Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Indeks Berita

Ratusan Orang Tewas di Iran Akibat Methanol

Sabtu, 28 Maret 2020 Ratusan orang tewas dan ribuan lainnya jatuh sakit akibat mengonsumsi cairan alkohol yang disebut methanol, kata seorang dokter di Iran, Jumat (27/3). Dokter Hossein Hassanian, yang membantu Kementerian Kesehatan Iran, mengatakan, banyak warga Iran keliru mengira bahwa methanol bisa membunuh virus corona sehingga mereka mengonsumsinya begitu saja. Pemahaman keliru itu, kata Hassanian, dipicu oleh berbagai informasi menyesatkan di media sosial. Ada yang menginformasikan, sejumlah orang sembuh setelah terjangkit virus corona karena meminum wiski dan menggunakan cairan pembersih tangan berbahan dasar alkohol yang akrab disebut hand sanitizer.  Karena informasi keliru itu banyak orang berburu minuman beralkohol yang sebetulnya ilegal diperdagangkan di Iran. Bahkan, tak sedikit yang berburu cairan kimia methanol (methyl alcohol) yang sesungguhnya beracun, dan tidak terbukti memiliki efek menyembuhkan. Media-media Iran melaporkan, hampir 300 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya jatuh sakit setelah meminum methanol di berbagai penjuru Iran, termasuk seorang anak berusia lima tahun yang kini buta karena orangtuanya memberinya methanol. Lebih dari 29.000 kasus virus corona tekah dikukuhkan di Iran, dengan lebih dari 2.200 kematian diakibatkan virus tersebut, jumlah korban tewas tertinggi pada sebuah negara di Timur Tengah. Banyak pakar internasional mengkhawatirkan Iran menutupi-nutupi jumlah kasus yang sebenarnya karena sedang bersiap menyelenggarakan pemilu parlemen. Methanol tidak dapat tercium atau dirasakan lidah bila dicampur dengan minuman. Cairan kimia itu bisa menimbulkan kerusakan organ vital dan otak. Gejala-gejala keracunan methanol termasuk nyeri dada, mual-mual, gangguan pernafasan, kebutaan dan bahkan koma.  Hassanian mengatakan, di sejumlah provinsi di Iran, termasuk Khuzestan dan Fars, jumlah kematian akibat methanol melebihi jumlah kematian akibat virus corona. [ab/uh]

Presiden Xi Serukan AS-China Bersatu Perangi Corona

Sabtu, 28 Maret 2020 China dan Amerika Serikat harus bersatu dalam memerangi wabah virus corona yang telah menelan banyak korban jiwa, kata Presiden Xi Jinping dalam pembicaraan teleponnya dengan Presiden Donald Trump, Jumat (27/3), sewaktu ia menyerukan agar AS memperbaiki hubungan dengan negara itu. Kedua negara tersebut bertikai dalam beberapa pekan terakhir terkait virus itu, dan media pemerintah China CCTV menyebutkan, Xi mengatakan kepada Trump ia berharap “AS akan mengambil langkah substantif untuk memperbaiki hubungan China-AS.” Menurut CCTV, Xi juga menyerukan agar kedua negara bekerja sama menangani virus itu, dan mengatakan Beijing “ingin terus berbagi semua informasi dan pengalaman dengan AS.” Trump menanggapi positif seruan Xi. Dalam cuitannya di Twitter ia mengatakan, ia telah melangsungkan pembicaraan yang sangat bagus dengan Xi , dan bahwa kedua pemimpin membahas wabah itu dengan sangat rinci. "China telah mengalami banyak hal dan mengembangkan pemahaman kuat mengenai virus itu. Kami akan bekerjasama secara erat,” tulis Trump. Trump dan Menlu AS Mike Pompeo membuat marah Beijing bulan ini karena berulang kali menyebut virus corona sebagai virus China sewaktu membahas wabah COVID-19 yang pertama kali terdeteksi di kota Wuhan. Trump belakangan tidak lagi menggunakan istilah itu di tengah-tengah munculnya tudingan bahwa ia berpandangan rasis. Banyak pakar beranggapan, itu merupakan isyarat kecil lain mengenai meredanya hubungan antara kedua negara berpengaruh di dunia itu. Sebelumnya bulan ini, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyebutkan dalam sebuah cuitannya di Twitter bahwa militer AS membawa virus itu ke Wuhan.  Pernyataannya tersebut mendorong Trump menuding China menyebarkan informasi keliru, dan presiden AS itu berulangkali menyerang China dengan mengatakan negara itu kurang transparan dan lambat menanggapi wabah tersebut. [ab/uh]

Sumut Kesulitan Data TKI Ilegal yang Mudik dari Malaysia

Jumat, 27 Maret 2020 Pasca-pemerintah Malaysia menerapkan lockdown terkait pandemi virus corona sejak 18 Maret 2020 hingga 14 April 2020, ratusan tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal asal Sumatera Utara (Sumut) memilih kembali ke Tanah Air. Namun, hal itu membuat Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Sumut kesulitan melacak keberadaan TKI ilegal yang pulang melalui jalur tikus.  Kepala Dinas Ketenagakerjaan Sumut, Harianto Butarbutar menyebut sebanyak 246 TKI asal Sumut yang tak memiliki dokumen lengkap sebagai pekerja di Malaysia memilih pulang ke Indonesia usai negeri jiran itu menerapkan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona. "Lewat Bandara Internasional Kualanamu yang kami data kemarin pada tanggal 10 Maret sampai 24 Maret 2020. Ini yang jumlahnya 245 orang dan satu orang masuk lewat jalur lain," kata Harianto di Medan, Jumat (27/3). Kata Harianto, ratusan TKI ilegal itu telah diketahui keberadaannya. Mereka diketahui kembali ke daerahnya masing-masing seperti Medan, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, hingga Tapanuli. Rencananya ratusan TKI yang kembali ke Indonesia melalui jalur udara tersebut akan diminta untuk mengecek kesehatan dan melakukan isolasi mandiri guna mencegah penyebaran virus corona. "Melacak keberadaannya karena tidak mungkin semua tugas provinsi ini ya berbagi tugas. Tapi datanya sudah kami fasilitasi dan dikirim ke mereka (Pemerintah Daerah). Pada intinya sebenarnya kita harus berpikir positif minimal keberadaan mereka (TKI) kami tahu," ucap Harianto. Harianto memastikan TKI yang kembali ke Indonesia rata-rata merupakan pekerja ilegal yang memanfaatkan visa wisatawan untuk bekerja di Malaysia. Namun permasalahan tersebut tidak sampai di situ. Pasca-lockdown yang diterapkan Malaysia, Pemprov Sumut mengaku kesulitan untuk melacak keberadaan TKI ilegal lainnya yang diprediksi telah kembali ke Indonesia di tengah pandemi corona melalui pelabuhan di jalur tikus yang berada di kawasan Tanjungbalai, Sumut. "Sekarang mereka pulang menggunakan kapal, tapi kapalnya juga belum tentu ada. Jadi kami tidak bisa memastikan. Jika ada orang Sumut yang menggunakan kapal dan hanya tujuan Dumai di Riau, yang ada itu ditumpanginya. Kesulitan kami tidak bisa mendeteksi kalau masuk lewat darat atau laut. Ini banyak yang ilegal, kalau yang resmi mereka patuh di sana tidak ada yang pulang," ucapnya. Sementara itu, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi menyebut banyak TKI ilegal yang pulang dari Malaysia berupaya menghindari petugas melalui jalur-jalur tikus di kawasan pantai timur wilayah Sumut. Hal tersebut menyulitkan Pemprov Sumut untuk mendata orang masuk dari wilayah luar di tengah pandemi virus corona. Padahal sesuai protokol kesehatan penanganan virus corona, mereka harus dicek kesehatan dan melapor untuk dimasukkan ke daftar orang dalam pemantauan (ODP). "Kemarin sudah saya suruh Bupati Tanjung Balai untuk menyetop itu tapi banyak yang pakai jalur tikus. Kita jadi sulit datanya," tutur Edy. Sebelumnya seperti dikutip dari laman resmi Pemprov Sumut, Edy juga mengingatkan pada kabupaten/kota yang memiliki pelabuhan untuk dapat memantau arus masuk orang. Dalam waktu dekat sekitar 4.000 TKI asal Sumut akan kembali. “Yang paling utama untuk menyiapkan tempat isolasi nantinya dan jangan sampai ini lolos. Perhatian kita pada Kabupaten Batubara dan Kota Tanjungbalai yang memiliki pelabuhan. Peran bapak bupati saya harap ini dilakukan. Saya mengingatkan kondisi kita saat ini juga dialami oleh dunia. Kita harus menyikapi secara mandiri dan punya kreativitas semuanya untuk rakyat Sumut,” katanya. [aa/ab]

Ancaman Virus Corona Terhadap Jurnalis dan Kolaborasi untuk Publik

Jumat, 27 Maret 2020 Sebagian jurnalis di Indonesia berpotensi tertular Covid-19 karena tidak mendapat alat pelindung diri dari perusahaan.

WHO: Kasus dan Kematian Akibat Corona di Eropa Terus Meningkat

Kamis, 26 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kamis (26/3) melaporkan lebih dari 220 ribu kasus baru virus corona dan 11.987 kematian di Eropa, tiga kali lipat dibandingkan jumlah sepekan yang lalu. Berbicara di Kopenhagen, Direktur Kawasan Eropa WHO Dr. Hans Kluge mengatakan angka-angka baru itu mengindikasikan bahwa sekitar enam dari 10 kematian akibat virus corona yang dilaporkan secara global pada pekan lalu, terjadi di Eropa. Kluge mengatakan Spanyol, Perancis Jerman dan Swiss mengalami laju kenaikan tertinggi pada periode itu. Kluge menambahkan barangkali data paling merisaukan di antara angka-angka-angka itu adalah fakta bahwa satu dari 10 penularan baru terjadi di kalangan pekerja layanan kesehatan. Ini mencerminkan ancaman yang dihadapi mereka yang merawat pasien dengan penyakit tersebut. Kluge mengatakan per hari Rabu, Italia saja melaporkan 6.200 petugas layanan kesehatan yang terjangkit. Ia mengatakan harus lebih banyak lagi yang dilakukan secara internasional untuk melindungi mereka yang berjuang di garis depan melawan virus itu. Ia melaporkan sejumlah kabar baik di Italia, yang memiliki jumlah kasus tertinggi di Eropa. Negara itu melaporkan laju peningkatan laju penularan yang lebih rendah. Akan tetapi Kluge mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyatakan penyebaran virus corona telah mencapai puncaknya di sana. [uh/ab]

Afsel Mulai Karantina Wilayah Nasional Mulai Kamis Tengah Malam

Kamis, 26 Maret 2020 Afrika Selatan memulai masa karantina wilayah (lockdown) 21 hari mulai Kamis (24/3) tengah malam, untuk menghentikan peningkatan jumlah kasus virus corona. Hari Rabu (25/3) tercatat 709 kasus terkonfirmasi, yang tertinggi di Afrika. Menteri Kesehatan Zweli Mkhize mengatakan ia yakin perlu waktu sedikitnya dua pekan sebelum lockdown itu berdampak pada peningkatan kasus. Warga Afrika Selatan yang bekerja di bidang layanan kesehatan, penegakan hukum, penjualan dan pendistribusian makanan, serta layanan umum dikecualikan dari lockdown. Para pejabat mendesak yang lainnya agar hanya keluar untuk kepentingan esesnsial. Dalam upaya mengurangi penimbunan makanan besar-besaran, Menteri Pertanian Thoko Didiza mengumumkan negara itu memiliki pasokan makanan yang cukup selama lockdown. Sebagian besar negara di Afrika telah mengukuhkan adanya kasus virus corona, secara keseluruhan mencapai sedikitnya 1.788. Sejauh ini, 58 orang telah meninggal di Afrika, meskipun belum ada kematian yang dikukuhkan akibat virus itu di Afrika Selatan. [uh/ab]

Cara Redam Stres di Tengah Pandemi Corona

Kamis, 26 Maret 2020 Sulit bagi banyak orang untuk tetap tenang sementara berita-berita yang mengkhawatirkan tentang virus corona terus bermunculan. VOA berbicara dengan beberapa psikolog mengenai cara mengatasi rasa cemas dan tetap tenang selama masa yang penuh ketidakpastian ini.

Dunia Didesak untuk Belajar dari TBC

Rabu, 25 Maret 2020 Dengan angka kematian yang melonjak melewati 300.000 tahun ini dan seperempat umat manusia sekarang terinfeksi, pandemi tuberculosis (TBC) tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Penyakit itu terus menyebar tak kasatmata ke seluruh komunitas yang rentan. Namun tidak seperti virus corona baru, penyakit TBC dapat dicegah, disembuhkan dan telah ada di muka bumi selama berabad-abad. Pada Hari TB Sedunia, Selasa, 24 Maret, para ahli memperingatkan bahwa banyaknya orang yang terkena dampak tuberkulosis – yang membuat paru-paru orang yang selamat mengalami kerusakan permanen – berarti ada jutaan lagi orang yang rentan secara global terhadap COVID-19. Secara tersembunyi, TBC menjangkiti satu dari setiap empat orang di Bumi dan penyakit ini telah ada selama puluhan ribu tahun. Setiap tahun sekitar 10 juta orang terinfeksi, dan lebih dari 1,2 juta orang meninggal karena TBC. [lt/pp]

Kematian Akibat Virus Corona Lampaui 10 Ribu Orang

Jumat, 20 Maret 2020 Jumlah kematian di seluruh dunia akibat pandemic virus corona telah melampaui 10 ribu orang. Virus corona telah menjangkiti lebih dari 244.500 orang. Di AS, Gubernur California Gavin Newsom hari Kamis (19/3) memerintahkan 40 juta warga di negara bagian itu agar tetap tinggal di rumah sebagai bagian dari perjuangan keras menghadapi penyakit itu. Newsom mengeluarkan perintah itu menyusul kematian 19 orang dan 958 orang yang dites positif terjangkit virus corona di California. Lockdown untuk seluruh negara bagian itu menyusul perintah Los Angeles County sebelumnya pada hari Kamis (19/3), yang menutup semua pusat perbelanjaan di kabupaten itu, toko-toko ritel yang tidak esensial dan taman-taman bermain. Newsom meminta Kongres pada hari Kamis (19/3) bantuan dana federal 1 miliar dolar untuk biaya medis yang diperkirakan terkait penyakit itu. Hari Rabu, gubernur California itu menulis surat kepada Presiden Amerika Donald Trump, yang meminta agar kapal rumah sakit Angkatan Laut dikerahkan ke pelabuhan Los Angeles untuk menerima pasien terjangkit yang diperkirakan melonjak. Sementara itu, Italia kini menjadi negara yang paling terdampak oleh pandemi virus corona, melampaui China dalam hal jumlah kematian akibat virus itu. Hingga Kamis, para pejabat Italia melaporkan 3.405 kematian, sementara kematian di China masih tercatat 3.248 orang. [uh/ab]

Australia Tutup Perbatasan untuk Cegah Penyebaran Virus Corona

Jumat, 20 Maret 2020 Australia mulai memberlakukan larangan kunjungan orang asing, Jumat (20/3), sebagai bagian dari usaha menghentikan penyebaran virus corona. Langkah serupa juga dilakukan Selandia Baru. Turis-turis internasional bergegas meninggalkan Australia karena mengkhawatirkan kemungkinan pembatalan penerbangan-penerbangan internasional dan penutupan perbatasan-perbatasan. Australia sebelumnya hanya melarang masuk para pendatang yang terbang dari China, Iran, Korea Selatan dan Italia. Namun kini, larangan itu diperluas. PM Scott Morrison mengatakan cakupan yang lebih luas diperlukan untuk melindungi negara dari virus COVID-19. Ia mengatakan, banyak kasus virus corona di Australia berasal dari kunjungan orang asing. Larangan kunjungan yang diberlakukan selama ini, katanya, secara nyata membuahkan hasil sehingga Australia perlu memperluas larangannya ke banyak negara lain. Sejumlah pendatang asing di Australia mengatakan, mereka ingin bergegas pulang ke negaranya. Namun, layanan penerbangan internasional sulit diperoleh, dan sekalipun tersedia harganya mahal, sehingga menyulitkan mereka yang berpergian dengan dana terbatas. Bank Sentral Australia pekan ini memangkas suku bunga hingga titik terendah, 0,25%, dalam usaha dramatis untuk mencegah resesi dalam situasi ekonomi yang memburuk. Para investor yang panik menarik miliaran dolar dana mereka dari pasar saham Australia. [ab/uh]

Wuhan Laporkan Tidak ada Pasien Baru Corona

Kamis, 19 Maret 2020 Kota Wuhan yang menjadi pusat perebakan pandemi virus corona untuk pertama kalinya melaporkan tidak ada pasien baru yang terjangkit virus itu. Dalam laporan Kamis (19/3) disebutkan tidak ada kasus baru pada hari Rabu (18/3). Wuhan telah dua bulan menjalani "lockdown" atau penutupan wilayah untuk sementara, sewaktu pihak berwenang berupaya menghentikan penyebaran virus, dan dalam beberapa pekan belakangan ini jumlah kasus baru di sana telah berkurang. Namun di berbagai tempat lainnya di China, dengan dilaporkannya total 34 kasus pada hari Kamis (19/3) di kalangan orang-orang yang datang dari tempat lain, masih terus muncul kekhawatiran bahwa kasus-kasus impor seperti itu mengancam kemajuan besar yang dicapai negara tersebut. China adalah negara yang paling terpukul oleh virus corona baru sejak kemunculan virus itu pada akhir Desember, dengan sekitar 81 ribu kasus dan 3.200 kematian. Sebagian besar pasien yang sakit kini telah sembuh. Korea Selatan melaporkan 152 kasus baru, Kamis (19/4), suatu kemunduran dari pencapaian belakangan ini di mana hanya kurang dari 100 kasus baru per hari yang dilaporkan selama empat hari berturut-turut. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus itu telah tersebar di 166 negara, dengan lebih dari 208 ribu kasus terkonfirmasi dan 8.600 kematian. Nikaragua dan negara tetangganya, El Salvador, Rabu malam (18/3) melaporkan kasus-kasus pertama mereka. Meksiko, yang telah mengukuhkan 118 kasus, melaporkan kematian pertama di sana Kamis pagi (19/3). Beberapa jam kemudian, Rusia melaporkan kematian pertama di negara itu, seorang perempuan usia 78 tahun yang dites positif terjangkit virus corona. Italia memiliki jumlah pasien terbanyak kedua. Pada hari Rabu melaporkan perkembangan yang mengkhawatirkan, dengan terjadinya 475 kematian baru akibat virus itu, kematian per hari tertinggi di negara manapun sejauh ini. Secara keseluruhan, hampir 3.000 orang telah meninggal di antara sekitar 36 ribu kasus di Italia. Pemerintah Italia adalah salah satu negara yang berupaya membatasi kehidupan publik untuk mencegah masyarakat menyebarkan virus itu di tengah-tengah komunitas mereka atau di bagian-bagian lain negara itu. Panama, Rabu (18/3) mengumumkan jam malam nasional baru yang berlaku dari pukul 9 malam hingga pukul 5 pagi. Hanya polisi, petugas pemadam kebakaran, petugas layanan kesehatan dan petugas kebersihan yang diizinkan keluar pada jam-jam tersebut. Negara itu telah melaporkan 109 kasus sejauh ini. Selandia Baru, Kamis (19/3) melarang masuk orang-orang asing, tidak lama setelah pemerintah menganjurkan warganya agar tidak bepergian ke luar negeri karena risiko tertular virus corona. “Kami tidak akan membiarkan risiko di perbatasan-perbatasan kami,” kata PM Jacinda Ardern pada konferensi pers. Pemerintah menyatakan telah mengidentifikasi delapan kasus baru yang melibatkan orang-orang yang bepergian ke luar negeri. Jumlah pasien virus corona di negara itu kini mencapai 28 orang. Australia, tetangganya, menyatakan juga akan melarang masuk orang-orang yang bukan warga negaranya dan bukan penduduk tetapnya mulai Jumat. PM Scott Morrison menyatakan sebagian besar dari 500 kasus yang terkonfirmasi di Australia berasal dari penularan di luar negeri. [uh/ab]

Anies Larang Warga Muslim Jakarta Salat Jumat Selama 2 PekanĀ 

Kamis, 19 Maret 2020 Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta Anies Baswedan memutuskan melarang warga muslim di Jakarta melaksanakan salat Jumat selama dua pekan. Langkan ini diambil untuk mencegah penularan virus corona. 

Guru Besar Positif Corona, UGM Dorong Warga Periksakan Diri

Kamis, 19 Maret 2020 Guru Besar Universitas Gadjah Mada, ID dinyatakan positif terinfeksi virus corona. ID adalah Profesor Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat (FKKMK) Universitas Gadjah Mada. Kepastian ini disampaikan dalam pertemuan antara pihak UGM, RSUP dr Sardjito dan media di Yogyakarta, Rabu (19/3) petang. Wakil Rektor UGM, Paripurna Poerwoko Sugarda menjelaskan, pihak keluarga sudah membuat pernyataan tertulis bahwa identitas yang bersangkutan disampaikan secara terbuka. Keluarga ingin, dengan keterbukaan ini setiap orang yang bertemu Iwan sebelum ini, agar lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.  “Siapa saja yang mengadakan kontak dengan Prof ID selama tiga minggu sejak sekarang, diminta aware dan kalau bisa memeriksakan diri, apakah mereka ada gejala terinfeksi virus ini atau tidak. Siapapun itu. Untuk yang dari UGM, mereka bisa memeriksakan diri ke Rumah Sakit Akademik, dengan biaya ditanggung oleh UGM,” kata Paripurna. Paripurna mengaku pihak UGM belum memiliki detil siapa saja yang berinteraksi dengan ID. Karena itu, baik kalangan mahasiswa, staf maupun dosen yang bertemu diminta proaktif. Paripurna juga menegaskan, bahwa adanya sejumlah staf di salah satu pusat studi yang terinfeksi, adalah berita bohong. ID mulai masuk ke RSUP dr Sardjito pada Minggu (15/3). Sehari setelah itu, pihak rumah sakit mengirimkan hasil swab pasien ke Balitbangkes, Kementerian Kesehatan. Hasilnya baru diterima hari ini. Mulai Pemeriksaan di Daerah Mulai Rabu ini, hasil pengujian swab pasien terkait virus corona akan bisa diperoleh lebih cepat dari sebelumnya. Kementerian Kesehatan telah menetapkan 10 lembaga di luar Balitbangkes, yang dapat melaksanakan pengujian. Untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, tugas itu akan diampu oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP). Kepala BBTKLPP, Irene dalam paparannya Rabu pagi (18/3) mengatakan, tugas ini mereka terima sesuai keputusan Menteri Kesehatan Nomor 18 tahun 2020. Irene mengaku lembaga yang dipimpinnya siap bertugas, dengan kerja sama penuh dari pemerintah daerah.  “Untuk dapat melakukan pemeriksaan dan memberikan hasil secepat mungkin, sehingga kita bisa memutus rantai penularan. Semakin cepat kita tahu hasilnya positif atau negatif, upaya-upaya dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan semakin cepat diambil, sehingga kita dapat lebih melindungi masyarakat,” kata Irene. Irene menyebut, sampel akan diperiksa melalui metode real-time RT-PCR (Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction). Setiap harinya, BBTKLPP Yogyakarta mampu memeriksa sedikitnya 29 sampel. “Kita tidak membatasi jumlah sampel yang masuk untuk diperiksa. Sepanjang primer atau reagen, yaitu bahan yang digunakan untuk mereaksi sampel tersedia, maka sampel akan tetap diperiksa,” tambah Irene. Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan data 10 lokasi pemeriksaan sampel terkait Virus Corona. BBTKLPP Jakarta melayani DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Lampung dan Kalimantan Barat. BBTKLPP Yogyakarta melayai DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. BBTKLPP Surabaya untuk Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. BTKLPP Banjarbaru untuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Kemudian BTKLPP Medan melayani Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Sumatera Barat. Selain itu, ada juga BTKLPP Palembang untuk Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Bengkulu. BTKLPP Batam melayani Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau. BTKLPP Makassar untuk Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat. BTKLPP Manado melayani Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara. Terakhir adalah BTKLPP Ambon yang melayani Maluku, Papua, dan Papua Barat. Berharap Kasus Terakhir Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyambut baik keputusan Kementerian Kesehatan untuk mendelegasikan kewenangan pemeriksaan sampel ini. Tentu, dengan mengampu dua provinsi saja, BBTKLPP dapat menjalankan tugasnya lebih cepat. Dengan begitu, pemerintah daerah juga memiliki kesempatan lebih dini melakukan tindakan yang diperlukan untuk menindaklanjuti. Meski begitu, Sultan berharap kemudahan ini tidak diikuti kemunculan kasus-kasus positif baru. “Harapan saya, biarpun ada kemudahan akses untuk pemeriksaan ini, semoga harapan kita bersama tidak usah tambahlah dari dua orang yang memang positif. Yang lain masih dalam pengawasan itu. Dari kondisi itu yang sangat penting bagaimana kita bisa memberikan ruang kepada publik, bagaimana mereka menjaga kesehatan,” ucap Sri Sultan. Hingga Rabu (18/3), Yogyakarta telah melakukan pemeriksaan terhadap 31 orang terkait virus corona. Dari jumlah tersebut, 14 orang dinyatakan negatif, 15 orang masih menunggu hasil pemeriksaan, dan dua positif. Dari dua orang yang positif ini, adalah balita berusia tiga tahun dan laki-laki 58 tahun yang merupakan guru besar di UGM. Yogyakarta juga tidak memiliki zona merah hingga pekan ini karena belum ditemukan kasus penularan lokal. Kedua kasus, baik balita maupun guru besar UGM, diduga mengalami penularan di luar daerah. Balita sebelumnya berkunjung ke Depok, Jawa Barat. Sedangkan ID pada awal Maret berada di Jakarta. [ns/lt]

Korban Meninggal Akibat Virus Corona Capai 19 Orang

Rabu, 18 Maret 2020 Pemerintah mencatat jumlah korban meninggal akibat virus corona jenis baru (Covid-19) di berbagai wilayah Indonesia mencapai 19 orang per Rabu (18/3).

Cegah Penyebaran Corona, Kebun Binatang Surabaya Tutup

Selasa, 17 Maret 2020 Kebun Binatang Surabaya memutuskan menutup sementara kunjungan wisatawan, akibat merebaknya virus corona di Indonesia.

Atasi Perebakan Virus Corona, Jutaan Orang di Dunia Didesak Tinggal di Rumah

Selasa, 17 Maret 2020 Perintah pemerintah dalam berbagai tingkatan yang meminta warga untuk tetap tinggal di rumah atau setidaknya menghindari kerumunan orang telah mengubah kehidupan sehari-hari puluhan juta orang di seluruh dunia, sementara pihak berwenang berupaya membuat atau mempertahankan kemajuan dalam mengendalikan wabah virus corona. Korea Selatan memberlakukan pemeriksaan lebih ketat terhadap orang-orang yang datang ke negara itu guna mencegah pengidap dari luar negeri, pada waktu penyebaran virus di negara itu melambat secara signifikan. China melakukan pendekatan yang sama. Negara itu mengumumkan 21 pasien baru yang terkonfirmasi. Semua, kecuali satu, melibatkan orang-orang yang datang dari luar negeri. Kedua negara itu membuat kemajuan sangat cepat dalam beberapa pekan belakangan. Sementara itu berbagai tempat lain di dunia, terutama di Eropa, melesat peringkat globalnya dalam jumlah pasien virus corona. Di Italia terjadi kenaikan total lebih dari 3.000 pasien dalam satu hari saja. Pada hari Selasa, Italia memiliki pasien dalam jumlah tertinggi kedua, hampir dua kali lipat daripada Iran yang berada di peringkat ketiga. Berbagai komunitas di seantero AS memberlakukan beberapa langkah penutupan wilayah atau lockdown yang diandalkan di China, Korea Selatan dan Italia. Sementara itu Gedung Putih mendesak masyarakat untuk menghindari berkumpul dalam kelompok lebih dari 10 orang. Kawasan sekitar kota San Francisco, sekitar 7 juta orang diminta untuk berlindung di dalam rumah saja, dan meninggalkan rumah hanya untuk keperluan paling penting. Di tempat lain, Venezuela menyatakan akan menerapkan karantina nasional untuk berupaya menghentikan penyebaran virus. Sementara itu Finlandia berencana menutup sekolah-sekolah dan universitasnya. PBB memperkirakan lebih dari 500 juta pelajar di seluruh dunia yang tidak bersekolah sekarang ini. Seruan para pejabat kesehatan dunia untuk mencegah warga memadati kawasan-kawasan sibuk telah membuat banyak pemerintah menutup bar, restoran dan bioskop, sementara berbagai liga olahraga menunda pertandingan. India pada hari Selasa menutup Taj Mahal bagi para pengunjung. Juga Selasa, penyelenggara pacuan kuda Kentucky Derby di AS diperkirakan akan mengumumkan bahwa acara tersebut akan diundur ke akhir tahun ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (16/3) menyatakan menyambut baik social distancing atau menjaga jarak sosial sebagai suatu kebutuhan. Tetapi Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan yang lebih penting lagi adalah setiap orang yang diduga terjangkit harus menjalani pemeriksaan. “Jika hasil tes mereka positif, isolasi mereka dan cari tahu siapa saja yang berdekatan dengan mereka hingga dua hari sebelum mereka menunjukkan gejala-gejala terjangkit, dan memeriksa orang-orang itu juga,” kata Tedros. Ada sekitar 180 ribu kasus terkonfirmasi di seluruh dunia, dengan 7.100 orang meninggal karena virus corona. Lebih dari 79 ribu orang telah sembuh. [uh/ab]

Uji Coba VaksinĀ COVID-19 Pertama pada Manusia Dimulai di Seattle

Selasa, 17 Maret 2020 Pejabat kesehatan AS mengatakan percobaan pertama pada manusia untuk menguji vaksin virus corona jenis baru atau COVID-19 telah dimulai, sementara para ilmuwan berlomba untuk menemukan perawatan untuk pandemi ini. Para ilmuwan di Kaiser Permanente Washington Research Institute di Seattle memberikan vaksinasi pertama, Senin(16/3),kepada sekelompok kecil orang sehat. Institut Kesehatan Nasional AS (National Institutes of Health/NIH) mengatakan uji coba itu akan melibatkan 45 relawan dewasa yang sehat dan berusia 18 hingga 55 tahun. Mereka akan diberikan vaksin percobaan selama periode enam minggu. "Ini adalah kesempatan luar biasa bagi saya untuk melakukan sesuatu,"kata Jennifer Haller, salah seorang relawan dalam uji coba dari Seattle, kepada Associated Press.  Haller, yang berusia 43 tahun, mengatakan kedua anaknya yang dalam usia remaja "menanggapi positif" peran sertanya dalam uji coba ini. Vaksin tersebut dikembangkan oleh para ilmuwan di NIH dan perusahaan bioteknologi Moderna, yang berbasis di Cambridge, Massachusetts. Vaksin itu merupakan salah satu studi dari banyak vaksin percobaan yang akan berlangsung di seluruh dunia dalam beberapa bulan mendatang untuk berupaya menemukan cara untuk melindungi orang terhadap COVID-19. Para ilmuwan mengatakan vaksin kemungkinan tidak akan tersedia secara massal hingga 12-18 bulan lagi. Pasalnya, semua vaksin potensial harus melalui beberapa tahap pengujian untuk membuktikan vaksin-vaksin tersebut berhasil dan aman. Meskipun membutuhkan waktu, Anthony Fauci, pimpinan penyakit menular di NIH, dalam sebuah pernyataan Senin mengatakan "Menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi dengan SARS-CoV-2 merupakan prioritas kesehatan masyarakat yang mendesak". [my/pp]

Fenomena Empon-empon dan Virus Corona, Jamu Semakin Naik Daun, Temulawak Jadi Rebutan di AS

Selasa, 17 Maret 2020 Ramuan tradisional empon-empon seketika viral di media sosial sebagai salah satu minuman berkhasiat tinggi yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh, terkait perebakan virus corona. Apa tips sehat kamu untuk menangkal virus corona?

UGM Tetapkan Status Awas, Guru Besar Jalani Pemeriksaan Corona

Senin, 16 Maret 2020 Menyusul pelaksanaan kuliah secara daring mulai Senin, 16 Maret 2020, Rektor UGM mengeluarkan surat edaran tanggap darurat virus corona. Menurut Rektor Panut Mulyono, edaran keluar sebagai respons atas perkembangan penyebaran wabah virus corona di berbagai negara, status pandemik oleh WHO, serta kondisi penyebaran di DIY dan sekitarnya. Kampus itu, kini dalam status awas. “UGM menetapkan status awas dan melakukan tanggap darurat terhadap penanganan virus corona,” kata Panut. Melalui surat itu, Panut meminta civitas UGM tetap tenang dan tidak terpancing kepanikan, meminimalkan aktivitas di luar rumah, serta menghindari kerumunan. Panut juga menegaskan, sampai saat ini belum ada staf, mahasiswa maupun tenaga pendidik UGM yang positif virus corona. Jumlah seluruh keluarga besar UGM, diperkirakan sekitar 50 ribu orang. Sebelumnya, pada 14 Maret, UGM telah menetapkan status kampus menjadi siaga. Status itu hanya bertahan dua hari sebelum kemudian dinaikkan menjadi awas. Dalam perkembangannya, pada Senin sore tersiar kabar seorang guru besar UGM tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Terkait statusnya, sedang dilakukan pemeriksaan di Balitbang Kementerian Kesehatan, apakah terkonfirmasi corona atau tidak. Humas UGM, Iva Ariyani mengakui kabar yang beredar tersebut.   “Benar beliau saat ini sedang sakit dan dirawat di RS Sardjito, namun sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi pasti, beliau sakit apa,” kata Iva. Apakah peningkatan status UGM menjadi awas terkait dugaan sakitnya salah satu guru besar ini? Iva menjawab tidak. Menurutnya, status tanggap darurat lebih didasarkan pada latar belakang aktivitas dan mobilitas sivitas akademika UGM yang sangat tinggi. Selain itu juga karena jumlah mahasiswa, dosen dan karyawan yang sangat besar. “Dan status UGM sebagai kampus terbuka dengan banyak mitra dari berbagai daerah dan negara, maka untuk menjaga sivitas akademika UGM, pimpinan universitas mengambil keputusan tersebut,” kata Iva. Yogya Masih Dalam Kontrol Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam keterangan resmi kepada media hari Senin mengatakan, Pemda terus mengkaji perkembangan yang terjadi. Tidak ada peningkatan status apapun terkait virus corona. “Kami belum bisa menentukan (status) karena tim yang kita bentuk itu tidak hanya aspek kesehatan, tapi juga ada aspek ekonomi, aspek sosial, dan budaya masyarakat. Kami menunggu rekomendasi yang ada,” papar Sultan. Sultan menyebut, konsekuensi yang diterima masyarakat atas peningkatan status terkait virus corona ini harus dipertimbangkan matang. Faktor ekonomi dan mobilitas sosial harus dihitung jika ada penutupan wilayah. Pemda akan mengamati seberapa jauh identifikasi rumah sakit di wilayah ini, antara hasil pemeriksaan yang negatif dan positif.  Sultan berharap, Yogyakarta tidak akan masuk ke kondisi yang dikhawatirkan. Namun, seluruh persiapan tetap harus dilakukan, terutama mempersiapkan masyarakat menghadapi konsekuensi yang harus ditanggung jika kondisi lebih buruk terjadi. “Untuk saat ini, kita belum sampai di sana. Hanya mencoba memisahkan yang sehat tetap sehat, yang sakit bagaimana bisa disembuhkan, gitu aja,” lanjut Sultan.  Sultan berharap, dalam setiap langkah menghadapi penyebaran virus corona ini, masyarakat bisa menjadi subjek, dan bukan hanya objek yang mengikuti arahan pemerintah. Karena itu, dia berharap muncul kesadaran masyarakat pentingnya arti kesehatan. Sultan juga menyinggung keputusan untuk menanggung biaya pemeriksaan bagi Orang Dengan Pengawasan. Hingga saat ini, pasien yang telah terkonfirmasi virus corona, biaya perawatannya ditanggung pemerintah pusat. Namun, sebelum kepastian kasus itu, ada proses pemeriksaan kesehatan yang biayanya cukup mahal. Agar kelompok masyarakat yang diduga berpotensi terjangkit mau diperiksa, Pemda DIY akan menanggung biaya pemeriksaan itu. Di DIY sendiri sampai saat ini hanya ditemukan satu kasus positif virus corona. Pasien adalah bayi laki-laki berusia tiga tahun, yang pernah berkunjung ke Depok, Jawa Barat, bersama keluarganya. Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembayun Setyaning Astutie, memastikan seluruh keluarga pasien telah diperiksa. “Sejak kita mendapatkan informasi bahwa pasien itu positif, maka sudah dilakukan tracing. Karena pasien laki-laki tiga tahun ini berpergian dengan keluarga, maka kita mendatangi rumah, kemudian diidentifikasi, sementara kedua orang tuanya masuk di dalam ruang isolasi,” kata Pembayun.  Kedua orang tua bayi ini saat ini berada dalam ruang isolasi RSUP dr Sardjito Yogyakarta. Pembayun menjelaskan, kondisi kedua orang tua ini relatif baik. Laman resmi Pemerintah DIY terkait pemantauan kasus Virus Corona mencatat, pada 16 Maret sore data yang sudah diperiksa adalah 22 orang. Dari jumlah itu, 12 dinyatakan negatif, sembilan orang masih dalam proses uji laboratorium dan satu positif. [ns/uh]

Sapaan Namaste Khas India Kian Populer

Minggu, 15 Maret 2020 India telah mempopulerkan yoga dan meditasi di banyak bagian dunia. Apakah sapaan khas India, namaste, kan mengglobal setelah beberapa pemimpin dunia melakukannya di tengah pandemi virus corona? Para pejabat kesehatan menganjurkan orang-orang untuk menghindari berjabat tangan untuk mencegah penyebaran virus corona yang mudah menular. Presiden AS Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Pangeran Charles dari Inggris pekan ini melakukan sesuatu yang mirip sapaan khas India, yaitu menyatukan dua telapak tangan di depan dada.    "Namaste," gabungan dari dua kata Sansekerta, artinya "membungkuk kepada Anda" dan tidak ada kontak kulit serta memungkinkan orang-orang menjaga jarak. Macron melakukan itu dan membungkuk sedikit ketika menyapa Raja Felipe dan Ratu Letizia dari Spanyol di Istana Elysee di Paris awal pekan ini.     Duta Besar Prancis untuk New Delhi, Emmanuel Lenain, mencuit, "Presiden Macron memutuskan untuk menyambut semua mitranya dengan namaste, gerakan anggun yang dipelajarinya ketika mengunjungi India pada 2018."   Ketika Trump ditanya oleh para wartawan mengenai bagaimana dia menyambut Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar dalam pertemuan di Washington Kamis (12/13), kedua pemimpin itu menyatukan telapak tangan masing-masing untuk mendemonstrasikannya. "Saya baru pulang dari India. Dan saya tidak berjabat tangan disana, dan sangat mudah karena mereka melakukan seperti ini, dan Jepang seperti ini," kata Trump sambil mendemonstrasikan namaste India dan ojigi Jepang atau membungkuk. Tentu tidak mudah untuk melepas kebiasaan bersalaman, yang dalam diplomasi seringkali dicermati sebagai indikator kehangatan suatu hubungan.    Trump mengatakan "kami saling berpandangan dan bertanya-tanya apa yang akan kami lakukan? Agak kikuk."    "Rasanya seperti bersikap kasar," kata Varadkar. "Tapi kami tidak boleh berpikir seperti itu dalam beberapa minggu ke depan." Di Inggris, Pangeran Charles juga melakukan namaste, bukan berjabat tangan, ketika bertemu para tamu di sebuah acara di London. Sekali lagi, mengganti sebuah kebiasaan, tidak mudah.    Sebuah video memperlihatkannya mengulurkan tangan untuk menyambut Sir Kenneth Olisa, letnan London Raya, lalu menariknya kembali dan melakukan namaste.  "Sulit untuk ingat supaya tidak melakukannya," katanya, menurut laporan.    Pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menganjurkan sapaan khas India kepada negaranya dan mendemonstrasikannya dalam sebuah konferensi pers. Di India, dimana berjabat tangan dan berpelukan kian populer, terutama di kota-kota, Perdana Menteri Narendra Modi memperingatkan akan manfaat dari mempertahankan sapaan tradisional itu.     Dia mengatakan dunia mulai mengikuti kebiasaan itu, dan menganjurkan warga yang telah meninggalkan namaste untuk kembali mempraktikannya. Kebanyakan orang mematuhi anjuran itu di tengah meningkatnya kekhawatiran akan penyebaran virus korona. [vm/ft]