung negara bagian. Tetapi pada hari yang sama ketika 19 perawat berangkat untuk bekerja ke sebuah rumah sakit di bagian utara negara bagian itu, 20 lainnya di tempat yang sama mengajukan pemberitahuan bahwa mereka akan meninggalkan pekerjaan mereka untuk menjadi perawat keliling kontrak, kata Carrie Kroll, wakil presiden di Asosiasi Rumah Sakit Texas.  “Para perawat yang tidak keluar, yang tetap bertahan di fasilitas tempat mereka bekerja, mereka melihat orang-orang lain yang sekarang datang dan mendapat bayaran lebih besar. Ini menimbulkan ketegangan di lingkungan kerja,” kata Kroll.  Pandemi sedang dalam tahap-tahap awal ketika Kim Davis, 36, memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di sebuah rumah sakit di Arkansas dan menjadi perawat keliling. Ia mengatakan mendapatkan bayaran kurang lebih dua kali lipat dalam 14 bulan setelah ia merawat pasien di unit-unit perawatan intensif di Phoenix; San Bernardino, California; dan Tampa, Florida. “Sejak saya menjadi perawat keliling, saya telah membayar semua utang saya. Saya melunasi pinjaman biaya pendidikan semasa kuliah sekitar 50 ribu dolar,” lanjutnya. Davis mengatakan banyak sejawatnya yang mengikuti jejak serupa. “Mereka pergi untuk menjadi perawat keliling karena mengapa kita melakukan pekerjaan yang sama dengan gaji separuhnya?,” ujarnya. “Jika mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka, mereka harus diberi imbalan.” Para tokoh kesehatan menyatakan para perawat sangat sangat lelah dan frustrasi karena diminta bekerja lembur, diteriaki dan dikritik oleh anggota masyarakat, dan karena menghadapi orang-orang yang memilih tidak divaksinasi atau tidak mengenakan masker.  “Bayangkan pergi bekerja setiap hari dan bekerja paling keras selama ini, lalu pulang dan apa yang kita lihat setiap hari adalah pekerjaan kita tidak diakui oleh masyarakat,” kata Julie Hoff, eksekutif kepala perawat di OU Health di Oklahoma. “Kematian yang kita lihat setiap hari tidak dihargai atau diakui.” Sementara itu, rumah sakit-rumah sakit semakin terjepit oleh keluar masuknya perawat dan karyawan baru dari agen perawat keliling.  Coule menyebut contoh baru-baru ini di mana rumah sakitnya di Georgia merekrut seorang terapis pernapasan melalui agen untuk menggantikan tenaga yang memutuskan untuk menjadi pekerja keliling. Penggantinya ternyata berasal dari rumah sakit yang sama di mana terapis pernapasan itu pindah bekerja. “Pada dasarnya kami bertukar personel tetapi dengan biaya berlipat ganda,” ujarnya.  Patricia Pittman, direktur Fitzhugh Mullan Institute for Health Workforce Equity di George Washington University, mengatakan, banyak perawat yang masih menyimpan rasa kesal pada majikan mereka sejak masa-masa awal pandemi, antara lain karena dipaksa bekerja tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai. “Para perawat mengatakan, ‘Hei, kalau saya tidak diperlakukan dengan respek, saya mungkin juga akan pindah menjadi perawat keliling,” katanya. “Dengan cara itu saya dapat bekerja di tempat yang sangat tidak menyenangkan selama 13 pekan, tetapi kemudian saya dapat cuti selama dua atau tiga bulan dan melakukan apa saja.” [uh/ab]