Selamat Datang Di Situs Resmi Rumah Sakit Jiwa Aceh

Lonjakan Kasus Covid: Efek Peltzman atau Pandemic Fatigue by dr. Humaira

Kategori : Artikel Selasa, 08 Juni 2021 - Oleh humas

Oleh
Humaira
ASN pada Rumah Sakit Jiwa Aceh
Email : humairaadjalil79@gmail.com


Dalam satu bulan terakhir kita kembali mengalami peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, termasuk di Aceh. Angka harian Indonesia lebih dari 4000, bahkan pernah mencapai 5000 kasus. Padahal beberapa bulan sebelumnya kita sedikit lega karena grafik kasus cenderung melandai. Disamping itu program vaksinasi Covid-19 yang sudah berjalan sejak pertengahan Februari 2021 dengan sasaran awalnya atau tahap pertama adalah tenaga kesehatan. Kemudian diikuti untuk kelompok usia lanjut (lansia) dan petugas pelayanan publik. Harapan besar dari pelaksanaan vaksinasi ini adalah terjadi penurunan kasus Covid-19 dan pengurangan angka kematian.

Data dari Kementerian Kesehatan bahwa cakupan pada bulan April 2021 baru berkisar 15,1 juta dosis . Tetapi sayangnya cakupan vaksinasi lansia masih rendah yakni sekitar 2 juta jiwa, lebih rendah jika dibandingkan cakupan vaksinasi petugas publik yang mencapai 6,5 juta jiwa. Percepatan program vaksinasi sedang gencar- gencarnya disuarakan supaya memudahkan terwujudnya herd immunity di tengah masyarakat. Para ahli berpendapat bahwa herd imunity akan tercapai jika 50 sampai 80 persen populasi sudah divaksinasi.

Saat ini harapan tersebut masih jauh dari kenyataan. Kasus Covid-19 kembali merangkak naik secara tajam. Banyak faktor dapat menyebabkan hal tersebut, diantaranya adalah masyarakat mulai lelah dengan pandemi sehingga melonggarkan protokol kesehatan. maraknya kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti reuni, kenduri dan wisuda anak sekolah, keengganan masyarakat untuk melakukan vaksinasi serta adanya efek Peltzman.

Teori Peltzman sebenarnya teori di bidang ekonomi mikro. Pada tahun 1988 Peltzman mengungkapkan sebuah teori yang menyatakan bahwa orang lebih cenderung melakukan perilaku berisiko ketika tindakan pengamanan telah dilakukan. Persepsi keamanan ini kemudian meningkatkan Risk Appetite, atau kecenderungan untuk mengambil resiko setelah merasa diri aman. Hal ini nampaknya sesuai dengan kondisi sekarang yaitu masyarakat yang sudah menerima vaksinasi cenderung merasa diri lebih aman dan kebal dari infeksi sehingga mulai melonggarkan protokol kesehatan. Padahal protokol kesehatan dengan 6 M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, menunda perjalanan serta menjaga pola makan sehat dan istirahat yang cukup , belum boleh ditinggalkan.

Persepsi tentang rasa aman dan kebal tersebut tentunya sangat berbahaya terutama bagi para tenaga kesehatan karena dapat membuat diri mereka sendiri dan orang lain di sekitarnya berisiko terkena Covid-19. Seseorang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 masih bisa terkena dan menularkannya ke orang lain. Centre for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebutkan 0,7 sampai 0,8 % orang yang sudah mendapat vaksin dosis lengkap masih dapat terinfeksi. Hal ini dapat terjadi karena beberapa kemungkinan, seperti vaksin tidak bisa membentuk kekebalan terhadap semua strain, terjadinya mutasi virus, dan variasi imunitas yang terbentuk pasca vaksin.

Pandemic Fatigue
Idul Fitri tahun ini merupakan Idul Fitri kedua di masa pandemi. Artinya, sudah setahun lebih kita hidup berdampingan dengan covid-19. Selama ini berbagai macam protokol kesehatan yang melawan kodrat manusia sebagai makhluk sosial telah dilakukan, misalnya menghindari bersalaman, tidak mengadakan serta menghadiri kenduri. Menjaga jarak dengan lawan bicara dan cuci tangan berulang-ulang pasti menyebabkan kebosanan dan stres. Beberapa hal inilah yang kemudian membuat masyarakat berada pada posisi lelah dengan pandemi yang populer dengan nama Pandemic Fatigue.

Pandemic Fatigue sebenarnya merupakan respons yang normal dan natural serta dapat terjadi pada siapa saja. Sangat wajar jika kemudian sesorang mulai merasakan kondisi lelah baik secara mental dan fisik karena banyaknya aktivitas yang sebelumnya bisa dilakukan secara normal kini harus dibatasi dan dilakukan dari rumah. Ada beberapa tips untuk mencegah seseorang jatuh ke dalam situasi pandemic fatigue diantaranya dengan menanamkan pemahaman bahwa penerapan protokol kesehatan pasti memiliki manfaat, memperhatikan kesehatan fisik dengan menjaga pola tidur, menjaga pola makan serta olahraga. Apabila mulai muncul gejala kelelahan seperti lebih sensitif dan emosi tidak stabil tanpa sebab yang jelas maka usaha pertama yang harus dilakukan adalah istirahat yang cukup dengan kualitas tidur yang bagus.

Apabila dilihat dari segi jumlah pemberitaan tentang Covid di media massa cenderung mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Dampak positifnya adalah mengurangi tingkat stress masyarakat yang dapat menurunkan imunitas tubuh, apalagi jika berita yang tidak jelas sumber datanya alias hoaks. Namun hal ini juga memunculkan dampak negatif berupa menurunnya tingkat kesiap-siagaan atau perhatian masyarakat terhadap Covid ini. Bahkan ada anggapan kondisi saat ini sudah normal kembali dan pandemi sudah tamat.

Pendapat-pendapat diatas bahwa pandemi sudah berjalan lebih setahun, update berita kasus covid-19 jarang terdengar, vaksinasi mulai dilaksanakan di mana-mana, memunculkan anggapan bahwa Indonesia sudah aman tentunya bisa membuat masyarakat lalai terhadap penerapan protokol kesehatan, program vaksinasi menjadi gagal serta terjadinya lonjakan kembali kasus Covid-19.

Keadaan diatas sudah terjadi di India dimana kasus Covid melambung bahkan melebihi kasus tahun lalu. Bahkan ahli menyebut kasus India adalah gelombang tsunami kesehatan. Fasilitas kesehatan tumbang karena kapasitas tidak sebanding dengan jumlah pasien yang masuk. Kita tidak mengharapkan keadaan seperti itu terjadi di Indonesia terutama Aceh. Maka marilah kita mengambil hikmah dari kasus India maupun kasus Covid Indonesia yang sudah berjalan selama setahun. Jangan sampai menyebabkan paradoks dimana dulu ketika jumlah kasus masih rendah, kewaspadaan masyarakat sangat tinggi. Sekarang, saat jumlah kasusnya tinggi, kewaspadaannya menjadi rendah.

Seyogyanya kita memanfaatkan momen Ramadhan yang sudah kita lalui beberapa saat yang lalu sebagai momen perubahan perilaku dan pembiasaan diri. Perilaku seorang Muslim seperti yang dicontohkan Rasulullah adalah perilaku yang positif. Saling menjaga antar sesama manusia dengan selalu memakai masker dan mencuci tangan. Hal ini merupakan bagian dari ikhtiar kita sebagai manusia. Setelah itu mari kita terus berdoa dan menggantungkan harapan kepada Allah SWT. Semoga Allah melimpahkan Rahmat Nya dan melindungi kita semua dari segala musibah dan bencana serta kehidupan bisa kembali normal seperti sediakala.

 

comments powered by Disqus