Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Mencegah Upaya Bunuh Diri Oleh Humaira

Kategori : Artikel Jumat, 11 Oktober 2019 - Oleh humas

Oleh Humaira, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah, Dokter Rumah Sakit Jiwa Aceh

Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyebutkan bahwa prevalensi gangguan jiwa kronis (skizofrenia) Aceh adalah 9 per mil. Ini berarti dari 1.000 penduduk Aceh, terdapat sembilan orang yang mengalami penyakit skizofrenia.

Prevalensi gangguan jiwa kronis Aceh lebih tinggi dari rata-rata nasional yaitu, 7 per mil. Jika diurutkan per provinsi, Aceh  berada di peringkat empat secara nasional. Bila dibandingkan dengan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa ini di Aceh dan Indonesia meningkat tajam masing-masing sebesar 6 dan 5,3 poin, dari angka 3 per mil dan 1,7 per mil. 

Individu dengan penyakit skizofrenia juga mempunyai kecenderungan memiliki ide-ide bunuh diri. Menurut ahli, para penderita skizofrenia memiliki resiko yang lebih tinggi untuk melakukan usaha bunuh diri, yaitu sebanyak delapan kali lipat dibandingkan orang lain yang tidak menderita skizofrenia. Pencegahan bunuh diri pada seorang penderita skizofrenia lebih sulit dilakukan karena tindakan dan perilaku penderita skizofrenia sulit ditebak dan impulsif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan kasus bunuh diri di dunia mecapai 800.000 orang per tahun. Artinya, setiap 40 detik terdapat satu kasus orang meninggal karena bunuh diri. Berkenaan dengan kenyataan tersebut, WHO mencanangkan tema "Working together to Prevent Suicide, a day for 40 second of action" (bekerja bersama mencegah bunuh diri, sehari beraksi nyata selama 40 detik) dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober setiap tahun.

Bonus demografi

Akhir Agustus yang lalu kita dikejutkan dengan berita di media massa yaitu seorang mahasiswi Aceh, berusia muda dan produktif, diduga meninggal akibat bunuh diri di Krueng Barona Jaya. Hal ini tentu membuat kita prihatin. Masalah yang dihadapi dunia ternyata juga dihadapi oleh nanggroe kita.

Hal yang sama terjadi di tingkat nasional. The Indonesian National Representatif of International Association for Suicide Prevention (IASP) menyebutkan sejak tahun 2003 Indonesia sudah berada di zona merah dalam hal kerentanan terhadap upaya bunuh diri. Angka kejadian bunuh diri di Indonesia tahun 2018 adalah sembilan orang per 100.000 penduduk, dengan usia rentan bunuh diri berkisar 15-29 tahun.

Penduduk usia muda saat ini menghadapi banyak tantangan atau perubahan seperti perkembangan teknologi internet, pornografi, narkoba, dan perilaku yang beresiko lainnya. Keterpaparan terhadap hal-hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan dan ketahanan mental Selain itu, sumber-sumber stres yang tidak segera ditangani menyebabkan timbulnya stressor yang dapat menyebabkan depresi.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan struktur usia penduduk Indonesia pada kurun 2010-2035 kategori usia muda adalah 25,2% dari total populasi. Artinya satu dari empat orang penduduk Indonesia adalah berusia muda.

Bahkan, proporsi penduduk usia muda di Aceh menunjukkan angka yang lebih tinggi, yaitu sebesar 27,2%. Karena itu, sangatlah penting untuk menjaga generasi muda kita untuk terhindar dari gangguan jiwa dan bunuh diri, apabila bonus demografi ingin diraih.

Prevalensi gangguan jiwa

Pemerintah Aceh perlu menempatkan kesehatan jiwa sebagai salah satu isu utama dalam peningkatan kualitas manusia. WHO telah mempunyai kerangka rencana aksi tentang peningkatan kesehatan jiwa yang dapat diadopsi oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. Kerangka ini menitikberatkan pada empat area intervensi.

Pertama, penguatan kepemimpinan dan tata kelola kesehatan jiwa. Penguatan ini akan efektif jika ada keterlibatan multipihak yang meliputi lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi orang dengan masalah kejiwaan, organisasi profesi, dan keluarga.

Pemerintah perlu memikirkan suatu sistem penanggulangan efek negatif dari depresi maupun skizofrenia misalnya dengan menyediakan call center atau hotline service 24 jam di dinas kesehatan baik provinsi maupun kabupaten/kota dan rumah sakit untuk melayani konsultasi masyarakat yang sedang mengalami masalah kejiwaan, berbagai stressor atau tekanan.

Kedua, menyediakan layanan kesehatan jiwa yang responsif, komprehensif dan terpadu serta relevan dengan konteks masyarakat. Layanan kesehatan jiwa harus ada sejak dari pusat layanan kesehatan di tingkat kecamatan, bahkan gampong. Ketersediaan layanan ini akan menyebabkan gejala gangguan jiwa cepat terdeteksi sehingga upaya pemulihan dapat dilakukan lebih efektif.

Ketiga, melaksanakan strategi promosi dan pencegahan dalam kesehatan jiwa. Pendekatan ini mengharuskan bahwa kebijakan dan program kesehatan mental tidak hanya ditujukan kepada pasien yang telah di diagnosa mengalami gangguan jiwa, tetapi juga diprioritaskan untuk mencegah masyarakat mengalami gangguan tersebut.

Program promosi kesehatan mental di antaranya dengan pola asuh anak (parenting) yang baik, mengurangi stressor, menyediakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan jiwa anak dan remaja.

Mengenali secara dini tanda-tanda depresi adalah salah satu cara untuk mencegah tindakan bunuh diri. Di antara tanda-tanda depresi yang dapat berujung bunuh diri adalah sering membicarakan tentang keputusasaan dan kematian, menyakiti diri sendiri, mengancam ingin bunuh diri, menyimpan obat-obatan yang bisa disalahgunakan, sering marah secara tiba-tiba, menarik diri dari orang-orang di sekitarnya, sering terlihat cemas, dan mengalami kesulitan tidur.

Keempat, WHO menekankan perlu penguatan sistem informasi dan penelitian terkait kesehatan mental. Informasi dan temuan penelitian merupakan bahan dasar bagi perumusan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan yang tepat.

Keempat kerangka kerja di atas mensyaratkan peran berbagai pihak  dalam upaya mengenali dan mencegah gangguan kesehatan jiwa yang dapat berdampak pada tindakan bunuh diri. Termasuk anak muda, keluarga, guru, masyarakat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama memiliki peran yang sangat penting.

Sehingga jika menemukan teman atau saudara yang mengalami masalah dan tanda-tanda gangguan jiwa, maka dapat merespons secara baik, misalnya dengan menjadi pendengar yang baik. Orang yang sedang memiliki masalah berat, cenderung tidak dapat berpikir rasional.

Keterlibatan seluruh pihak baik itu pemerintah, penyedia layanan kesehatan, keluarga, masyarakat merupakan prasyarat bagi keberhasilan penguatan ketahanan mental masyarakat. Jika hal ini dapat terlaksana secara baik diyakini akan melahirkan masyarakat yang kuat, produktif, dan harmonis menuju Indonesia maju Aceh sejahtera. Insya Allah. Wallahu a'alam bishawab.

 

comments powered by Disqus